Judul : Onze Ong, Onghokham dalam Kenangan
Penulis : David Reeve, JJ Rizal, Wasmi Alhaziri (ed.)
Penerbit : Komunitas Bambu, Jakarta
Cetakan : I, Desember, 2007
Tebal : xvi + 358 Halaman
Dari sedikit sejarawan berkualitas yang dimiliki bangsa ini, Onghokham adalah salah satunya. Sejak muda, ia dianggap salah satu pintu gerbang bagi sarjana-sarjana asing yang ingin mengenal sejarah Indonesia dari dekat. Ketika kemudian gelar doktor dari Universitas Yale diraihnya, kredibilitas Ong sebagai sejarawan kian kukuh. Hanya saja, seberapa pun dalam wawasan historisnya, teman-teman terdekat Ong akan segera menolak definisi Onghokham sebagai ahli sejarah semata-mata.
Ya, meski Onghokham sendiri berseru "Saya seorang sejarawan" ketika memulai buku Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong, predikat apa pun tak bisa mewakili Ong yang utuh, karena Ong tak dibatasi kapling kategoris. Ia memang punya sederet predikat: sejarawan, kolomnis, intelektual, koki, penggila pesta, penggemar barang antik, hingga eksentrik. Tak ada satu istilah paling absolut untuk merujuk pengertian tentang siapa Onghokham seutuhnya. Onghokham adalah Onghokham. Titik.
Begitulah yang terungkap dalam buku testimonial ini, Onze Ong, Onghokham dalam Kenangan. Diniati untuk mengenang 100 hari kepergiannya ke alam baka, buku ini adalah album tempat berbagai kolase kenangan ditempelkan. Sahabat-sahabat Ong menuliskan kesan-kesan pribadi secara beramai-ramai. Ada Ben Anderson yang tak bisa lupa tahun-tahun awalnya di Indonesia bersama Ong muda, Barbara Hartley saat belajar bersama di Yale, Anthony Reid yang dibukakan matanya perihal lanskap budaya petani Jawa, David Reeve yang terkesan dengan kompleksitas budaya Jawa dalam pemikiran Ong, Mary Heidhues yang terkenang dengan Ong era 1960-an, hingga Sidney Jones yang terpesona dengan keramahan ala Ong.
Belum lagi tulisan-tulisan koleganya dari dalam negeri, dari Adrian Lapian, Asvi Warman Adam, Christianto Wibisono, Dede Utomo, Goenawan Mohamad hingga Taufik Abdullah. Semuanya mendedah kembali memori masa lalu yang begitu personal dan intim.
Ong yang mereka kenal melampaui diskusi-diskusi akademik atau berbagai karya tulis ilmiah. Jarang dari mereka yang mengulas karier dan pemikiran intelektual Ong dengan rumit. Wajar memang, kala seseorang yang dicintai pergi jauh, sahabat-sahabatnya ingin mendekat kembali. Ong begitu dekat, hingga tiap kata yang ditulis dalam buku ini seolah tak muat menggambarkan keintiman itu.
Begitu dekatnya, buku ini mengantarkan pembaca untuk mengenal sisi hidup Ong dalam dimensi yang hampir tanpa jarak. Tak ada yang tabu membahas kehidupan Onghokham. Nilai-nilai kepatutan yang jamak berlaku di masyarakat tak berlaku untuk Ong. Para kontributor tak segan membicarakan kisah-kisah yang aneh, sinting, nekat, menggelikan, hingga yang menggugah, inspiratif atau mencerahkan. Bagaimana pun, Ong yang utuh adalah penjumlahan dari seluruh apa yang ia pikirkan dan lakukan.
Dosen Universitas Indonesia Kasijanto Sastrodinomo, misalnya, dalam tulisan "Sisi 'Error' Pak Ong", menggambarkan Ong sebagai sosok yang nyeleneh. Tak mau kawin, tak berhasrat dengan gelar gelar guru besar (sebab malas berhadapan dengan birokrasi), menenteng ikan segar ke dalam kelas kuliah atau sering tidak meluluskan mahasiswa adalah sebagian keanehan yang oleh Kasijanto dianggap sisi error. Ong tak segan melabrak kepantasan umum demi sesuatu yang diyakininya benar. Di sinilah, menurut Kasijanto, Ong menjadi sosok pembelajar yang otentik, yang tak melulu tunduk pada paksaan nilai.
Para mahasiswa yang pernah diajar Ong tentu tahu betul betapa eksentriknya gaya mengajar dosen yang satu ini. Ia paling tidak teratur menyusun silabus, materi kuliahnya melompat-lompat, soal ujian yang susah dibaca dan dipahami, hingga lemparan penghapus penuh debu kapur untuk mahasiswa bego.
Tak bisa dielak, butir-butir pemikiran Ong memang terserak dan tak tertata rapi. Jika menulis atau bicara, gagasan-gagasannya berdesakan keluar melalui celah kata yang amat sempit. Tanpa kadar pengetahuan yang mumpuni, orang akan kesulitan memahami pemikiran Ong yang brilian namun ruwet itu. Berbagai tulisan tersiarnya di Tempo, Prisma, Kompas dan media lain harus disunting lebih dulu oleh editor yang andal agar lebih mudah dicerna pembaca.
Lepas dari intelektualitasnya yang mengagumkan dan teruji, Ong di mata para sahabat adalah sosok yang hangat. Semua sahabat dekatnya sangat mengerti kegemaran Ong seputar dunia kuliner. Dalam sebulan, bisa 3-4 kali ia mengundang para koleganya berpesta di kediamannya.
Dia sangat suka makan enak. Baginya, menolak kenikmatan makanan sama artinya dengan menolak surga. Goenawan Mohamad dalam pidato sambutan ulang tahun Ong ke-70 memberi bocoran bahwa selain menggondol gelar doktor dari Yale, Ong juga membawa serta gelar gourmet (ahli mencicipi masakan) dan ahli masak sekaligus.
Ong punya selera makan tiada tanding. Lidahnya yang kosmopolit mampu menerima segala jenis masakan ala manapun. Kerongkongannya juga tak bisa betah berlama-lama tanpa alkohol. Masa bodoh dengan pantangan medis atau norma, sepanjang enak dan berselera, semuanya jadi halal.
Ong kerap kali mencemooh orang kaya namun berselera rendahan. Ia sendiri bukan orang yang secara finansial berada. Tapi, Ong tak pernah kehabisan cara untuk melampiaskan kegemarannya itu. Tak jarang ia tiba-tiba hadir dalam suatu pesta sekadar untuk mencicipi hidangan, sekalipun ia tak diundang.
Sepintas lalu, seolah tak ada hubungan serius antara kadar intelektualitas dan selera makan Ong yang begitu tinggi. Eit, tunggu dulu, menikmati makanan dalam dunia Ong adalah penelusuran peradaban. Setiap kebudayaan memiliki berbagai ekspresi sendiri untuk menampilkan dirinya. Masakan adalah salah satu cara paling ampuh.
Tradisi rijsttafel ala kolonial Belanda, contohnya, adalah jamuan makan besar-besaran, dengan beraneka hidangan nan mewah dan berlimpah. Bahasa table manner akan menunjukkan bahwa rijsttafel adalah semacam cara lain untuk menunjukkan kebesaran dan pengaruh yang kuat. Cara ini kemudian ditiru raja-raja di Jawa dalam jamuan-jamuan di keraton.
Goenawan Mohammad membikin parabel yang baik soal dunia kuliner Ong. Menurutnya, baik sejarawan atau juru masak, keduanya sama-sama mengolah bahan dari detail, dengan metode dan cara yang kurang lebih ajek dan menyuguhkan hasil akhir dengan sentuhan personal.
Demikianlah, Ong adalah seorang hedonis, sosok yang mempersetankan segala yang haram. Ong melahap makanan dalam kenikmatan puncak. Kenikmatan yang tak sekadar mengunyah, menelan, mencerna dan membuangnya ke lubang kloset, namun lebih pada penghayatan pada hidup yang hanya sekali dan harus dirayakan.
Ong menikmati hedonismenya dengan segenap kesadaran jiwanya sebagai petualang dan kemampuan nalarnya sebagai ilmuwan sejarah. Hal itu terbukti ketika Ong berhenti dari kebiasaan merokok. Bukan ancaman nikotin yang membuatnya takut, namun ia kesal dengan Tommy Soeharto yang sukses memonopoli pasar cengkih nasional.
Ya, buku ini sangat riuh dengan segala macam kenangan. Sebanyak 53 tulisan (daftar isi hanya menyebut 52, karena nama Goenawan Mohammad luput disebut) yang terkumpul dalam buku ini adalah semacam cara lain menyusun karangan bunga bagi Ong yang meninggal 30 Agustus 2007 lalu.
Kematian sering menyisakan kepedihan. Tapi, itu tidak berlaku bagi kematian Ong di mata sahabat-sahabatnya. Semasa hidupnya, Ong menyediakan dirinya dalam hubungan tanpa jarak pada siapa saja. Maka, di saat wafatnya, Ong justru makin memperdekat jarak itu. Onghokham yang tanpa spasi.
Ahmad Musthofa Haroen, staf riset Balairung UGM Yogyakarta