Home
Sudut Lipatan
Dari Katalog Lama
Surat
Kolom
U L A S A N
Arsip
Artikel Lepas
Katalog Baru
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 28 January 2009

U L A S A N


TURANGGA Titihan Sekaring Bawana


Judul buku: TJAP DJARAN: KATOERANGGAN

Penulis: Sindhunata

Penerbit: Bentara Budaya,Yogyakarta

Cetakan: I, 2008

Halaman: 244 halaman

Jika melintasi atau mengunjungiMagelang, mampirlah sejenakdi alun-alun kota. Di salah satusudutnya, berdiri tegak patung PangeranDipanegara tengah menunggangkuda. Di bawahnya adatulisan tertera, “turangga titihansekaring bawana.” Makna letterlijk-nya, “Kuda tunggangan adalahkembang dunia.” Mungkin kitaheran, kenapa kuda mesti disebutsedemikian gagahnya?

Saya pun heran dengan Sindhunata.Ia biasanya sangat produktifmenulis apa saja tentang manusia.Perspektif filsafatnya saat menulisihwal kemanusiaan sangatlah kaya.Tapi kali ini ia menulis duniakuda. Jika dalam pendekatan etnografis,seorang peneliti suku Saminniscaya ikut berproses menjadi seorangSamin juga, maka untukmengalami dunia turangga, Sindhunatasekali ini menjelma sebagaiseekor kuda yang bercerita tentangnasib kaumnya.

Yang tampil kemudian adalah“aku” yang kuda. Kita barangkalisegera ingat Chairil Anwar: aku inibinatang jalang dari kumpulannyaterbuang. Dalam naskah filmnya,Sumandjaya menafsir-visualkan“aku” dalam rupa kuda berbuluputih dengan rambut kuduk yangtergerai. Di pusat kota Jakarta,sang kuda tak peduli pada apa pundi sekelilingnya, juga manusia. Iameringkik keras, menapak, danmenyepak. Alangkah merdeka.

Beda dengan Chairil yang ditafsirkanSumandjaya itu, Sindhunatamenjadi “aku-kuda” yang perenung.Aku yang ditakdirkan sebagaipenarik beban. Aku yang takbisa mengelak dari cemeti. Akuyang ikut mengiringi dan menjadisaksi lompatan-lompatan peradaban.Aku yang kemudian gugur dipejagalan dan, akhirnya, mesti reladilupakan.

Sebagai bagian dari kehidupan,kuda sesungguhnya ikut ambil bagian.Kaum kuda memang tak butuhdiakui, karena mereka bukanmanusia yang haus pengakuan.Toh, sejarah peradaban yang manapun tak bisa lepas dari hasrat bergerak,berpindah-pindah tempatdalam waktu relatif singkat, dantenaga yang dihemat. Kuda menjadikarib manusia untuk memenuhihasrat itu. Kuda lalu menjadi simbolkegagahan dan kekuatan, namunia sejatinya selalu dituntutuntuk melakukan banyak hal buatmanusia, tanpa sejenakpun kudabisa menuntut sebaliknya.

Bagi kehidupan serba mesin sepertisekarang, mengungkit-ungkitkuda dan tetek bengeknya bolehjadi dinilai “kurang kerjaan”. Toh,kuda tak lagi bisa memuasi hasratmobilitas manusia masa kini. Dibeberapa daerah, dokar memangmasih tersisa sekalipun kehadirannyadi jalan raya lebih menegaskansuatu persaingan timpang antara“yang tradisional” dan “yang modern”.Persis pada titik ini manusiamengalami problem eksistensialnya.Ia mengada bukan lagi sebagaisebuah titik yang tersambungdengan garis panjang kesadaranruang dan waktu. Kemacetan,misalnya, dalam satu momenmenjadi sesuatu yang diratapi lantaranmengingkari fitrah mobilitasitu sendiri. Namun pada momenberikutnya, kemacetan menjadi perayaanbagi seseorang yang tengahmenikmati daulat kesendirian dalammobilnya. Manusia satu denganyang lain terkotak-kotak dalamsekian banyak aku yang atomis.

Nah, buku ini ingin menyuarakan“aku” yang lain, “aku-kuda”yang menggugah kebinatangan dalamkemanusiaan sekaligus kemanusiaandalam kebinatangan.“Aku” menyampaikannya melaluibahasa ringkikan.

Buku ini sesungguhnya sangatbersahaja. Suara-suara yang dapatdidengar dari sana adalah orkestrasi“ringkikan” dalam bentukverbal dan visual. Beberapa potongankisah dari negeri manca disertakan,namun tak berambisimenampung segala kisah kuda darisegala bangsa-segala masa. Untukmengawalinya, “aku” dengan fasihmenceritakan nasibnya sendiriyang malang. “Aku” lalu belajarmenerima kehidupan. Sebagai kuda,“aku” bergulat antara masa laluyang sarat beban, brutalnya kekiniandan ancaman dari masayang hendak datang.

Kemudian meluncurlah beruparupakisah: kuda dalam lukisangua-gua purba, kuda dalam senibelanga dan dinding kuil atau istana,kuda Bucephallus milik IskandarAgung, kuda Zenggi tungganganpenyair Garcia Lorca, patungkuda Troya dari Yunani, kudatumbal untuk Dewa Agni di india,kuda padang pasir dalam eposperang Badar, kuda pasukan kaisarTai Tsung di Mongolia, hinggaGagak Rimang milik Arya Penangsangdan kuda-kuda kutukanjelmaan bidadari dari dunia pewayangan.

Apa yang ingin diringkikkan dalambuku ini bermuara pada ilmukaturanggan. Ilmu ini mempelajarisegala hal ihwal dunia kuda: mulaipembagian kuda berdasarkan penampakanfisik, tata cara memilihdan merawat kuda nan rinci, hinggateknik-teknik pengobatan. Takjelas betul, siapa yang merumuskankaturanggan mula-mula. Sepertijuga pranata mangsa (farmingalmanac), katuranggan diwariskanserta dikembangkan dari generasike generasi dan dibiarkan tak bertuan.Dalam perkembangannya, ilmuini malah mencakup jenis hewanlain seperti merpati dan perkutut,bahkan meluas hingga duniaseksualitas.

Katuranggan bukanlah ilmu gaibatau mistis. Ilmu ini dibangunmelalui pengamatan yang ketatdan pada gilirannya melahirkankaidah-kaidah tertentu. Kegiatanilmiah semacam ini tak jauh bedaprinsipnya dengan observasi empirisdalam tradisi positivisme Barat.

Observasi empiris memang bergunasejauh manusia berhasil menangkapdan memahami “gelagatkesemestaan” dengan menyediakanjarak terpisah dari obyek yangditeliti. Namun, katuranggan takberhenti di situ. Ada semacam peleburansubyek dan obyek dalamkesatuan utuh yang saling memahamidan mengandaikan. Katuranggan,dengan demikian, merupakansalah satu khazanah Jawayang melihat alam dalam dimensikosmologis. Manusia dilihat sebagaibagian, dan bukan pusat, darikeseluruhan tata kosmos yang berjalansecara alamiah dan seimbang.Ilmu membimbing manusia,tumbuhan, binatang dan sekianmakhluk lainnya dimanunggalkandalam kesatuan gerak hidup.

Inilah yang kemudian diceritakanoleh “aku” perihal Mbah Koni,seorang dukun kuda di Yogyakarta.Kepadanya, segala macam problemtentang kuda dicarikan jalan keluarnya:mulai kuda yang salah urat,masuk angin, stres, hingga obat jamumujarab. Di kalangan kusir dokar,ia adalah sosok yang sangat dihormati,bukan saja karena keahliannyanamun juga sikap rendahhatinya. Mbah Koni tahu persis duniakuda sampai-sampai... “Akutak bisa bicara kepadanya. Tapi dengancepat ia tahu sakitku”.

Yang menarik dari Mbah Koniadalah letak titik lebur antara dirinyadan kuda. Katanya, manusiaitu jumbleng (septic tank) berjalan,kotor, ke mana-mana membawakotoran. Yang membedakannyadengan manusia adalah etika. Padatitik semacam inilah kita sesungguhnyasulit menolak bahwaternyata ada kebinatangan dalamkemanusiaan dan ada kemanusiaandalam kebinatangan.

Kalau begitu, cukup legawakahkita mengakui bahwa sejarah manusiaadalah juga sejarah kuda,khususnya, dan para binatang, padaumumnya?

AHMAD MUSTHOFA HAROEN, PUSTAKAWAN, TINGGAL DI YOGYAKARTA