Home
Kolom
Sudut Lipatan
Surat
Arsip
Dari Katalog Lama
U L A S A N
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 25 Mei 2008

U L A S A N


Selamat Tinggal Thompson & Thomson, Selamat Datang Dupont & Dupond

Tintin Kembali Ke Indonesia dengan wajah baru.

Gramedia Pustaka Utama menerbitkan serial komik Tintin dalam format dan terjemahan baru. Tokoh komik legendaris asal Belgia ini hadir di Indonesia untuk ketiga kalinya dalam sejarah, setelah penerbit Tiga Lima Djakarta (tahun 1950-an) dan Indira (1975 hingga 2006). Kehadiran kembali Tintin patut mendapat perhatian utama karena kini tampil dalam kemasan yang lebih mungil dan praktis, selain terjemahan yang merujuk pada versi asli bahasa Prancis.

Tintin melegenda di Indonesia, tidak hanya di Eropa dan negara lain, ketika hadir dalam format penuh warna dan standar ukuran bandee desinee (sebutan khas untuk buku komik di Eropa) pada pertengahan dekade 1970-an. Kehadirannya dicatat dalam sejarah saat memimpin serbuan komik asing ke Indonesia, kelak disusul dengan komik asal Amerika dan Jepang, serta bersaing head-to-head dengan komik Indonesia yang ketika itu masih dalam format hitam-putih dan berukuran sedang. Sejarah juga kelak akan mencatat bahwa Tintin, bersama Asterix (serial komik asal Prancis), menjadi tokoh komik Eropa terakhir yang tunduk pada serbuan komik manga Jepang. Usai merilis 23 judul, tanpa episode terakhir, yaitu Alph-Art, penerbit Indira menutup perjalanan panjang Tintin di Indonesia pada 2006.

Usaha GPU mempopulerkan kembali Tintin menuai optimisme dan pesimisme. Mampukah Tintin kembali menjadi ikon kecintaan generasi muda dan tua akan komik yang sarat dengan unsur persahabatan, petualangan, komedi, suspense, dan latar belakang cerita yang masih relevan bahkan hingga sekian dekade? Mungkinkah akhirnya Tintin terpaksa menyerah pada kekuatan pasar komik manga Jepang, yang saat ini juga sedang 'menjajah' pentas komik Eropa dan Asia?

Pecinta Tintin generasi lama kini dapat menikmatinya lagi dengan nuansa berbeda. Untuk pertama kalinya Tintin Di Congo diterbitkan di Indonesia dalam format berwarna. Sebelumnya masyarakat mengenal Tintin di Congo versi asli hitam-putih. Kelak pembaca Tintin dapat mengenal episode terakhir, Alph-Art (diterjemahkan secara keliru oleh GPU dengan judul Alpha-Art), yang tidak sempat diselesaikan Hergé, sang pencipta Tintin, saat meninggal dunia pada 1983.

GPU juga mencoba mengubah citra Tintin versi penerbit sebelumnya. Selain perubahan pada ukuran buku dan nama judul, beberapa nama tokoh mengalami perubahan signifikan. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi GPU mengambil sumber bahasa Prancis. Konon, penerbit sebelumnya, Indira, sudah mendaftarkan hasil terjemahan ke-23 judul ke Direktoran Jenderal HaKI sebagai perlindungan pada usaha keras mereka selama lebih dari 30 tahun.

Tokoh anjing Snowy kini bernama Milo, Prof. Calculus menjadi Prof. Lakmus, serta kedua detektif Thompson dan Thomson kini menjadi Dupont dan Dupond. Entah apa lagi yang akan disesuaikan dengan versi Prancis. Namun kebanyakan penggemar Tintin menantikan kehadiran Kapten Haddock, yang terkenal khas dengan perbendaharaan kata-kata makian. Bagi sebagian besar penggemar koleksi makian Haddock inilah yang menjadi ciri khas serial komik Tintin, sesuatu yang sudah disadur dengan nyaris sempurna oleh Indira. Saat ini GPU sudah menerbitkan hingga judul kedelapan, Tongkat Ottokar. Kapten Haddock baru akan tampil mulai judul kesembilan, Kepiting Bercapit Emas.

Di sisi lain, ‘pengembalian’ nama-nama tokoh kepada versi asli dirasakan tepat, ketika Tintin dan kawan-kawan diperkenalkan kepada generasi muda. Generasi yang sebelumnya tidak mengenal Tintin versi Indira. Memang inilah tujuan utama GPU, yaitu memperkenalkan Tintin kepada pembaca baru, walau tak dipungkiri pembaca Tintin lama juga sebagai pangsa pasar penting. Sudah waktunya pula para pembaca senior memahami asal-usul Tintin dengan mendapatkan referensi lain. Salah satunya dengan mengenal para tokoh dengan nama-nama ‘baru tapi lama’.

Penyesuaian lain yang harus dialami pembaca Tintin adalah ukuran teks yang sangat kecil. Sekali lagi ini, sebagai konsekuensi atas kemasan mungil ini. “Sulit sekali membacanya,” ucap Marcel Maulana, pembaca setia Tintin sejak edisi penerbit Tiga Lima Djakarta. Keluhan pembaca lain adalah terlalu banyaknya singkatan ‘yg’, ‘tdk’, ‘dng’, dan lainnya pada balloon text. Banyaknya singkatan ini sangat mengganggu pemandangan. Sangat mungkin hal ini dilakukan mengingat terbatasnya ruang dalam balloon text. Tapi ini bisa diperdebatkan. Tintin juga diterjemahkan ke dalam banyak bahasa lain seperti Arab, Cina, Jepang, Rusia, Tibet, Yunani, Israel, Bengali India, Armenia, Thailand, dan puluhan lainnya. Mereka mampu mencari jalan keluar dengan mencari padanan kata atau kalimat sedekat mungkin dengan teks asli, sehingga rangkaian kalimat mampu tersusun secara rapi dalam ruang balloon text yang terbatas. Di sinilah seharusnya penerjemah profesional berperan mencari solusi terbaik dalam berbagai kendala teknis.

Mayoritas pembaca komik di banyak negara masih merekomendasikan serial komik Tintin sebagai bacaan berkualitas tinggi. Tidak hanya kesederhanaan visual, dialog yang kocak, atau kisah sarat petualangan. Namun juga sebagai pintu gerbang yang tepat bagi siapa pun, termasuk anak-anak, mengenal dunia dengan berbagai permasalahannya. Pembaca dapat mengikuti Tintin berkelana ke banyak negeri asing dan berkenalan dengan aneka budaya setempat. Pembaca juga diperkenalkan dengan berbagai isu yang masih relevan hingga hari ini, bahkan sejak terbit pertama pada 1929. Kenalilah tema penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lain, perdagangan obat bius, pembunuhan dan penyelamatan binatang liar, pemalsuan uang kertas, kompetisi antarnegara dalam ilmu pengetahuan, perburuan harta karun, penjelajahan ke bulan, senjata pemusnah masal, perdagangan budak, penculikan oleh alien, kudeta tak berdarah, hingga pemalsuan benda-benda seni. Singkatnya, ke-24 judul Tintin mencerminkan semua peristiwa penting abad ke-20, dan semuanya masih kita temukan terjadi hari ini.

Selamat datang kembali di Indonesia, Tintin dan kawan-kawan. Semoga kali ini kalian tidak sekedar mampir di bandara Kemayoran Jakarta (yang kini sudah tinggal kenangan) dan terdampar di perairan Sulawesi, saat perjalanan menuju Sydney. Semoga kali ini kalian benar-benar betah untuk tinggal lebih lama lagi di Indonesia, dan kembali menjadi anggota keluarga pecinta komik segala usia.

Surjorimba Suroto tintin_id@yahoogroups.com