Home
Sudut Lipatan
Dari Katalog Lama
Surat
Arsip
Kolom
pengarang
Katalog Baru
U L A S A N
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 30 Desember 2008

Cerita Sampul


Pasukan Khusus Tanah Pasundan

Cerita silat yang tak lagi diminati untuk sastrawan muda itu kini terpaksa diisi oleh "pendekar tua".

Saini K.M dikenal sebagai penggiat sastra dan teater di Tanah Pasundan. Pria kelahiran Sumedang, 16 Juni 1938, ini ikut memprakarsai terbentuknya Jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung.

Saini memiliki karya cerita silat fenomenal yang berlatar sejarah Kerajaan Sunda Pajajaran. Cerita bersambung berjudul Puragabaya tersebut ditulis di harian Pikiran Rakyat selama tujuh tahun di tahun 1970-an. Puragabaya juga pernah dipentaskan dalam bentuk teater. Pada saat itu, karyanya banyak dinilai sebagai cerita silat berlatar budaya Pasundan yang paling populer.

Kini, karyanya ditulis kembali dalam tiga buah novel seri Ksatria Hutan Larangan yang diterbitkan Penerbit Bentang, Yogyakarta. Novel tersebut dikemas apik dalam tiga jilid yang diberi judul Pangeran Anggadipati, Raden Bayak Sumba, dan Pertarungan Terakhir. Ketiga novel tersebut dibuat berdiri sendiri dengan jalinan kisah yang tersambung.

Dalam ketiga novel tersebut, Saini menggambarkan kisah ksatria Sunda yang mumpuni di olah kanuragan dan bertidak-tanduk laksana pendeta. Nilai-nilai budaya kesundaan jaman baheula tertanam dengan baik sebagai pesan moral yang mewarnai seluruh jalinan cerita. Saini tampaknya sangat paham dengan apa dan bagaimana budaya Sunda.

Ketiga seri Ksatria Hutan Larangan ini berkutat pada kisah pasukan khusus Kerajaan Pajajaran, yakni Puragabaya. Mereka adalah para ksatria pilihan yang terdiri dari para putra bangsawan Pajajaran yang disiapkan menjadi pengawal pribadi para pejabat kerajaan. Puragabaya dididik secara khusus di sebuah tempat di Hutan Larangan, yakni Padepokan Tajimalela. Puragabaya digembleng menjadi manusia yang sangat langka, berkemampuan laksana binatang buas, sekaligus harus berbudi pekerti yang halus.

Seri pertama, Pangeran Anggadipati dengan sub judul "Darah dan Cinta di Kota Medang", diawali dengan cerita Anggadipati muda dididik menjadi Puragabaya. Anggadipati dan para putra bangsawan Pajajaran pilihan lainya harus menjalani berbagai latihan yang keras dan bahkan mengancam nyawa.

Konflik bermula ketika Anggadipati terpaksa mencelakakan Jante Jaluwuyung, sahabat sekaligus calon kakak iparnya. Keluarga Jante, termasuk kekasihnya, Putri Yuta Inten, bertekad membalas dendam atas kematian tragis pangeran dari Medang itu. Darah harus dibayar dengan darah. Drama cinta mengharu biru Anggadipati-Yuta Inten pun menjadi bumbu penyedap, selain tentunya menu utama petualangan para Puragabaya dalam buku setebal 396 halaman itu.

Buku kedua serial ini berpusat pada perjuangan adik Jante Jalawuyung, yang bernama Raden Banyak Sumba, untuk membela kehormatan keluarganya. Banyak Sumba mendapat tugas untuk membunuh Anggadipati. Demi menuntaskan dendam dia bahkan rela meninggalkan Emas Purbamanik, kekasih yang ditemuinya di atas benteng puri Purbawasesa.

Untuk menandingi kesaktian Pangeran Anggadipati, Banyak Sumba harus bekerja keras meningkatkan kemampuannya. Guru demi guru dia timba ilmunya. Belantara demi belantara dia jelajah untuk mengasah keuletan tubuhnya. Saini menghabiskan 358 halaman di buku kedua ini untuk perjuangan Banyak Sumba.

Banyak Sumba yang hampir putus asa karena tak kunjung bsa menuntut balas akhirnya menggabungkan diri dengan gerombolan penjahat Si Colat. Sebagai musuh utama Pajajaran, gerombolan Si Colat diburu oleh pasukan Puragabaya. Dengan begitu, Banyak Sumba berharap bisa bertemu Pangeran Anggadipati dan membalaskan kematian kakaknya. Ditambah dengan bantuan bangsawan berandalan dari Wangsa Wiratanu.

Seri ketiga, Pertarungan Terakhir, menjadi pamungkas yang berakhir bahagia. Akhirnya, Banyak Sumba memang berhasil bertemu kembali dengan Pangeran Anggadipati. Namun, di saat terakhir ia sadar musuh sesungguhnya adalah Si Colat. Perampok cum pemberontak itu akhirnya tewas di tanganya.

Banyak Sumba yang juga hampir tewas dalam pertarungan terakhir dengan Si Colat kemudian diselamatkan Anggadipati dan Putri Purbamanik. Akhirnya, kesalahpahaman dituntaskan dengan mediasi Prabu Siliwangi. Anggadipati akhirnya berhasil menyunting Putri Yuta Inten dan Banyak Sumba pun menyunting putri pujaanya.

Bagi pecinta silat ala SH Mintardja atau Kho Ping Ho, cerita Saini mungkin sedikit membosankan. Saini lebih banyak menggambarkan filosofi dan kehidupan masyarakat Sunda jaman dahulu. Adegan-adegan silat hanya digambarkan dalam halaman yang terbatas. Pertarungan terakhir melawan Si Colat pun disajikan kelewat garing: tanpa proses pertarungan yang seru tiba-tiba Si Colat dan Banyak Sumba sudah tersungkur bersimbah darah.

Deskripsi tempat pun terasa kurang berhubungan. Saini lebih suka menyebut "puri" daripada "keraton" atau "istana". Padahal, istilah "puri" tak dikenal di tlatah Nusantara ini. Gerombolan Si Colat yang menyebarkan pamflet untuk mengobarkan kebencian terhadap pemerintahan pajajaran pun sepertinya terlampau modern. Jalinan cerita secara keseluruhan pun terlalu bertele-tele.

Setidaknya Saini telah mengisi ruang kosong khazanah cerita silat yang ditinggalkan penulis masa kini. Cerita silat yang tak lagi diminati untuk ditulis oleh sastrawan muda terpaksa diisi oleh "pendekar tua" semacam Saini KM.

GUNANTO E S