Judul : Rerasan Owah Gingsiring Jaman
Penulis : Prof. DR. N. Driyarkara, S.J.
Penerbit : Penerbit Universitas Sanata Dharma dan Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : XV + 174
Peresensi : Ahmad Musthofa Haroen
Tanpa terasa, lembaran tahun 2007 berakhir sudah. Seperti biasa, banyak orang merasa perlu menyambut tahun baru dengan perayaan yang meriah: pesta kembang api yang menerangi langit malam, pekik terompet di sepanjang jalan atau menggelar pesta semalam suntuk.
Tapi, Pak Naladjaja, dari salah satu pojok sejarah yang kini tak banyak dijamah, memilih cara yang berbeda. Baginya, waktu akan terus bergerak. Meluncur dari satu periode ke periode selanjutnya. Bukankah kalender yang memuat 365 hari itu hanya sekumpulan angka-angka yang jadi penanda? Tanggal menjadi bermakna karena ia menjadi wadah dan diisi serangkaian peristiwa. Sebab manusia punya nalar dan rasa, maka peristiwa menjadi mubazir jika dibiarkan teronggok jadi fosil masa lalu belaka. Pak Nala, begitu nama singkatnya, lantas mengajak kita untuk merenung bersama.
Pak Nala memang bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang guru SD swasta. Ia senang sekali mengamati banyak perkara, dari yang remeh-temeh seperti wedang ronde atau lumpia, hingga yang muluk-muluk semisal bom atom atau emansipasi wanita. Ia juga gemar sekali membincangkan segala peristiwa pada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Ia pun merasa beruntung menjadi rakyat biasa, sebab dengan begitu ia bisa bebas memaknai pernak-pernik hidup dengan kejernihan sebebas-bebasnya.
Buku berjudul Rerasan Owah Gingsiring zaman (Celoteh Perubahan-Pergeseran Zaman) ini berisi 135 esai pendek karya almarhum Profesor Driyarkara dalam bahasa Jawa yang pernah dipublikasikan Praba. Meski hanya membicarakan peristiwa-peristiwa sepanjang tahun 1925 hingga 1956, karya ini masih segar untuk dibaca. Tema-temanya--mulai politik, agama, pendidikan, ekonomi, nasionalisme, korupsi, kebudayaan hingga kehidupan sosial--yang diangkat dalam karya ini masih sangat relevan dengan perkembangan aktual di negeri ini. Justru di situlah kemampuan Driyarkara dalam membaca gerak zaman. Daya jelajah intelektualitasnya sangat futuristik, mampu menembus sekat-sekat waktu.
Driyarkara sengaja menghadirkan tokoh imajiner bernama Pak Nala. Ia menjadi sosok yang menunjukkan kebajikan berfilsafat dari dan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Jika pokok soal filsafat adalah bagaimana menjadi arif dan bijaksana, maka siapa pun, asal punya niat, sesungguhnya bisa berfilsafat. Pak Nala adalah prototipe jenisu lokal yang merepresentasikan kearifan lokal khas wong cilik. Ia mampu merumuskan pertanyaan-pertanyaan mendasar dengan penalaran yang jernih dan bening.
Dibalut dengan narasi cerita yang mengalir, esai-esai Driyarkara menyajikan susasana yang gayeng (cair) tanpa kehilangan akurasi analisa. Misalnya, saat Pak Nala penasaran mengapa Si Pendjol yang bodoh bukan main bisa naik kelas. Usut punya usut, Pak Truna, sang bapak, ternyata memindahkannya ke sekolah lain. Pendjol naik kelas sebab bapaknya bisa menyumbang banyak uang ke sekolah yang baru itu. Pak Nala lantas merenung, inikah yang dimaksud Indonesia maju itu? Apa jadinya negara ini jika dikendalikan lulusan-lulusan dari sekolah seperti itu? Sekolah kok jadi lahan industri.
Masih soal dunia pendidikan. Pak Nala merasa heran dengan para sarjana yang mendem ngelmu (mabuk dengan ilmu) sehingga tak mampu menyelesaikan problem-problem nyata di masyarakat. Bahkan Pak Nala merasa kasihan dengan banyak orang yang mendewa-dewakan ijazah. Celakanya, para pembesar di negeri ini tak luput dari jenis manusia seperti itu. Ijazah sarjana dianggap mencukupi segala kebutuhan dan bisa menjawab semua persoalan.
Dalam potongan kisah yang lain, Pak Nala menemukan buku-buku miliknya digerogoti rayap. Semula ia jengkel, sejenak kemudian menjadi lega. Ia merasa beruntung karena yang dijumpainya hanya rayap biasa. Bukan rayap modern yang bisa naik mobil mewah segala. Bukan rayap modern yang menggerogoti jenis kertas bergambar Bung Karno saja.
Yang menggelikan, Pak Nala pernah penasaran dengan aktivitas gunung-gunung berapi yang tiba-tiba meningkat cepat. Usut punya usut, ternyata alam mengalah pada manusia. Biarlah para petinggi, pejabat, politisi, atau pegawai saja yang malas-malasan bekerja, namun alam tetap harus bekerja keras sesuai kodratnya. Lho, kok?
Kisah-kisah serupa mewarnai riuh-rendah sindiran parikena dalam buku ini. Driyarkara menunjukkan kepiawaiannya mengemas peristiwa-peristiwa secara kronik dalam uraian yang singkat, padat namun terasa begitu longgar. Tiap detail kemudian muncul sebagai letupan-letupan peristiwa yang tak terduga, menggelikan, mengherankan, membingungkan, dan kadang menohok.
Di atas itu semua, Pak Nala sadar bahwa laju perubahan zaman yang begitu cepat memaksanya untuk mengikuti perkembangan secara terus menerus meski keponthal-ponthal (tertatih-tatih). Lelaki sederhana itu berupaya untuk memahami tiap pergeseran secara arif. Ia melintasi hari sebagi penyimak yang baik, pengamat yang peka, penafsir yang jeli, dan pengkritik yang efektif. Ketika buntu, dengan rendah hati Pak Nala akan berceletuk "Piye ya? (bagaimana, ya?)" atau "Mboh ya! (tau, ah!)"
Franz Magnis-Suseno dalam Etika Jawa (cetakan VI, 1996) menyebutkan nilai sosial tertinggi dari kebudayaan Jawa adalah kerukunan (guyub). Kerukunan itu merupakan unsur utama dalam pandangan hidup yang yang memandang realitas kehidupan sebagai kesatuan utuh, keseluruhan dan keterikatan satu sama lain. Setiap tindakan individu kemudian harus disesuaikan dengan tuntutan-tuntutan yang membawa pada kerukunan tersebut.
Seirama dengan penjelasan di atas, keutuhan esai-esai dalam buku ini terletak pada keterikatan satu tulisan dengan tulisan berikutnya. Meski tema yang muncul sangat beragam, Driyarkara konsisten menghembuskan spirit reflektif dalam tiap tulisan. Spirit itu mengalirkan energi untuk menyumbang bentuk keselarasan hidup macam apa yang seharusnya dijalani bersama.
Gaya ungkapnya yang terbatas pada medan semantik Jawa mungkin membatasi segmentasi pembaca, namun renungan-renungan kritis yang terkandung di dalamnya adalah substansi kebijaksanaan hidup yang universal.
Zaman boleh berubah dan memang demikianlah fitrahnya. Waktu akan terus bergerak maju dalam garis linear, menurut Comte. Adapun penganut Hegel akan memandangnya dalam pola spiral dengan kemungkinan peristiwa yang sama akan terus terulang-ulang.
Yang jelas, waktu memang unik sebab manusia tak mampu lepas darinya. Pembahasan mengenai konsep waktu juga telah menguras energi para filsuf dan ilmuwan sepanjang masa. Nah, kehadiran Pak Naladjaja kali ini sangat membantu kita yang awam untuk ikut mengendalikan dimensi waktu agar menjadi wadah yang bermakna. Dunia membutuhkan orang-orang bijak, bukan orang-orang yang mengerti teori filsafat atau ilmu pengetahuan saja.
Jika demikian, bagaimana seharusnya kita menyambut kehadiran tahun 2008? "Mboh ya!" kata Driyarkara, eh, Pak Nala.
Ahmad Musthofa Haroen, penggiat pustaka pada Cabeyan Scriptorium, Yogyakarta