Registrasi
 
Tentang kami
 
Hubungi kami
 
advance search
 
 
 
 
 
 
  Home
  Berita buku
  Forum diskusi
  Profil pengarang
  Kelas baca
  Agenda
  Ruang Baca
  Edisi November 2009
 




 
  Jumat | 24 | 05 | 2013 | 23:16
Forum Diskusi Topik bulan ini | Buku bulan ini | Kantong ide | Resensi anda

Suatu Masa, Penolakan

Bukan pisau guilotin yang memenggal riwayat hidup sebuah naskah buku.

Mari mengenang George Orwell dan Animal Farm, satu dari dua novelnya yang paling populer.

Suatu kali penulis kiri bernama asli Eric Blair itu ikut bertempur dalam perang saudara di Spanyol. Ia bergabung dengan satuan yang di antara anggotanya adalah Leon Trotsky, tokoh penting pada masa awal Uni Soviet. Ketika Trotsky belakangan dinyatakan sebagai musuh negara, seketika memori Orwell menggeledah semua catatan dan foto. Ia sadar betapa banyak temannya yang dipenjarakan dan dihilangkan tanpa jejak. Peristiwa-peristiwa ini, juga hasil-hasil pengamatan lainnya, terefleksikan dalam fabel karangannya yang terbit pada 1946 itu, yang di sini pernah diterjemakan oleh Mahbub Djunaidi dengan judul Binatangisme.

Tersebutlah sebuah tanah pertanian bernama Manor Farm. Orwell mengisahkan pemberontakan satwa di pertanian ini terhadap pemiliknya yang jahat dan pemabok, Jones. Dipimpin oleh dua babi bernama Napoleon dan Snowball, mereka mengusir Jones, mengambil alih pertanian dan menjalankannya tanpa campur tangan dari luar hanya untuk satwa di seluruh Inggris. Semua bekerja sesuai kemampuan masing-masing. Mereka punya lagu revolusioner sendiri, bernada antara Clementine dan La Cucaracha, berjudul Beast of England:

Beasts of England, beasts of Ireland,
Beasts of every land and clime,
Hearken to my joyful tidings
Of the golden future time...

Riches more than mind can picture,
Wheat and barley, oats and hay,
Clover, beans, and mangel-wurzels
Shall be ours upon the day...


Setahun dua tahun kemudian masalah timbul: ada perpecahan di tingkat pemimpin, yang lalu meletupkan bentrokan keras di antara dua pemimpin paling vokal, Napoleon dan Snowball. Jargon persamaan di antara semua satwa menjadi tak jelas begitu satwa yang berkuasa menganugerahi diri mereka sendiri privilese baru. Akhirnya, sistem eksploitasi baru pun muncul.

Bahkan pembaca paling awam pun akan menangkap, setelah beberapa halaman, bahwa pengalaman dalam Animal Farm adalah cermin pengalaman rakyat Rusia selama masa revolusi dan kelanjutannya -- sebuah satir politik yang menghunjam.

Membaca draf novel itu penerbit-penerbit di Inggris dan Amerika Serikat menolak untuk mencetak dan mempublikasikannya. Jumlah seluruhnya lebih dari selusin. Di Inggris bahkan T.S. Elliot, pahlawan Orwell di bidang sastra, termasuk yang tak memberi lampu hijau, mewakili Faber and Faber. Kata Elliot, "Babi-babi Anda jauh lebih cerdas ketimbang binatang-binatang yang lain, dan karenanya menjadi yang paling layak menjalankan pertanian -- dalam kenyataannya, tak mungkin ada Animal Farm sama sekali tanpa mereka: jadi yang diperlukan bukanlah komunisme tapi babi-babi yang bersemangat publik." Satu di antara penerbit di Amerika mengatakan kepada Orwell bahwa "mustahil menjual cerita tentang binatang di Amerika".

Semuanya terbukti keliru. Buku itu akhirnya terbit juga di Inggris, sepekan setelah pengeboman di Hiroshima. Dan sukses. Orwell tiba-tiba menjadi terkenal. Ia juga memperoleh pendapatan berlipat, yang memungkinkannya membeli rumah di Inner Hebrides, Pulau Jura, Skotlandia. Di sinilah ia tinggal dan bekerja sepanjang hidupnya.

***

Dalam banyak kasus, penolakan penerbit memang bukan pisau guilotin yang memenggal bahkan sejak dini riwayat hidup sebuah naskah. Penolakan pun sesungguhnya adalah hal biasa bagi penulis. Tapi sulit ditutupi bahwa sangat sering pertimbangannya, alasan untuk menolak itu, yang tak sepenuhnya benar, atau bukan sikap yang benar-benar diyakini.

Orwell membentur tembok serupa itu ketika menjajakan naskah Animal Farm. Banyak dari penerbit-penerbit yang dia kontak, dalam suasana Perang Dunia Kedua, yang semata khawatir menyinggung sekutu penting dalam melawan fasisme, yakni Uni Soviet. Dengan kata lain, alasan sebenarnya adalah politis. Orwell sudah memprotesnya: "Jika kebebasan berarti apa saja, itu artinya hak untuk memberitahu orang apa yang mereka tak ingin dengar."

Bukan rahasia bahwa pemerintah Inggris menyarankan kepada penerbit-penerbit agar menolak naskah Orwell. Uni Soviet ketika itu memang bersekutu dengan Inggris, dan pemerintah Inggris -- "Kementerian Informasi" -- telah mengingatkan bahwa personifikasi kelompok yang dominan di negara itu sebagai babi bisa menyinggung pemerintah Uni Soviet. Padahal buku Orwell itu adalah serangan terbuka terhadap ideologi rezim totalitarian yang salah kaprah -- dan itu adalah Uni Soviet.

Dalam keadaan putus asa, Orwell sempat berpikir untuk menerbitkan sendiri bukunya. Tapi pada saat-saat terakhir naskahnya diambil Harcourt Brace & Company dan dirilis pada saat perang usai, 1946.

Penerbit nekat semacam itu pula yang membuat naskah Lolita, karya Vladimir Nabokov, akhirnya sampai ke publik pada 1955. Waktu itu Nabokov juga sudah putus asa karena tak satu penerbit pun berani mengambil risiko.

Nabokov tahu bahwa novel yang idenya sudah terbentuk sejak akhir 1930-an itu bakal kontroversial. Ketika pada akhirnya dia rampung menuliskannya, 20-an tahun kemudian, dia tak sungkan-sungkan menyertakan surat khusus bagi penerbit. Sepucuk surat kepada New Directions, bertanggal 3 Februari 1954, berisi kalimat berikut ini:

"Apakah Anda tertarik menerbitkan sebuah bom waktu yang baru saja saya rampungkan pembuatannya? Ini novel 459 halaman."

New Directions menolak, begitu pula banyak penerbit yang lain. Satu surat penolakan menyatakan bahwa novel itu "luar biasa memusingkan, bahkan bagi seorang Freudian yang tercerahkan... semuanya adalah persilangan yang tak pasti antara realitas tersembunyi dan fantasi yang mustahil... saya merekomendasikan agar (buku) itu dikubur di bawah batu selama seribu tahun".

Mereka tak bisa disalahkan, meski semata menimbang dari sisi "bom waktu"-nya itu. Berlatar Amerika Serikat pada masa pasca-Perang Dunia II, Lolita adalah sebuah tur lewat obsesi-obsesi liar pria setengah baya dan hubungan intimnya dengan anak tirinya yang berusia 12 tahun. Sebagian orang menyebutnya sebagai karya "pornografi" dan inilah alasan sebenarnya dari penolakan penerbit -- sesuatu yang habis-habisan ditolak oleh Nobokov.

Namun tak bisa dibantah banyak yang memuji novel itu. Mereka ini mendapati kenyataan bahwa Nobokov sesungguhnya memotret Amerika dengan cara pelik untuk menyampaikan masalah-masalah cinta, generasi muda, moral, dan nilai-nilai. Bahkan, "Dia (Nabokov) pernah bilang, 'Lolita adalah kisah cintanya dengan bahasa Inggris," kata Jeff Edmunds, editor Zembla, situs web tentang Nabokov, kepada CNN.

Sangat mungkin setiap melihat dengan sudut pandang masing-masing, yang saling berbeda. Yang pasti, novel itu diakui sebagai satu di antara novel-novel terbesar sepanjang masa. Dan yang jelas pula, karenanyalah kehidupan Nabokov berubah: dia memperoleh penghasilan yang cukup untuk melakukan apa saja yang disukainya (termasuk mengoleksi kupu-kupu) dan dia juga menjadi dipandang lebih terhormat oleh kritikus.

***

Kini dipuji sebagai satu masterpiece dalam kesusastraan Amerika Serikat, Moby Dick karya Herman Melville pun sempat kesulitan memperoleh penerbit. Setelah dirilis respons yang ada juga tak seketika gegap-gempita; Melville sendiri bahkan hidup dalam keadaan sulit sebagai penulis.

Mengikuti perburuan ikan paus lewat penglihatan Ishmael, sang narator, novel itu menyinggung banyak masalah yang mendominasi lanskap pemikiran di Amerika pada abad ke-19. Hubungan antara daratan dan laut menggaungkan konflik antara petualangan dan kemapanan, antara pejelajah dan penduduk kota. Obsesi berlebihan Kapten Ahab -- sebuah monomania yang tragis -- terhadap paus buruannya adalah komentar tak langsung terhadap perasaan galau yang menyergap masyarakat Amerika pada pertengahan abad ke-19.

Namun bukan bermacam kritik itu yang menyebabkan tanggapan publik terasa seret, tapi justru sisi teknisnya, sesuatu yang baru pada masa itu. Melville banyak menggunakan simbol, membungkusnya secara ketat dengan pemikiran-pemikiran filosofis, dan mencampuradukkannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih menggoda rasa ingin tahu. Kerap terjadi ketika narasi sudah membentuk ketegangan, Melville tiba-tiba mengalihkan konsentrasi pembaca ke hal-hal yang remeh. Banyak kalangan yang minatnya padam begitu membentur hal-hal yang dianggap melanggar prinsip-prinsip dasar bercerita ini.

Siapa pun tahu selebihnya adalah sejarah. Popularitas Moby Dick tak bisa dibendung. Banyak orang malah yang mengaku menemukan kembali hal-hal baru setiap kali membacanya. "Jelas ada daya magis di dalamnya," kata Anne Brengle, kurator The Whaling Museum di New Bedford, Amerika Serikat, yang dua tahun lalu menyelenggarakan acara membaca Moby Dick secara maraton hingga tamat.

***

Orwell, Nabokov, dan Melville hanya sedikit saja dari banyak penulis yang mengalami hal yang sama. Selain mereka masih ada, misalnya, Joseph Heller, Oscar Wilde, D.H. Lawrence, Henry James, Leo Tolstoy, J.G. Ballard, John le Carre, bahkan Sthepen King dan J.K. Rowlings. Dalam artikelnya di Smink Works Books (www.sminkworks.com) Katherine Wilson, editor majalah sastra dan budaya terbitan Australia Overland, menulis bahwa penolakan adalah "bagian standar menjadi penulis".

Penerbit mengklaim bahwa penolakan mereka tak selalu berdasarkan pertimbangan teknis dan nilai-nilai. Bisa saja mereka sebenarnya menyukai naskah yang disodorkan penulis. Tapi mereka tak bisa menerbitkannya karena sudah terikat komitmen lain atau skedul penerbitan yang sudah ketat, kekurangan dana, atau hambatan-hambatan operasional lainnya.

Dalam banyak hal keberuntungan pada akhirnya ikut berperan: penulis bisa mendapatkan penerbit sebelum memilih merilis sendiri bukunya.

pur


Mereka Pernah Ditolak

Moby Dick Herman Melville, 1851
Lady Windermere’s Fan Oscar Wilde, 1892
Lady Chatterley's Lover D.H. Lawrence, 1928
Animal Farm George Orwell, 1946 47
The Diary of a Young Girl Anne Frank, 1947
Lord of the Flies William Golding, 1954
Lolita Vladimir Nabokov, 1955
Catch–22 Joseph Heller, 1961
The Spy who Came in from the ColdJohn le Carré, 1963
Crash J.G. Ballard, 1973
Carrie Stephen King, 1974


Kirim komentar | Baca komentar | Arsip
 
  Copyright Tempo 2005 busana muslim