Pada Matahari Tolkien Percaya
Dalam kepungan gelap sekalipun selalu ada terang. John Ronald Reuel Tolkien mempercayainya. Karena itu, lewat Samwise Gamgee, saat hobbit ini hendak menyongsong marabahaya di Tangga Cirith Ungol, dia menulis kata-kata ini di bukunya, The Lord of the Rings (Buku 6, Bab 1):
Above all shadows rides the Sun...
Sebagian dari kita mungkin membaca buku itu. Tapi banyak yang sangat boleh jadi menonton bagaimana terang itu akhirnya menghalau kegelapan dan menyelamatkan semesta dan penghuninya dari kejahatan abadi dalam film garapan sutradara asal Selandia Baru, Peter Jackson. Film inilah, tiga bagian selama tiga tahun berturut-turut, yang membuat kita jadi seperti dipaksa memperbarui atau menyegarkan kembali ensiklopedia di dalam kepala. Dorongannya begitu kuat. Deretan entri baru harus ditambahkan atau dihidupkan lagi, di antaranya Middle-earth, hobbit, elves, dwarves, Gollum, orc, troll... balrog. Tak ketinggalan, tentu saja, Tolkien sendiri.
Dari semua entri itu, Tolkien semestinya memang yang paling menonjol. Penulis kelahiran Bloemfontein, Afrika Selatan, pada 3 Januari 1892 ini lebih besar daripada semua karyanya. Penjelasan yang berkaitan dengan dirinya pastilah lebih panjang. Di situ bahkan perlu ada semacam perayaan. Bagaimana tidak, pengaruh dunia fantasi ciptaannya itu boleh dibilang mencengkeram sepanjang masa.
Ada bermacam pengakuan terhadap pengaruh Tolkien, terang-terangan maupun tidak. Orang bisa mengadopsi dan mengembangkan ide-idenya dalam berbagai karya fantasi yang diterbitkan pada masa sesudahnya. Orang bisa pula memuji tanpa pernah habis setiap kali membicarakannya atau membahas perkembangan genre fantasi epik. Tolkien, kata Aaron Belz, yang menulis di Chritianity Today International, adalah "pendiri genre baru -- fantasi epik" (baca... soal perkembangan epic fantasy).
Wujud penghormatan yang lain adalah peristiwa yang berlangsung sepanjang tahun ini: perayaan 50 tahun terbitnya The Lord of the Rings. Banyak agenda. Edisi khusus buku yang aslinya terdiri atas tiga volume dan enam jilid ini sengaja diterbitkan. Ada rilis bermacam item yang berkaitan dengan karya Tolkien, di antaranya perangko. Ada pula kegiatan-kegiatan off-print, yang melibatkan sejumlah toko buku, terutama di Inggris dan di Amerika Serikat. Di New York, pada 19 Maret nanti, misalnya, The New York Tolkien Society and Marymount Manhattan College menjadwalkan rangkaian acara ceramah, diskusi, pembacaan karya-karya Tolkien, dan penampilan grup musik yang terinspirasi Tolkien.
"Tolkien perlu dirayakan, karena dia dan tulisan-tulisannya adalah perayaan semangat, imajinasi, dan kecerdasan spiritual manusia," kata Michael Coren, penulis Tolkien: The Man Who Created Middle-earth.
Tulisan-tulisan yang dimaksud itu sesungguhnya lebih terpusat pada buku-buku yang mengisahkan petualangan-petualangan di Middle-earth. Lebih khusus lagi, ya, The Lord of the Rings, yang berdasarkan jajak pendapat di Inggris disebut sebagai buku terbesar abad ke-20 -- diperkirakan terjual hingga 150 juta kopi di seluruh dunia. Buku-buku lainnya, yang kebanyakan adalah dongeng muram tanpa Hobbit dan disajikan dengan diksi yang "tinggi", "Jelas sulit untuk disukai," kata Sandra Miesel, yang menulis di Crisis Magazine.
Buku fiksi pertama Tolkien, The Hobbit, terbit pada 1937, dan seketika mengubah lanskap cerita fantasi yang sudah ada sebelumnya. Penciptaan Middle-earth beserta para penghuninya berdasarkan mitologi yang hidup ketika itu seolah-olah menjadi bahan siap pakai bagi para penulis sesudahnya. Tapi The Lord of the Rings-lah yang memastikan bahwa Tolkien, dalam kata-kata George R.R. Martin, penulis cerita fantasi yang ikut mengembangkan serial televisi Beauty and the Beast, telah mewujudkan "sebuah semesta sekunder yang benar-benar disadari, sebuah dunia utuh dengan geografinya, sejarahnya, dan legendanya sendiri, sepenuhnya lepas dari dunia kita, tapi rasanya seperti nyata".
Semesta sekunder itu, menurut Tolkien, sama sekali bukan seperti yang disangka kebanyakan orang, bahwa Middle-earth adalah semacam bumi atau planet lain. Middle-earth, katanya, adalah "sebuah kata kuno untuk dunia yang kita tempati". Middle-earth itu bumi "pada tataran imajinasi yang berbeda".
Melalui satu suratnya, yang terdapat dalam The Letters of J.R.R. Tolkien hasil suntingan Humphrey Carpenter, Tolkien menjelaskan bahwa istilah Middle-earth sudah ada di dalam bahasa Inggris kuno, yakni middangeard, midden-erd, atau Midgard. Ada padanannya dalam bahasa Latin: Mediterranean (dari medi, tengah, dan terra, bumi). Semua istilah ini merujuk bukan saja pada pengertian dunia fisik (lawan dari dunia "lain"), tapi juga dunia ini, tempat manusia tinggal.
Dalam rekaan Tolkien, Middle-earth adalah bumi pada periode 6.000 hingga 7.000 tahun silam. Inilah dunia yang digambarkan dalam buku-buku The Hobbit, The Lord of the Rings, dan The Silmarillion (yang diterbitkan pada 1977, empat tahun setelah Tolkien meninggal). Meski beda zaman, lokasi kejadian-kejadian di tiga buku ini adalah bagian barat daya dari Middle-earth, yang disebut Eropa pada masa modern.
Sejumlah ras dan spesies tinggal di Middle-earth, dengan asal-usul, bahasa, dan budaya masing-masing. Mula-mula adalah ainur, makhluk suci (malaikat) yang diciptakan oleh Iluvatar (Tuhan). Ainur ikut membantu Iluvatar menciptakan Arda (bumi). Kelak sebagian dari ainur tinggal di Arda, yang terbaik disebut valar (Morgoth atau Melkor, representasi kejahatan di Middle-earth, satu di antaranya), yang lebih rendah disebut maiar (manusia menyebut mereka penyihir; Gandalf dan Saruman, yang muncul di The Lord of the Rings, termasuk di antaranya). Selain itu, ada maiar jahat, antara lain balrog dan Sauron, Sang Penguasa Kegelapan.
Manusia dan elves adalah "anak-anak" Iluvatar, yang diciptakan sendiri oleh Iluvatar. Hobbit, pencerita sekaligus pemeran utama baik dalam The Hobbit maupun The Lord of the Rings, dideskripsikan sebagai keturunan manusia -- meskipun tak pernah bisa diketahui bagaimana secara genealogi mereka bertautan.
Posisi istimewa ada pada dwarves. Makhluk mirip manusia bertubuh pendek ini bukan ciptaan Iluvatar, tapi hasil kreasi valar bernama Aule, yang kemudian mempersembahkan ciptaannya kepada Iluvatar. Iluvatar menerima persembahan ini, lalu memberinya kehidupan dan kehendak bebas. Untuk mengimbangi dwarves, Iluvatar menciptakan ent, penjaga pepohonan.
Penghuni-penghuni yang lain di antaranya adalah orc dan troll, makhluk jahat hasil rekayasa Morgoth; mereka bukan kreasi orisinal, tapi "tiruan" elves dan ent. Asal-usul mereka tak jelas; setidaknya beberapa di antara mereka dihidupkan dari manusia dan elves yang cacat. Selain mereka, ada pula bermacam satwa -- di antaranya adalah wujud lain maiar, atau keturunan maiar.
Semua hal itu memang berskala besar dan menunjukkan betapa Tolkien berada dalam posisi sekaligus seperti Sang Pencipta. Tolkien sendiri mulanya tak pernah berniat untuk melakukannya. Setelah The Hobbit, ia baru mulai mereka-reka cerita lain yang juga tentang hobbit karena desakan penerbitnya. "Saya mulai menulis... pada 1930-an," kata Tolkien. Proses penulisan cerita baru ini berlangsung lamban; Tolkien ingin segalanya sempurna. Dari surat-suratnya, Tolkien memang melihat pekerjaannya sebagai sebuah sub-penciptaan dan dirinya sebagai sub-pencipta -- dia percaya bahwa memang tugasnyalah untuk menciptakan cerita.
Gagasan bagi fantasi besar itu, khususnya The Lord of the Rings, tak lepas dari cara Tolkien memandang kehidupan, dengan pendekatan Katolik, di samping minat profesionalnya pada studi bahasa (filologi) dan mitologi. "Tentu saja secara mendasar karya itu memang (bersifat) religius dan Katolik," kata Tolkien dalam satu suratnya. "Begitulah mula-mula secara tak sadar, tapi (begitu pula) secara sadar setelah revisi.... Unsur-unsur agama terserap ke dalam cerita dan simbolisme."
Religiositas dan Katolik menyala dalam diri Tolkien sejak pengalaman pahit menerpa ibunya, Mabel Tolkien. Waktu itu Tolkien kecil baru berusia empat tahun. Menyusul kematian suaminya, Arthur Tolkien, pada Februari 1896, Mabel menjalin hubungan dengan seorang pria, meninggalkan Afrika Selatan dan pulang ke Inggris, dan beralih memeluk Katolik. Tindakan-tindakan ini, khususnya yang terakhir, menyebabkan Mabel diasingkan oleh keluarganya; bantuan keuangan pun dihentikan. Mabel tertekan, hidup dalam kemiskinan, lalu sakit. Ia meninggal pada 1904. "Ibu saya sungguh seorang martir bagi keyakinannya," kata Tolkien. Tragedi ini menjadi landasan yang kokoh bagi keyakinan Tolkien pada Katolik -- tanpa pernah goyah sepanjang hidupnya.
Menurut Joseph Pearce, penulis Tolkien: Man and Myth dan editor Tolkien: A Celebration, yang dilakukan oleh Tolkien dengan cerita-ceritanya adalah merajut mitos. Tapi, katanya, harus dipahami bahwa mitos dalam pandangan Tolkien bukanlah rekaan semata. Sebaliknya, Tolkien memahami mitos sebagai "alat untuk menyampaikan kebenaran tertentu dengan cara yang mustahil bisa dilakukan lewat apa yang disebut genre realistis".
Pearce menceritakan, suatu kali C.S. Lewis, penulis novel, satu dari sedikit sahabat Tolkien yang mendapatkan kemewahan menjadi pembaca naskah awal The Lord of the Rings, mengatakan bahwa mitos itu cuma "kebohongan dan karenanya tiada gunanya, sekalipun diembuskan melalui perak". Tapi Tolkien membantah: "Mitos bukanlah kebohongan."
Bagi Tolkien, menurut Humphrey Carpenter, yang menulis J.R.R. Tolkien: A Biography, justru mitos adalah cara terbaik -- terkadang malah satu-satunya -- untuk menyampaikan kebenaran yang bisa saja tak pernah dikemukakan. Tolkien menjelaskan, sebagai mahkluk Tuhan, manusia merajut mitos sebagai cermin fragmen cahaya sejati, kebenaran abadi yang ada pada Tuhan. "Mitos bisa saja tersesat, tapi betapapun goyah, mitos membawa kepada pelabuhan sejati, sedangkan 'kemajuan' materialistis hanya mengajak ke jurang dan kuasa jahat."
Kebenaran itu, kata Pearce, tak lain adalah dasar-dasar kisah Kristiani: kekuasaan Tuhan atas ciptaan-Nya, perjuangan melawan kejahatan yang hendak menyesatkan ciptaan itu, dan peran mahkluk Tuhan dalam perjuangan ini.
Dalam kasus The Lord of the Rings, Carpenter menjelaskan, nilai-nilai yang muncul adalah nilai-nilai dalam Alkitab. Tanpa menyebut Tuhan, Tolkien menunjukkan kekuasaan-Nya lewat setiap tikungan dalam pola sejarah. Ia tak menyebut Aragorn dan Gandalf sebagai Kristus: cukup dengan memperlihatkan bahwa mereka mewakili harapan dan kekuatannya, termasuk kembalinya Gandalf secara menakjubkan dari kematian. Sama halnya dengan Frodo. Tanpa harus menjadi seorang Kristiani, melalui tindakannya, Frodo menyingkapkan makna sejati kehidupan Kristiani.
Lebih dari itu, masih menurut Humphrey, sesungguhnya bukan Frodo -- hobbit pemikul beban tugas memusnahkan Cincin Utama di Gunung Doom -- yang menyelamatkan Middle-earth, dan bukan pula Gollum. Tapi sang penyelamat adalah Sesuatu yang bekerja melalui kasih dan kemerdekaan mahkluknya, yang "mengampuni kita karena pelanggaran-pelanggaran kita, 'pada saat kita memaafkan mereka yang melanggar (hak-hak) kita'".
Sepanjang kisah dalam The Lord of the Rings, kuasa kejahatan tampak begitu digdaya, tapi tidak mahakuat. Selalu terasa bahwa kekuasaan agung setiap saat berada di samping para penentang Sang Penguasa Kegelapan dan bahwa, pada akhirnya, akan berjaya menghadapi segala bentuk kejahatan.
Seperti kata Samwise Gamgee:
Above all shadows rides the Sun...
l pur
|