Bayangkan jika tokoh utama cerita adalah seorang biarawan --salah satu gambaran ideal kebaikan --yang bergerak dari karakter protagonis menjadi antagonis.
Matthew Gregory Lewis, novelis dan penulis drama dari Inggris, belum genap 20 tahun ketika menyelesaikan The Monk pada 1796 dalam waktu sepuluh pekan. Karyanya ini menjadi novel gothic sensasional di masanya --dia sering dikenal sebagai “Monk” Lewis, karenanya.
Dalam novelnya ini, Lewis mengisahkan perjalanan hidup Ambrosio, biarawan di Spanyol yang hidup saleh tapi lalu terperosok ke dalam kehinaan karena hasrat biologisnya. Penyebabnya adalah seorang perempuan yang menyamar menjadi biarawan dan menjadi muridnya. Namanya Matilda. Hubungan badaniah dengan Matilda mendorong Ambrosio untuk mendapatkan Antonia, seorang gadis polos.
Matilda membantu Ambrosio untuk mempengaruhi Antonia dengan menggunakan mantra sihir. Inilah kesalahan kedua Ambrosio --setelah seks. Ambrosio lalu memperkosa dan membunuh Antonia. Kedok Matilda terbongkar sebagai instrumen setan dalam wujud perempuan, yang memang telah mengatur kehinaan bagi Ambrosio sejak awal.
Di tengah-tengah menuturkan kisah itu, Lewis berkali-kali membuat belokan-belokan, yang melipatkan atmosfer gothic tanpa beranjak banyak dari plot utama. Sebuah cerita panjang tentang “Biarawati yang Berdarah” pun dituturkan, dan banyak bagian dadakan yang dikemukakan. Romansa kedua, antara Lorenzo dan Antonia, misalnya, menjadi tumpuan bagi cerita tentang saudara perempuan Lorenzo yang disiksa oleh suster munafik. Akhirnya, cerita kembali ke Ambrosio, dan di sejumlah halaman yang menggairahkan Ambrosio diserahkan untuk menjalani Inkuisisi; dia melarikan diri dengan cara menyerahkan jiwanya kepada iblis. Cerita berakhir ketika iblis mencegah Ambrosio untuk bertobat, dan biarawan hina itu pun menjalani siksaan maut yang berkepanjangan.
The Monk dikenang sebagai satu novel gothic yang seram dan melampaui novel gothic lainnya: menonjolkan perjanjian dengan setan, perkosaan, inses, dan aneka “properti” seperti Yahudi Pengembara, reruntuhan kastil, dan Inkuisisi Spanyol, ia merupakan ikhtisar selera ghotic. Novel ini pula yang pertama kali mengedepankan biarawan sebagai tokoh jahat. Walaupun kritikus menilainya sebagai karya mentah dan dangkal, ia tak terbendung menjadi satu dari novel paling populer dalam Periode Romantik. Dan ini kemudian menjadi model untuk karya sastra di masa mendatang, seperti The Hunchback of Notre Dame.
Matthew Gregory Lewis (9 Juli 1775-14 Mei 1818) lahir di London dan dididik untuk berkarier sebagai diplomat di Westminster School dan Christ Church, Oxford. Tapi ia justru lebih banyak menghabiskan liburannya di luar negeri untuk belajar bahasa modern. Pada 1794 ia pergi ke Den Haag sebagai atase Kedutaan Inggris. Walaupun ia hanya tinggal beberapa bulan, di sanalah ia menghasilkan Ambrosio atau The Monk. Namanya pun melambung.
Lewis menerbitkan edisi kedua dengan menghapus sejumlah bagian yang ia anggap kontroversial. Tapi secara keseluruhan novel itu masih mempertahankan karakternya yang menyeramkan.
Popularitas itu ikut mengantarkan Lewis menjadi anggota parlemen. Setelah beberapa tahun, ia akhirnya meninggalkan karier sebagai anggota perlemen. Minatnya berada sepenuhnya di wilayah sastra. Pada 1796 lakon dramanya, The Castle Spectre, bertahan lama di panggung. Beberapa karyanya yang lain menyusul.
Ketika ayahnya meninggal ia mewarisi kekayaan yang melimpah. Ia lalu menggunakannya antara lain untuk melakukan perjalanan ke Hindia Barat pada 1815(untuk mengunjungi tanah perkebunannya) dan Jamaika pada 1817 (dengan harapan bisa lebih mengenal dan memperbaiki kondisi budak). Tapi perjalanan-perjalanan di kawasan beriklim tropis itu membuatnya letih. Dalam perjalanan pulang ia diserang demam, yang mengakibatkan kematiannya. oliviaks