Home
U L A S A N
Surat
pengarang
Cerita Sampul
Artikel Lepas
Sketsa
dari katalog baru
Kolom
EDISI LAIN
 

 

Edisi 31 Agustus 2009

U L A S A N


Petuah Taktis dari Pebisnis

Judul: The Knack - How Street-Smart Entrepreneurs Learn to Handle Whatever Comes Up

Penulis: Norm Brodsky and Bo Burlingham

Penerbit: Penguin Group, 2008 (hard cover), 2009 (paper back)

Tebal: 274 hlm. (termasuk indeks)

Anda berencana beralih profesi dari orang gajian penjadi pebisnis? Atau, bisnis yang Anda jalani saat ini tidak membuahkan hasil yang menggembirakan? Kemudian Anda hampir putus asa dan berencana mencari pekerjaan saja karena lebih baik jadi orang gajian? Tunggu dulu! Jangan lewatkan baca buku ini dulu. Buku ini memberikan inspirasi dalam mengembangkan bisnis Anda. Mengapa? Karena berorientasi pada hal-hal taktis keseharian dalam pengelolaan bisnis dan ditulis oleh pebisnis yang telah menjalaninya sendiri.

Kolumnis dari majalah Inc., Norm Brodsky dan Bo Burlingham, berbagi dengan Anda tentang bagaimana pebisnis pemula menghadapi berbagai situasi yang sering sulit dan kompleks. Pemula biasanya cenderung mencari langkah-langkah tepat untuk mendapatkan panduan yang spesifik namun dalam kenyataannya tidak ada. Lantas, apa yang mueti dipelajari? Di sinilah letak kepiawaian Norm dan Bo dalam berbagi pengalaman dengan kita melalui prinsip-prinsip bijak yang ia simpulkan dari pengalaman nyata yang juga mereka beberkan dalam buku ini. Pembelajaran dari buku ini adalah pentingnya penjiwaan terhadap angka-angka bisnis, kualitas prima, dan pembangunan budaya kerja yang kokoh.

Penjiwaan, tidak hanya penguasaan, terhadap angka-angka bisnis merupakan hal fundamental dalam bisnis apa pun. Jangan sampai kita tergiur besarnya nilai penjualan tanpa memahami komponen besar kedua, yaitu harga pokok penjualan. Hal ini penting karena semua denyut nadi bisnis kita dibiayai oleh selisih antara penjualan dan harga pokok penjualan yang biasa disebut sebagai gross profit margin (marjin keuntungan). Marjin keuntungan inilah yang mendanai bisnis kita mulai dari bayar gaji karyawan, sewa kantor, dan biaya lainnya di luar yang telah tercakup di harga pokok penjualan.

Itu masih perhitungan di atas kertas, karena ada faktor yang lebih penting lagi, yaitu yang disebut arus kas. Percuma kita memiliki marjin keuntungan yang besar, katakanlah 40 persen bila termin pembayarannya lama. Bila termin pembayarannya dua bulan, Anda harus memiliki dana segar yang menutupi biaya selama itu juga.

Menurut Norm, tidak diperlukan ilmu canggih dalam mengelola bisnis, namun penjiwaan terhadap angka sangat fundamental dikuasai sehingga kita bisa tanggap terhadap dinamika bisnis. Kita bisa mengeluarkan pisau yang tepat untuk situasi khusus yang dihadapi, seperti diilustrasikan dengan gambar pisau serba-guna di sampul buku ini. Yang menarik, Norm justru menyarankan pada tahun-tahun awal bisnis kita melakukan perhitungan angka-angka dengan tangan bukan dengan komputer. Rupanya Norm sadar bahwa mengelola bisnis perlu adanya ketajaman sensor motorik sehingga kita sensitif menghadapi perubahan bisnis yang terjadi.

Hal kedua adalah kualitas prima kita sebagai individu yang siap tahan banting dan ulet menghadapi setiap jenis masalah. Contoh yang ia ungkapkan adalah terkait dengan temannya, bernama Malki, yang ia bantu dalam membangun usaha penitipan anak. Rencana bisnis yang tak mudah di Amerika, karena persyaratan untuk mendapatkan izin begitu ketat. Usaha penitipan anak itu harus mendapatkan persetujuan pemerintah; diperlukan bangunan dan perlengkapan yang memadai, penjaga anak yang mendapat lisensi, dan persyaratan ketat lainnya.

Hal itu membutuhkan biaya yang sangat besar karena mendapatkan properti di area strategis jelas memerlukan modal yang tidak sedikit. Norm mengira Malki akan menyerah menghadapi kenyataan ini. Namun tidak. Malki begitu ulet mencari dana untuk memulai usahanya sehingga akhirnya berhasil mendapatkan pinjaman bank untuk membeli properti di area strategis. Malki menunjukkan kualitas prima menghadapi rintangan terkait dengan bisnis yang menjadi impiannya. Kendala modal ini selalu yang sering kita dengar bila ingin memulai bisnis. Dengan kualitas prima kita sebagai individu, ide inovatif sebenarnya bisa diraih.

Hal ketiga adalah dalam membangun budaya perusahaan yang menurut Norm tidak bisa didelegasikan. Sebagai pebisnis dan pemilik, kita bertanggung jawab langsung dalam membangun budaya.

Norm memberi contoh bisnis penyimpanan dokumen yang ia tekuni. Adalah seekor kucing bernama Elsa, yang dipelihara dan disayang para karyawan di gudang penyimpanan. Elsa beranak enam dan karyawan di gudang semakin menyayangi Elsa dan anak-anaknya. Suatu hari Elsa meraung-raung seperti menangis, karena keenam anaknya menghilang dari gudang. Kontan semua karyawan sibuk mencarinya di gudang. Tak ditemukan. Norm kemudian menerima telepon dari pelanggan yang mengatakan kotak kardus yang dikirim berisi enam ekor anak kucing!

Untuk mengambil anak kucing itu diperlukan perjalanan pergi pulang selama dua setengah jam sedangkan supir yang mengantar kardus sudah telanjur pulang. Norm memutuskan mengirim supir lagi untuk mengambil kotak berisi kucing itu. Sesampainya supir yang membawa enam anak kucing itu di gudang, Elsa dan ratusan karyawan menyambut perjumpaan Elsa dan keenam anaknya dengan bertepuk tangan. Kejadian ini menunjukkan bagaimana budaya kepedulian dibangun di perusahaan tersebut.

Buku ini sangat cocok bagi Anda suka sesuatu yang sifatnya deskriptif dengan gaya penulisan seperti novel. Di setiap bab diakhiri dengan pokok-pokok pembahasan dan surat-menyurat ‘Ask Norm’ dengan pembaca rubrik di Inc. yang diasuh Norm Brodsky.

Gatot Widayanto

Managing Director

Value Quest

http://www.valuequest.co.id