Komentar
blm baca,,,
Komentar :
wah,,,,klo tu buku mpe berpengaruh besar ama dunia kejahatan,,,perlu di tindak tu,,,,
kunjungi blog saya y,.,,,
masih pemula si,,,,
www.duniahayalan.blogspot.com
--yandi
Tergantung kondisi kejiwaan pembaca
Komentar :
Mengapa "the catcher in the rye" dilarang beredar? Pastinya adanya anggapan dapat merugikan org lain. Misalnya dapat mempengaruhi pola pikir org mjd negatif, salah satunya "membunuh". Sebuah karya sastra dilemparkan ke pasar pembaca, tentunya dengan membawa paham dan mengandung amanat yang sedikit bnyk memiliki porsi mempengaruhi baik bernilai negatif ataupun positif. Ketika karya sastra telah sampai ke tangan pembaca, pembaca memegang hak penuh untuk memaknai isi karya sastra itu. Pemaknaan ini bergantung pada kondisi kejiwaan si pembaca. Pembaca dapat memaknai suatu karya sastra lebih sedih dari kesedihan dlm karya sastra bila dalam kondisi sedih atau memiliki alur hidup yg hampir sama. Apabila dalam cerita terdapat solusi mengakhiri kesedihan dengan bunuh diri, pada saat itu atau suatu nanti hal ini dpt dilakukan. Sebab telah terekam dalam memori pikir dan dapat menginspirasi pembaca untuk melakukan hal serupa. Maka perteguhlah iman dan pelihara lingkungan agar kondisi kejiwaan terjaga dan tidak mudah terpengaruh pada hal2 berbau negatif.
--Ida fatimah
baca
Komentar :
gue belum pernah baca buku yang dimaksud
--FITRI ALFARIZ
Serat Cabolek: Sebuah Propaganda untuk Membunuh?
Komentar :
Buku Serat Cabolek, setahu saya ada dua versi. Yang pertama adalah versi yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta,1981), dan yang satu lagi adalah versi yang diterbitkan oleh Soebardi (The Hague, 1975). Pada versi pertama, termuat dua bagian, yaitu kisah Haji Rifai dan Haji Mutamakim, sedangkan pada versi kedua hanya ada satu bagian, yaitu kisah Haji Mutamakin (ada perbedaan penyebutan). Buku ini bisa dipandang sebagai karya sastra sejarah, walaupun tentu saja jika kita akan menggunakannya sebagai sumber sejarah, perlu juga merujuk kepada sumber lain yang sezaman. Memang ada tendensi untuk menjadi kontroversi dari buku ini. Dikisahkan bahwa Haji Rifai yang merupakan seorang alim (jamak:ulama) dari Desa Kalisalak mempunyai pandangan yang ganjil tentang Islam. Ia menganggap dirinya paling soleh dan adil. Menurutnya, para penghulu merupakan abdi raja kafir yang tidak memiliki otoritas keagamaan sama sekali dan, oleh karena itu, pernikahan yang dilakukan oleh penghulu tidak sah. Haji Rifai kemudian membuat propaganda kepada para pengikutnya agar mereka melakukan pernikahan ulang. Propaganda itu juga ditujukan untuk umat Islam umumnya. Rupanya mungkin maksud memicu pembunuhan letaknya di sini, karena ajaran Haji Rifai itu ternyata meluas ke beberapa daerah dan sempat menimbulkan gejolak di masyarakat. Namun, untuk mencapai taraf sebagai buku yang memicu pembunuhan, nampaknya perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam, menggunakan data sejarah yang ada pada masa kolonial tersebut. Yang pasti, perspektif dalam Serat Cabolek menurut saya adalah perspektif priyayi. Pada abad ke-19 priyayi merupakan komunitas yang telah mapan dan menjadi kelas elite. Priyayi adalah bagian dari birokrasi pada masa itu. Oleh karena itu Haji Rifai dianggap sebagai pembangkang. Dalam kenyataanya, Haji Rifai bukan seorang bodoh seperti yang diceritakan di buku tersebut. Oleh sebab itu pula, diragukan apakah ajaran Haji Rifai itu membawa kepada propaganda, apalagi sampai kepada gejolak di masyarakat.
--Yanwar van Tastikk
tidak eksplisit, tapi itulah sastra
Komentar :
catcher in the rye memang bukan novel pembunuhan. tidak juga secara eksplisit mengajarkan atau memotivasi orang untuk membunuh.
tetapi kritik-kritik dan kemarahan seorang anak muda yang merasa dirinya adalah korban dari sistem, bisa mendorong pembacanya (yang memang pada dasarnya mungkin punya masalah kejiwaan) dan mengalami nasib yang sama dengan Holden (marah, teralienasi, merasa tidak ada yang dapat memahaminya, tapi sangat sayang keluarga), untuk melakukan suatu 'perlawanan' seperti yang disemangatkan oleh si Holden itu.
dan ironisnya, mereka yang sudah terlanjur frustasi,
mengekspersikan kekecewaan mereka dengan peluru.
hmm...analoginya mungkin kalo ada orang cerita tentang makanan ke kita, trus kita jadi ngerasa laper..pengen makan..padahal tu orang maksudnya cuma cerita aja, ga nyuruh kita untuk makan.. gitu kali ya yang dimaksud dengan 'memicu'..
--nisa faridz
prev 1 2 3 next
|