Home
Sudut Lipatan
Dari Katalog Lama
Surat
U L A S A N
Kolom
pengarang
Artikel Lepas
dari katalog baru
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 26 Juni 2009

Cerita Sampul


Bubat Gugat

Seorang novelis Sunda mengajukan versi lain dari Perang Bubat. Gugatan pun banjir.

Puluhan pasang mata di aula kantor harian Pikiran Rakyat menatap erat dua pembicara yang tengah berdebat sengit tentang novel Perang Bubat karya Aan Merdeka Permana. Pembicara pertama adalah Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, Jakob Sumardjo, dan yang lain adalah sang penulis novel tersebut.

Dalam diskusi yang ditaja penerbit Mizan tersebut, Sumardjo mempertanyakan kesahihan dasar sejarah novel Perang Bubat. Ia mengkritik ketidaklaziman adegan pertemuan Ramada (Gajah Mada) dengan Dyah Pitaloka di tepi kolam taman keraton yang dipandangnya mustahil, mengingat tradisi pagar keraton yang berlapis akan mencegah orang asing dengan mudah bertemu keluarga raja.

Begitu juga soal penyebutan Gajah Mada datang dari Banten dan berdarah Cina. Meski dalam karya fiksi novelis bisa bebas berimajinasi, Sumardjo berpendapat penulisan cerita berlatar belakang sejarah tetap perlu disusun berdasarkan rujukan sejarah yang jelas.

Sementara itu, Aan mengakui bahwa novelnya memang tak mengacu pada sumber-sumber sejarah resmi. Namun, sebelum menulis kisah perang antara kerajaan Galuh dan Majapahit, peraih hadiah Sastra Samsudi 2009 dari Yayasan Rancage ini terlebih dahulu mengumpulkan kisah-kisah yang hidup di tengah masyarakat mengenai pertempuran di lapangan Bubat (kini Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur).

Sedari awal penerbit Mizan Pustaka mengetahui novel yang satu ini akan kontroversial karena tafsirnya atas Perang Bubat berbeda dari yang sudah diketahui banyak orang. Namun, CEO Mizan Pustaka, Pangestuningsih, justru tertarik dengan naskah yang ditawari Aan. “Kami menangkap ada semangat rekonsiliasi dari novel ini,” ujar perempuan yang biasa disapa Tutuk ini.

Tutuk melihat, selama ini Gadjah Mada menjadi tokoh antagonis dari cerita perang di Bubat, yang dengan liciknya memakai siasat perkawinan antara Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk demi menundukkan kerajaan Galuh. Peristiwa yang terjadi ratusan tahun silam itu pun belakangan memicu permusuhan antara masyarakat Sunda dan Jawa.

Sosok Aan, yang seorang Sunda, dinilai Tutuk sejalan dengan semangat rekonsiliasi. “Jawa kan dipandang sebagai biang masalahnya, jadi wajar kalau penulis Jawa akan membela Gadjah Mada,” ujarnya. “Tapi Aan yang Sunda dan menulis Gadjah Mada bukan biang keladinya. Nah, itu menarik.”

Ternyata pembaca pun bisa menerima argumen yang disodorkan Aan. Novel karyanya itu masuk cetakan kedua dalam waktu kurang dari dua bulan. Tutuk melihatnya sebagai keinginan dari pembaca terhadap sejarah yang ditulis dengan luwes. Apalagi, kata dia, sejarah Indonesia memang punya ruang bagi tafsir dan fantasi, misalnya dalam menceritakan kesaktikan tokoh-tokoh cerita.

Tutuk paham mengapa novel-novel berlatar sejarah seringkali tak mengikuti sumber-sumber sejarah tertulis yang resmi. “Bukankah sejarah mainstream itu selau dipengaruhi penguasa? Jadi, kan belum tentu sejarah tertulis yang benar,” ujarnya.

Novel karya Aan bukan karya baru pertama yang mengangkat Perang Bubat. Tahun lalu Hermawan Aksan melansir Niskala: Gajah Mada Musuhku (Penerbit Bentang, 2008), yang merupakan kelanjutan Dyah Pitaloka, Senja di Langit Majapahit (C Publishing, 2005). Langit Kresna Hariadi juga menurunkan Gajah Mada: Perang Bubat (Tiga Serangkai, 2006) yang menjadi bagian dari pentalogi Gajah Mada. Namun, novel-novel itu umumnya masih bermain di dalam koridor sejarah resmi.

Novel Aan membalikkan persepsi yang selama ini tumbuh di kalangan masyarakat Sunda. Pada buku sejarah resmi, pertikaian di Lapangan Bubat terjadi karena orang Majapahit dianggap mengkhianati Sunda. Raja Majapahit Hayam Wuruk tidak mau mengangkat Dyah Pitaloka sebagai permaisuri, tapi memperlakukannya sebagai upeti. Padahal, sebelumnya Hayam Wuruk menyatakan akan menjadikan Pitaloka sebagai permaisuri. Menurut sejarah resmi, konon rekayasa politik ini dilakukan oleh Mahapatih Gajah Mada, terkait dengan Sumpah Palapa.

Sedangkan menurut Aan, Perang Bubat memiliki latar belakang masalah yang sangat kompleks. Perang tersebut tidak semata-mata kesalahan Gajah Mada. Sebelum perang terjadi, banyak intrik politik di Istana Majapahit Wilatikta. "Banyak musuh-musuh politik Gajah Mada di kalangan istana yang tidak senang dia menguasai sendi-sendi perpolitikan negeri itu. Ada intrik politik sesama pejabat Majapahit yang saling menjatuhkan," kata Aan.

Hal seperti ini tak pernah ada dalam buku sejarah, yang umumnya hanya merujuk pada kakawin Nagarakertagama karya Empu Prapanca, satu-satunya sumber dari zaman itu. Perang Bubat yang dikenal selama ini, kata Aan, cenderung telah disederhanakan, terlalu hitam-putih, menyudutkan orang Jawa dan menganggap orang Sunda teraniaya. Jadinya orang Sunda sangat emosional dalam membenci Jawa, Contohnya, kata dia, di Jawa Barat tak ada nama jalan atau apa pun yang melibatkan Hayam Wuruk, Gajah Mada atau Majapahit.

Kondisi demikian terjadi karena merujuk pada Kidung Sundayana, yang menyatakan bahwa Gajah Mada tidak suka Hayam Wuruk berpemaisurikan orang Sunda, yang dianggapnya harus tunduk pada Majaphit. Padahal, menurut Aan, kidung itu bukan catatan sejarah, melainkan karya sastra. "Berarti posisinya sejajar dengan karya saya. Tapi, mengapa ada sejarawan yang menyerang saya dengan rujukan Kidung Sundayana, mestinya oleh karya catatan sejarah lagi," kata Aan.

Selama ini pula buku-buku yang mengupas tentang Perang Bubat adalah karya sarjana Belanda atau Portugis. Aan, sebaliknya, berpaling ke masyarakat pedalaman yang mengetahui peristiwa Bubat yang didapat dari mulut ke mulut secara turun temurun. "Saya lebih sreg melihat sejarah Sunda melalui mulut orang Sunda sendiri. Masa kepada Belanda percaya, tapi kepada saudara sendiri tidak percaya?" kata Aan.

Kecenderungan Aan yang dalam penulisannya lebih berdasar pada sejarah lisan ketimbang tulisan itu membuat karyanya kerap mengundang kontroversi. Sebagai contoh, Aan "menemukan" makam Hayam Wuruk di sebuah kampung di Bandung Selatan. Menurut Aan, Hayam Wuruk keluyuran di tanah Sunda selama 12 tahun sebelum menemui ajalnya. Hal itu ditunjukkan dengan adanya makam dan bekas-bekas candi yang konon dibuat oleh Hayam Wuruk.

Aan menuturkan, saat itu Hayam Wuruk bersama 75 pengiringnya datang untuk memohon maaf atas kekeliruan dia dan orang-orang Majapahit soal kesalahpahaman di Bubat. Hayam Wuruk datang ke Sunda secara tidak resmi, sebab orang Sunda yang tahu bahwa ia Raja Majapahit tak akan mau menerima maaf darinya, bahkan akan memburunya. "Kan penemuan saya ini menyebalkan bagi sejarawan yang ingin memiliki bukti-bukti konkret," kata Aan.

Perang Bubat merupakan hasil penelusuran Aan sejak 1990-an sebagai jurnalis tabloid minguan Sunda, Galura. Pada awalnya hasil liputannya itu tak ingin dipublikasikan sebab isinya bertentangan dengan versi sejarah yang ada. Namun, semakin dalam penelitiannya ke para penutur tradisonal, semakin banyak tergali informasi yang belum terungkap.

Dari situlah Aan memberanikan diri menulis Perang Bubat versi sejarah lisan ini. Ada enam narasumber untuk novel itu. Mereka tersebar di Bandung Selatan, pedalaman Sumedang, pedalaman Garut, hingga Trowulan. Ia juga mencari tahu kemungkinan lokasi Perang Bubat.

Ketika sebagian tulisannya dimuat di Galura, kritik pedas pun berdatangan. Salah satunya mengenai wawancaranya dengan arkeolog Trowulan yang menyebutkan kemungkinan Perang Bubat tak pernah ada. Demikian pula dengan artikelnya dimuat di Galura dan Pikiran Rakyat berdasarkan hasil wawancaranya di Surabaya yang menyebut Dyah Pitaloka tidak mati bunuh diri. "Mizan tertarik mungkin karena tahu tulisan saya berbeda dengan yang ada selama ini," kata Aan.

Perang Bubat memang pesanan Mizan. Awalnya Aan menolak sebab sudah banyak novelis yang membuat novel dengan latar belakang Bubat. Ia baru mengatakan bersedia dengan syarat buku itu didasarkan hasil penelitiannya sendiri dan pihak penerbit berani menerima segala konsekuensinya.

Aan tak keberatan bila Perang Bubat disebut novel fiksi, tapi menolak disebut novel sejarah. Menurutnya, paling banter novelnya fiksi dengan nuansa sejarah. "Soalnya ada perlakuan diskriminatif dari para sejarawan bahwa tuturan lisan bukan pernyataan sejarah. Menurut mereka, ukuran sejarah mesti ada bukti arkeologis dan tertulis. Sedangkan saya mengutip sumber-sumber dari paparan tradisional yang tidak selalu memiliki dua persyaratan itu. Tapi, paparan tradisional itu ratusan tahun tetap dipelihara," katanya.

Dalam Perang Bubat tidak ada tokoh sentral. Semua sejajar, yakni Dyah Pitaloka, Prabu Linggabuana, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Sakunti Triwestu (pembantu setia Gajah Mada), Patih Purwodi dan Patih Kurowi (musuh politik di Majapahit yang membenci Majapahit). Namun, Aan berharap perbedaan alur cerita antara sejarah resmi dengan tuturan tradisional sebaiknya jangan dipertentangkan. "Malah kalau bisa tuturan tradisional itu diteliti dan ditindaklanjuti oleh para ilmuwan sehingga bisa menghasilkan karya ilmiah modern".

Nah, berbeda dengan Perang Bubat yang tokoh-tokohnya ada, tokoh dalam novel Senja Jatuh di Pajajaran karya Aan hanyalah rekan. Meski demikian, untuk mengatur latar cerita, penulis yang telah membuat sekitar 1.000 cerpen itu sangat berhati-hati.

Senja Jatuh di Pajajaran yang diterbitkan Tiga Serangkai, Solo, adalah novel fiksi dengan latar belakang cerita zaman Kerajaan Pajajaran. Semua nama tokoh adalah karangan, hanya alur ceritanya disesuaikan dengan keadaan waktu itu. Tokoh sentralnya adalah Ginggi, pemuda warga Kerajaan Pajajaran; Ki Darma, bekas perwira Pajajaran; dan tokoh antagonis Ki Banaspati.

Novel ini berbentuk trilogi, yakni Kemelut di Istana Sri Bima, Kemelut di Cakrabuana dan Kunanti di Gerbang Pakuan. Masing-masing buku tebalnya sekitar 700 halaman. Buku pertama telah dicetak sebanyak 4.000 eksemplar dan buku kedua saat ini mulai naik cetak.

Aan menyadari imbas sebuah novel sejarah. Dia pernah kedatangan seorang pembaca, yang telah menapaktilasi perjalanan tokoh utama novel tersebut. Perjalanannya tidak lewat jalur jalan raya sekarang, tetapi melewati jalan raya Pajajaran kuno. Bekas-bekas jalannya masih bisa ditemukan di Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Jalan itu menuju Mojokerto (dulu Majapahit).

Sang pembaca yang juga musisi jazz Bandung itu berjalan dari kaki Gunung Cakrabuana di Dusun Cae, Sumedang, lalu menelusuri jalan raya Pajajaran tersebut, melewati Tomo, Sumedang; Sagalaherang, Subang; Cikao, Purwakarta; Tanjungpura, Karawang; Cileungsi, Kabupaten Bogor; dan Pakuan di Kota Bogor. "Ia datang ke rumah. Katanya, apa yang saya sebutkan di novel benar adanya," kata Aan.

Di pasaran novel Senja Jatuh di Pajajaran dan Perang Bubat laris manis. Dalam kurun waktu sebulan setelah cetakan pertama (April 2009) sebanyak 4.000 eksemplar sudah habis. Aan melihat saat ini ada kegairahan dalam membaca buku-buku sejarah Sunda berbahasa Indonesia.

Benarkah? Taufik Faturohman, budayawan Sunda pemilik penerbit Geger Sunten Bandung, menilai sejauh ini penjualan buku sejarah Sunda biasa-biasa saja. Tak ada lonjakan yang berarti, meski buku tersebut meraih penghargaan sastra Sunda, Rancage. Ia mencontohkan, bila mencetak satu judul buku sejarah Sunda berbahasa Sunda sebanyak 2.000 eksemplar, baru akan habis dalam tempo 4-5 tahun.

Taufik juga menilai sah-sah saja Aan menulis novel semacam Senja Jatuh di Pajajaran, yang 90 persen fiktif. Aan, katanya, berbeda dari Yoseph Iskandar, pengarang Sunda penulis Perang Bubat dan Wastu Kancana, yang isinya 90 persen sejarah.

"Gaya penulisan Kang Aan mengandalkan bukti-bukti lisan, sehingga lemah dalam hal bukti tertulis. Karenanya Kang Aan selalu mengatakan karyanya novel fiksi, bukan novel sejarah," kata penulis rubrik humor berbahasa Sunda "Sabulangbentor" di harian Priangan itu.

KURNIAWAN | ARIEF FK | OKTAMANDJAYA WIGUNA

Perang Bubat

Pengarang: Aan Merdeka Purnama

Penerbit: Qanita, 2009

Novel Aan ini tidak setia kepada babon sejarah. Dia membalikkan anggapan bahwa Gajah Madalah yang bersalah dalam tragedi itu. Menurutnya, Gajah Mada justru memiliki hubungan khusus dengan Dyah Pitaloka. Hubungan mereka terjalin tatkala Gajah Mada--yang digambarkan merupakan keturunan Cina dengan nama kecil Ma Hong Foe-- mengabdi di Kerajaan Sunda Galuh. Cinta Ramada alias Gajah Mada kandas, sehingga dia memutuskan untuk mengembara ke Majapahit. Di sini karirnya malah mencorong hingga dia diangkat menjadi mahapatih.

Novel ini mengungkap intrik-intrik politik dan perebutan kekuasaan di lingkungan istana Majapahit yang membuat Gajah Mada terpaksa mengambil tanggung jawab sebagai panglima perang tertinggi di kerajaan itu. Apalagi, Prabu Hayam Wuruk juga merasa tersangi dengan kekuasaan Gajah Mada yang sangat besar.

Imajinasi Aan juga bergerak liar dan menyebutkan bahwa sesungguhnya Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka tidaklah gugur di Bubat. Tapi, Aan perlu menegaskan bahwa novel ini hanyalah fiksi. "Ini bukan novel sejarah!" tulisnya dalam pengantar novel ini.

Meski demikian, ada beberapa kejanggalan dalam novel tersebut. Dalam ceritanya, Aan menyebutkan Ramada sebagai seorang prajurit rendahan, tapi sangat mudah bertemu dengan Pitaloka, sehingga mereka jatuh cinta. Hal ini adalah sesuatu yang agak janggal untuk kehidupan di era kerajaan dulu.

Demikian pula ketika ia mengurai latar belakang Gajah Mada, yang dalam novel itu disebut pernah mengabdi di istana Galuh. Jika benar Ramada adalah Gajah Mada, maka latar waktunya tidaklah tepat menurut sejarah. Masa ketika Ramada berada di Sunda Galuh dan menjalin cinta dengan Dyah Pitaloka itu bersamaan dengan Gajah Mada yang menjadi Mahapatih Majapahit.

Namun, terlepas dari hal itu, Aan telah menyajikan epik Perang Bubat dengan apik. Dia juga menggarisbawahi bahwa intrik-intrik politik dan perebutan kekuasaanlah yang menjadi pangkal setiap tragedi--sesuatu yang masih terjadi hingga sekarang. Novel tersebut juga berpesan agar sentimen etnis antara Sunda-Jawa akibat Perang Bubat sudah selayaknya dihentikan.

Gunanto E S

Niskala: Gajah Mada Musuhku

Pengarang: Hermawan Aksan

Penerbit: Bentang, Juli 2008

Hermawan melanjutkan epos Kerajaan Sunda dalam menghadapi imperium Majapahit yang sebelumnya sudah dieksplorasinya dalam Dyah Pitaloka, Senja di Langit Majapahit (C Publishing, 2005). Dalam novel Niskala, dia menuturkan petualangan Anggalarang, adik Dyah Pitaloka yang jadi penerus penguasa Kerajaan Sunda dengan gelar Prabu Anom Niskala Wastukancana.

Di novel ini, Hermawan membiarkan misteri tragedi gugurnya Prabu Maharaja Linggabuana dan putrinya, Dyah Pitaloka, serta 93 prajurit pengiringnya dalam Perang Bubat. Niskala dimulai tujuh tahun setelah Perang Bubat, tepatnya pada 1286 Saka atau 364 Masehi. Anggalarang, tokoh utama novel ini, berangkat menunaikan tugasnya sebagai calon raja dengan berkelana selama setahun mengelilingi tanah Sunda.

Namun, Anggalarang, yang menyamar sebagai Jaka Lelana, tak cuma mengelilingi kawasan barat Jawa, tapi juga merambah ke timur, menuju Majapahit Wilatikta dengan satu membawa dendam membara terhadap Gajah Mada.

Setelah Perang Bubat, konon Hayam Wuruk jatuh sakit karena gagal mempersunting Pitaloka. Keluarga kerajaan menuduh Gajah Mada sebagai penyebab geringnya sang raja dan memutuskan untuk menangkap dan menghukumnya. Namun, ketika Bhayangkara Majapahit menggerebek kediaman Gajah Mada, Sang Mahapatih telah kabur dan kabarnya hidup terlunta-lunta. Belakangan Hayam Wuruk memaafkan Sang Mahapatih dan memanggilnya kembali ke istana dan mengembalikannya ke jabatan semula.

Novel ini lebih memusatkan kisah perjalanan Anggalarang, yang bertemu banyak tokoh dan mendapat banyak ilmu kesaktian secara tak sengaja dari beberapa tokoh dunia persilatan, dalam persiapannya menghadapi Sang Mahapatih.

Ketimbang mengeksplorasi sejarah pada masa itu, buku ini lebih banyak memaparkan sepak terjang si tokoh utama yang diramu dengan adegan-adegan seperti yang lazim muncul dalam cerita silat.

Cerita makin seru dengan disisipkannya kisah para pesilat dari berbagai pelosok Nusantara yang berburu sebuah kitab yang konon mengungkapkan rahasia kesaktian Gajah Mada. Kitab itu kabarnya ditulis oleh Dang Acarya Kanakamuni, tokoh yang kita kenal sebagai Empu Prapanca, pengarang kitab Nagarakertagama.

Pengarang terlihat sekali menghindari spekulasi sejarah besar ketika membiarkan pertemuan antara Anggalarang dengan Gajah Mada tak membuahkan informasi tambahan apa pun tentang peristiwa Bubat. Hal ini agak ganjil, mengingat Anggalarang, yang sedari awal terus mempertanyakan mengapa tragedi itu terjadi, tidak mempertanyakan hal itu ketika bertemu salah satu pelaku dan saksi mata pentingnya: Sang Mahapatih sendiri.

Satu-satunya pernyataan yang diperolehnya langsung dari mulut Dang Mahapatih hanyalah: “Benar anak muda, akulah yang kau cari. Akulah biang keladi tragedi tujuh tahun lalu itu. Sudah selayaknyalah aku menerima hukuman darimu. Aku akan menerimanya dengan lapang dada, seperti Bhisma yang rela menjemput maut di tangan Srikandi.”

Sebagai calon Raja Sunda dan adik Pitaloka, saya kira misteri pembantaian di Tegal Bubat tentulah akan menghantuinya dan secara psikologis akan mendesaknya untuk mempertanyakan hal itu kepada Gajah Mada. Karena, pembantaian itu praktis memusnahkan semua saksi di pihak Sunda dan seluruh cerita yang ada pastilah lahir dari pihak Majapahit.

Pengarang, sebaliknya, lebih banyak mengeksplorasi gejolak dendam sang tokoh ketika bertemu musuh utamanya itu--yang saya kira menjadi adegan puncak dalam seluruh novel ini. Kisah penting ini disajikan hanya dalam satu bab yang panjangnya 18 halaman. Masalah psikologi itu pun diselesaikan hanya dengan sebuah pemaafan karena rasa kasihan. Padahal, sang tokoh sudah memupuk dendam itu selama hampir setahun dan menempuh jarak sangat jauh untuk menjumpai orang yang paling bertanggung jawab terhadap kematian kakaknya tercinta.

Kurniawan