Home
Arsip
Artikel Lepas
Dari Katalog Lama
Kolom
U L A S A N
Surat
Sketsa
Paragraf
Sudut Lipatan
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 28 Juli 2008

Sketsa


Di Kuningan, BUKU JAKARTA BERUMAH

PUSTAKA YANG PUNYA POJOK KHUSUS UNTUK BUKU TENTANG IBU KOTA .

Teras rumah Betawi Bapang itu amat teduh dengan atap bagian muka rumah yang rendah dan dihiasi ukiran Gigi Balang. Di balik pagar kayu yang mengelilingi teras itu ada empat kursi kayu yang mengelilingi sebuah meja bundar di sebelah kanan dan pengaturan yang sama di sisi yang lain.

Rumah yang biasa ditemui di kampung adat Betawi ini berada di lantai delapan gedung yang menjulang di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Ini memang bukan rumah tinggal betulan, melainkan sebuah ruangan di Kantor Perpustakaan Umum Daerah (Perpumda) Provinsi DKI Jakarta di Gedung Nyi Ageng Serang.

Yang khas Jakarta dari Ruangan Koleksi Khusus Jakarta ini bukan sekadar desain interiornya tapi juga isinya. Sesuai namanya, ruangan yang dirampungkan sekitar 2001 ini menyimpan koleksi perpustakaan yang bertema kota Jakarta dan budaya Betawi.

Kepala Bidang Layanan dan Informasi Perpustakaan Perpumda DKI Jakarta, Bambang Chidir, menjelaskan kantornya memang ditugasi memberi perhatian khusus terhadap koleksi cetak dan audiovisual dengan muatan dan tematema lokal. Menurut Bambang, ruang koleksi ini memang sengaja dibuat dengan gaya rumah adat Betawi agar lebih kental dengan atmosfer Jakarta dan bisa menarik perhatian pengunjung. “Setiap perpustakaan harus punya ciri khas, dan ruangan itulah ciri khas kami,” kata Bambang.

Menurut catatan Perpumda, ada 570 judul buku yang keseluruhannya berjumlah 1980 eksemplar di ruangan seluas lapangan bola voli tersebut. Banyaknya eksemplar memang jauh melampaui jumlah judul sebab ada satu judul yang terdiri lebih dari satu eksemplar bahkan ada yang mencapai 25 eksemplar.

Dari seluruh koleksi ruangan tersebut, bisa dibilang karya Adolf Heuken SJ. yang paling banyak memenuhi rak-rak buku. Selain pembahasan soal sejarah kota Jakarta zaman kolonial, Heuken juga mengulas sejarah mesjid, gereja, dan klenteng tua serta perkembangan kawasan Menteng.

Perpustakaan ini memiliki beberapa seri buku sejarah Jakarta milik Heuken yang agak sulit dicari meski tahun terbitnya baru lima tahun silam. Salah satu koleksi seri ini yang unik adalah buku Sumbersumber Asli Sejarah Jakarta 1513- 1619 yang memuat naskah tua soal Jakarta dalam aksara Sunda dan Jawa, serta bahasa Portugis dan Belanda disertai terjemahannya.

Selain buku sejarah zaman kolonial, banyak pula buku Jakarta di era modern misalnya saja memoar hidup di Jakarta yang dijalani penikmat jalan-jalan asal Kanada, Jeremy Allan, dalam bukunya Jakarta Jive, A Story of Survival in a City of Upheaval. Sisi metropolis Jakarta juga bisa ditemui dalam beberapa buku kumpulan foto Jakarta dan canda renyah Benny dan Mice dalam buku karikatur Lagak Jakarta.

Tak cuma buku ‘serius’ yang memenuhi ruangan ini. Berbagai buku fiksi dari penulis lokal dan mancanegara juga melengkapi koleksi ruangan ini sebut saja karya Firman Muncato, Alwi Shahab, Ridwan Saidi, Remy Silado, Agnes Jessica.

Layaknya kota Jakarta yang semenjak dulu kala sering dikunjungi orang asing, karya novelis mancanegara juga meramaikan ruangan khusus ini. Ada kisah reaktor nuklir di pesisir utara Jakarta karya penulis asal Australia, Kerry B. Collison, dalam novel Jakarta, dan cerita seputar korupsi dan kekerasan berlatar Jakarta yang ditulis Alan Brayne dalam Jakarta Shadows.

Di luar koleksi terbitan partikelir ini, koleksi selebihnya merupakan terbitan Pemda DKI Jakarta mulai dari kumpulan peraturan daerah hingga buku Djakarta Through The Ages dengan desain yang terbilang kelewat modern untuk buku yang terbit pada 1969.

Meski statusnya perpustakaan yang dikelola pemerintah daerah, pengelolanya cukup adil karena koleksi ruangan khusus ini tak melulu berisi yang bagus dan manis soal Jakarta. Mereka memasukkan juga seri Jakarta Undercover milik Moammar Emka yang bercerita soal potret buram kehidupan malam ibukota.

Di salah satu rak juga bisa ditemui pemaparan Subhan S.D. soal kriminalitas kota dalam buku Danger Zone; Jalan, Perempatan, & Kawasan Rawan di Jakarta yang diterbitkan Gagas Media. Telaah dan kritik kebijakan mengenyahkan becak dari Jakarta yang kontroversial dalam buku Abang Becak, Sekejam-kejamnya Ibu Tiri Masih Lebih Kejam Ibukota yang ditulis Yoshifumi Azuma juga bisa ditemui di sini.

Selain buku, ada pula koleksi musik dan film tradisi pernikahan khas Betawi dan beberapa film dari aktor kawakan tanah Betawi, Benyamin S. Pengunjung bisa meminta pustakawan memutarnya pada seperangkat peranti home theater.

Bambang mengakui, koleksinya belum lengkap karena pengadaan buku setahun sekali kadang terbentur masalah pendanaan dan sulitnya mencari buku yang penting dan langka. Meski begitu ia mengaku senang sebab banyak mahasiswa, peneliti, dan penulis yang datang mencari informasi ke ruangan khusus ini. “Kami memang sengaja menyiapkannya menjadi pusat referensi soal Jakarta,” ujarnya.

Ketika Tempo melongok daftar hadir ruangan khusus tersebut, paling tidak ada 50 orang berkunjung setiap bulannya. Seperti kata Bambang, mayoritas pengunjung memang masyarakat umum dan mahasiswa. Salah satunya adalah Feliana, 22 tahun. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanegara ini tengah mengerjakan skripsinya soal pembangunan pusat kebudayaan Betawi. Karena tak banyak literatur seputar kota Jakarta di perpustakaan kampus, Feliana berkunjung ke perpumda setelah mengetahui keberadaan perpustakaan tersebut di situsnya.

Ia benar-benar terkejut saat menemukan ada ruangan koleksi khusus Jakarta. Tanpa buang waktu ia menelusuri buku demi buku di ruangan tersebut untuk mencari lokasi dan bentuk yang pas untuk bangunan pusat budaya itu. “Informasinya cukup banyak membantu pengerjaan skripsi saya,” ujarnya.

Feliana mengaku sangat gembira ada ruangan khusus untuk buku soal Jakarta. Toh ia punya satu keluhan, “Susahnya di sini tidak ada katalognya, jadi harus cari satu demi satu,” kata Feliana.

Ia juga mengeluhkan tidak ada pengelompokan yang jelas antara buku fiksi dan nonfiksi. Tak jelas juga pemisahan antara buku sejarah kota dan buku budaya Betawi. Mau tak mau pengunjung harus melongok satu demi satu repotnya ada buku yang tidak memiliki judul di bagian samping.

Meski sangat tertarik meminjam koleksi ruangan khusus ini, Feliana terpaksa gigit jari sebab semua koleksi di ruang yang buka mulai pukul sembilan pagi hingga pukul delapan malam ini tidak boleh dipinjam. Pengunjung hanya bisa membaca di tempat atau jika perlu dapat memfoto kopi dengan biaya sekitar Rp 150 per lembar. “Terpaksa kami tetapkan begitu karena kalau hilang kami sulit mencari gantinya,” kata Bambang. Buku langka dan bagus memang harus dirawat baik-baik. OKTAMANDJAYA WIGUNA