Home
Sudut Lipatan
Dari Katalog Lama
Surat
U L A S A N
Percakapan
Kolom
Arsip
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 27 November 2007

U L A S A N


Sejuta Gagasan di Toyota

Judul: The Elegant Solution – Toyota’s Formula for Mastering Innovation
Penulis: Matthew May
Penerbit: Simon & Schuster
Tebal: 236 halaman

Buku-buku yang bersifat “way” mungkin memang membosankan . Sejauh ini sudah banyak buku serupa, di antaranya Apple Way dan Toyota Way. Tapi buku ini sebaiknya jangan dilewatkan. Mula-mula karena, setidaknya, di dalamnya penuh anotasi yang membantu pembaca untuk merangkum esensi setiap paragraf.

Namun, lebih dari itu, ada tiga hal pokok pembelajaran dari buku ini: pertama, signifikannya pengaruh budaya perusahaan yang kokoh pada kinerja; kedua, cakrawala luas mengenai inovasi; ketiga, perangkat sederhana yang terbukti efektif dan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Fokus pembahasan di dalam buku ini memang pada Toyota Production System (TPS) yang sudah masyhur itu. Sosok Sakichi Toyoda menjadi wacana pembuka dengan pengalaman pribadi masa kecilnya, ketika ia melihat ibunya dan ibu rumah tangga lainnya di kampung memintal secara manual. Ia bertanya kepada dirinya sendiri mengapa tidak membuatnya secara otomatis dengan mesin sehingga pemintalan lebih cepat dan rapi. Dari sinilah lahir tiga prinsip utama yang melandasi TPS dan kajian dalam buku ini: kepiawaian dalam ketrampilan (ingenuity in craft), upaya menuju kesempurnaan (pursuit of perfection), dan kesesuaian dengan lingkungan (fit with society).

Tiga prinsip itu menjadi fondasi kuat yang menjadikan budaya perusahaan kokoh yang ditanamkan sejak zaman Sakichi Toyoda hingga kini. Hal ini diakui karyawan joint venture General Motor (GM)–Toyota yang tadinya adalah karyawan GM. Sang karyawan merasa masuknya Toyota membawa perubahan fundamental dalam budaya perusahaan dari yang sifatnya ”kerjakan saja” (just do your work) ke ”tidak ada orang yang tahu pekerjaan ini lebih baik dari Anda” (no one knows the job better than you). (Hlm. 24). Suatu perubahan yang sangat dramatis. Tapi, ya, begitulah Toyota.

Dengan budaya yang kokoh seperti itu, tidak heran bila Toyota memiliki nilai pasar 150 miliar dolar, mengalahkan jumlah GM, Ford, Daimler-Chrysler, Honda, dan Volkswagen. Sekaligus, Toyota termasuk sepuluh besar perusahaan di dunia dalam hal laba.

Budaya yang kokoh juga melandasi perilaku selalu berubah menuju yang lebih baik. Dalam hal ini Toyota yakin satu-satunya cara mendapatkan ide cemerlang adalah melalui ide yang banyak. Dalam setahun, Toyota menghasilkan sejuta gagasan. Inovasi muncul dari sana. Inovasi didefinisikan bukan selalu terkait dengan hal-hal teknologi maju, namun ditekankan pada pemecahan masalah lebih baik dari sebelumnya (Hlm. 7). Proposisi yang ditawarkan bisa dikatakan sederhana: bila seseorang piawai dalam keterampilan pekerjaannya (ingenuity in craft) dan memiliki semangat menuju kesempurnaan (pursuit of perfection), akan menghasilkan inovasi yang dibutuhkan masyarakat (fit with society).

Buku ini juga menyajikan perangkat (tools) yang bisa digunakan untuk meyelesaikan masalah secara umum. Salah satu yang sederhana adalah teknik yang disebut dengan 5 Whys untuk mendapatkan penyebab masalah. Perangkat ini melemparkan pertanyaan ”mengapa begitu penting” terhadap sesuatu. Setiap jawaban selalu ditanya dengan pertanyaan yang sama sampai akhirnya sampai pada jawaban kelima yang merupakan pokok dari permasalahan.

Perangkat lain yang sangat sederhana tapi diungkapkan dengan contoh menarik adalah dalam hal memvisualisasikan pikiran kita (Think In Pictures). (Hlm. 107). Dengan menggambarkan pikiran kita, banyak pertanyaan bisa terjawab. Ini juga pernah diungkapkan oleh Tony Buzan dalam teknik mind mapping-nya yang masyhur itu.

Contoh di luar Toyota cukup banyak diulas termasuk bagaimana mengeksploitasi keterbatasan hingga terobosan tercapai. Contoh gamblang diuraikan di halaman 135 saat sebuah kontraktor (C.C. Myers) membuat terobosan dalam pembangunan kembali daerah bekas bencana gempa di Santa Monica. Juga contoh lain berupa penerapannya di luar industri otomotif, termasuk di Los Angeles Police Department (LAPD) bekerjasama dengan University of Toyota (Hlm. 207).

Secara penyajian, buku ini menarik karena dilengkapi dengan penekanan pada setiap halaman melalui caption maupun visualisasi grafis sehingga relatif mudah dipahami isinya. Secara struktur, buku ini dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu prinsip-prinsip, praktek, dan bagaimana mengaplikasikannya secara konsisten. Dari cara penyajian seperti ini tidak bisa dipungkiri bahwa Matthew E May terbukti andal dalam menyajikan pokok pikirannya secara sistematis. Tidak heran karena dia telah ikut membangun University of Toyota hingga maju seperti sekarang ini.

Seperti pepatah mengatakan ”Jangan menilai buku dari sampulnya”, tantangan bagi kita adalah seberapa jauh pemikiran dan perangkat yang diulas rinci di buku ini berguna bagi kita dan mudah diaplikasikan secara konsisten.

  • Gatot Widayanto, konsultan manajemen