Home
Sudut Lipatan
Dari Katalog Lama
Surat
U L A S A N
Artikel Lepas
Sketsa
pengarang
Katalog Baru
Kolom
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 30 Mei 2009

U L A S A N


Memanusiakan Bisnis

Judul: Be the Solution - How Entrepreneurs and Conscious Capitalists Can Solve All the Worlds Problems

Penulis: Michael Strong

Penerbit: Wiley

Tahun: 2009

Tebal: 374 hlm.

Apa yang terlintas di benak Anda begitu mendengar kata “bisnis”? Wajar bila Anda langsung mengasosiasikannya dengan sesuatu yang menguntungkan, secara finansial. Tapi yang kemudian berkembang adalah suatu anggapan bahwa bisnis adalah animal yang berorientasi keuntungan dengan jalan mengeksploitasi sumber daya. Tidak jarang orang mengatakan bahwa bisnis itu kejam, egois, tidak mengenal perasaan, tidak peduli, dan lain sebagainya yang sifatnya negatif.

Berbeda dari pandangan klise itu, buku ini justru mengajak kita memandang bisnis secara manusiawi. Setelah itu kita diajak berbuat sesuatu dengan tujuan tunggal: membuat dunia lebih baik.

Ihwal bisnis yang tak berorientasi keuntungan semata sebenarnya telah dicontohkan oleh Konosuke Matshusita, yang merasa tersentuh melihat seorang fakir miskin sulit mendapatkan air minum yang layak. Sejak itu ia bertekad membangun bisnis dengan tujuan utama menciptakan dunia yang lebih baik. Mungkin kita terheran-heran dengan apa yang dilakukan Konosuke. Betapa tidak, dia membeli paten transistor dan kemudian menyilakan pihak lain menggunakannya tanpa dipungut biaya apa pun.

Demikian halnya dengan seorang Muhammad Yunus, yang trenyuh melihat pengrajin miskin di kampung-kampung, kesulitan membeli bahan baku yang hanya sekitar sepuluh dolar. Ia kemudian membangung Grameen Bank yang fokus pada usaha kecil dengan nasabah ibu-ibu.

Kita juga mengenal istilah pemangku kepentingan atau biasa disebut dengan stakeholders di buku-buku manajemen. Pemangku kepentingan perlu diperhatikan dan dipenuhi kepentingannya agar bisnis berjalan langgeng. Bahkan, belakangan ini menjadi tren bila perusahaan ingin diklaim sebagai peduli lingkungan, ada kegiatan yang disebut corporate social responsibility. Artinya, bisnis tak semata mengejar keuntungan. Kalau begitu, hal apa lagi yang ditawarkan oleh buku ini?

Ada tiga hal pokok: mengajak kita berpikir mendalam tentang tujuan utama bisnis, memberi inspirasi tentang contoh ril, dan menyusun rencana ke depan.

Sejarah telah membuktikan bahwa pengusaha (entrepreneur) melakukan hal yang menurut mayoritas orang tak mungkin dilakukan (hlm. 53). Contohnya banyak: Walkman, personal computer, laptop, Google. Namun sering kita tidak menggali maknanya lebih dalam lagi tentang apa tujuan utamanya.

Google, misalnya. Sebelum ditemukan, pendiri Google tidak pernah bisa menargetkan berapa besar keuntungan yang dia bisa peroleh. Namun yang pasti mereka yakin bahwa Google akan membantu banyak orang efisien menggunakan Internet. Jadi, sebenarnya, keuntungan merupakan efek samping belaka (hlm. 83).

Contoh nyata yang telah dilakukan oleh perusahaan seperti Whole Foods memberikan pembelajaran pentingnya core values dan budaya perusahaan membantu perusahaan bertahan dan bahkan bertumbuh-kembang menjadi perusahaan Fortune 500. Keseimbangan dalam memuaskan lima pemangku kepentingan (anggota tim, pemasok, pelanggan, penyangga dana, dan lingkungan) benar-benar dijalankan dan dipantau regular. Hasilnya adalah bisnis yang sehat dan pada akhirnya menguntungkan meskipun pada tahun-tahun awal rugi. (hlm. 102). Sepertinya bukan hal baru. Namun, cara penyajiannya menarik dan patut dicontoh perusahaan nasional yang umumnya menganggap core values sebagai pajangan dinding.

Setelah memaknai lebih dalam tujuan bisnis dan melihat contoh-contoh nyata, langkah selanjutnya adalah bagaimana merealisasikannya ke bisnis kita. Bagian akhir buku ini menguraikan panduan rinci dengan menggunakan metafora sebuah drama. Ini juga merupakan penyajian yang menarik. Yang perlu digarisbawahi adalah penekanan pada visi pendidikan yang solid. Bagian ini wajib dibaca oleh pemimpin bangsa ini agar tidak berorientasi mempertahankan kekuasan melalui program yang hanya memiliki horizon lima tahun sesuai periode kepemimpinan. Sedangkan, pendidikan perlu direncanakan untuk sekurang-kurangnya tiga puluh tahun ke depan.

Meskipun demikian, buku ini juga memiliki kekurangan, yaitu sulitnya menarik benang merah esensi buku di bagian awal. Buku yang sempurna memberikan gambaran menyeluruh mengenai substansinya di bagian awal. Hal ini bisa dipahami karena buku ini merupakan kumpulan tulisan dari beberapa ahli dan praktisi. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya Michael Strong merangkum dan menarik benang merah yang jelas di awal buku.

Buku ini layak dibaca siapa saja yang peduli dengan upaya membuat dunia ini lebih baik, termasuk negeri ini menjadi lebih baik. Bila politikus, yang saat ini sedang bertarung untuk kekuasaan, membaca buku ini dan memaknainya dengan baik, mereka bisa menjadi pemimpin bangsa yang efektif. Di zaman krisis global ini setiap individu perlu menjadi solusi dari permasalahan di seputarnya.

Gatot Widayanto

  • Konsultan Bisnis dan Manajemen

    www.valuquest.co.id