Home
Surat
Sudut Lipatan
Dari Katalog Lama
Percakapan
U L A S A N
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 31 Juli 2007

U L A S A N


Filsafat Tanpa Kedaulatan Semantik

Judul: Filsafat Fragmentris, Deskripsi, Kritik, dan Dekontruksi
Penulis: Franky Budi Hardiman
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: I, April 2007
Tebal: 222 halaman

Buku berjudul Filsafat Fragmentaris. Deskripsi, Kritik, dan Dekontruksi karya Franky Budi hardiman ini berisikan tesis bahwa filsafat tak pernah menangkap totalitas melainkan fragmen-fragmen dari semesta kemungkinan. Di balik itu terselip tuduhan bahwa filsafat memiliki kegandrungan yang sesat akan totalitas.

Totalitas adalah inspirasi teologis yang menyusup diam-diam ke dalam filsafat. Bahwa manusia pertama diajarkan Tuhan nama benda-benda sehingga tak ada yang lolos dari kuasa semantiknya. Plato pun mengambil ajaran sufisme kuno Yunani (Orphisme) yang memandang jiwa terpenjara dalam tubuh. Karena itu, aspirasi pada totalitas selalu direcoki oleh desakan-desakan badani. Demi totalitas, Plato mengumumkan perang terhadap tubuh yang memenjara kita di dunia bayang-bayang.

Terlepas dari susupan teologis ke dalam filsafat, kegandrungan terhadap totalitas itu sendiri adalah patologis. Kegandrungan itu adalah delusi yang tak pernah diperiksa sungguh-sungguh. Delusi itu lolos dari pemeriksaan filsafat sebab kegandrungan akan totalitas mengalahkan kemauan para filsuf untuk melakukan refleksi diri.

Hal itu tidak berlaku bagi Franky. Ia mau menimbang ulang filsafat dengan sungguh-sungguh memeriksa patologi para filsuf tersebut. Ia menemukan setidaknya dua paradoks utama.

Pertama, paradoks deskripsi-pengalaman. Saat kita mendeskripsikan kenyataan, kita sesungguhnya mengambil jarak darinya. Pengalaman lenyap begitu kita mencoba membuat rumusan konseptual terhadap kenyataan.

Pengalaman akan teriknya sinar matahari yang mengeringkan pakaian menjadi redup tatkala kita merumuskannya sebagai bentuk gelombang elektromagnetik. Kedua, paradoks self-reference. Misalnya, saat kita menghakimi bahwa orang lain hanya memahami ajaran agama sepotong-sepotong. Keputusan itu tidak bertolak dari kondisi nirsudut pandang. Keputusan itu bertolak dari satu perspektif yang dilandasi pada pemahaman sepotong kita tentang ajaran agama.

Dua paradoks tadi diilustrasikan dari pengalaman keseharian. Namun, filsafat sesungguhnya juga mengidap paradoks tersebut. Ambil saja contoh filsafat Plato. Plato yang menghuni ruang waktu tertentu berbicara tentang dunia ide yang nir-ruang waktu. Padahal, filsafat tak lain juga adalah bagian dari pengalaman keseharian yang meruang dan mewaktu.

Heidegger, misalnya, beranggapan bahwa pengetahuan filosofis tentang "Ada" sudah terselip dalam keseharian. Oleh karena itu, alih-alih berfokus pada "Ada" yang abstrak, filsafat diminta berhening di depan samudra keseharian. Para filsuf dituntut Heidegger agar berlaku layaknya mistikus keseharian.

Para mistikus keseharian pertama adalah para fenomenolog. Ini mengingat merekalah yang mula-mula merehabilitasi pengalaman keseharian dari kecaman para filsuf totalitas.

Menubuh

Franky pun memulai proyek fragmentasi filsafatnya dari fenomenologi, khususnya fenomenologi Merleu Ponty. Pontylah yang pertama mengecam sufisme Plato yang tertuang dalam filsafat dualisme jiwa-tubuhnya. Tubuh bagi Ponty bukan semata materi yang dijadikan obyek investigasi ilmu-ilmu empiris. Sedangkan jiwa pun bukan elemen rohani yang mengeram dalam tubuh mati.

Manusia, menurut Ponty, tidak berada di dalam tubuh, melainkan menubuh. Kemenubuhan manusia membuatnya mendunia. Tubuh lebih tahu tentang hal-ihwal dunia ketimbang akal budi.

Manusia tidak berpikir terlebih dulu tentang apa artinya sebuah pulpen, bagaimana memakainya, dan di atas apa. Tubuh bergerak dan memakai pulpen untuk menulis di atas secarik kertas tanpa banyak tanya. Kita mengetahui dunia sebagai yang tergenggam, tercium, terlihat dan lain sebagainya. Singkat kata, dunia ditatah berdasarkan kemenubuhan manusia.

Fragmen filsafat

Apa yang dilakukan Ponty sesungguhnya? Ponty merumuskan suatu fragmen filosofis tentang tubuh. Fragmen tersebut merupakan tuturan tentang yang tak tertuturkan tentang tubuh. Ponty tidak berpretensi menutup seluruh domain semantik ketubuhan. Ia sekadar memberi bentuk baru dari semesta kemungkinan dalam konteks ketubuhan. Bentuk baru tersebut menyingkap sepetak kosmos dari chaos semantik ketubuhan. Namun, di sisi lain itu sekaligus menutup pelbagai kemungkinan kosmos lainnya.

Ketubuhan yang selama ini dipandang sebagai materi yang berkesadaran diputar menjadi kesadaran yang menubuh. Konsepsi tubuh Platonian dipatok sebagai fragmen dengan merumuskan fragmen lainnya. Itulah ciri filsafat fragmentaris.

Bentuk filsafat fragmentaris lainnya ditemukan Franky pada teori kritis Jurgen Habermas. Jurgen Habermas menuduh teori kritis generasi pertama yang digawangi oleh duo Adorno-Horkhaimer terjebak pada paradoks self-reference.

Teori kritis generasi pertama masih bernyawakan filsafat kesadaran yang menempatkan kritik pada posisi subyek pemegang kebenaran. Di sini, sang subyek kebenaran menghadapi masyarakat yang menderita kesadaran palsu. Padahal, posisi kritik itu sendiri tidak tanpa masalah. Adorno-Horkhaimer menggugat ideologi di balik dialektika pencerahan tanpa sadar posisi ideologis mereka sendiri.

Alih-alih menghakimi bentuk-bentuk pengetahuan sebagai semu, Habermas lantas merumuskan teori komunikasi yang menempatkan percakapan di atas kebenaran. Kebenaran bukan monopoli filsuf, melainkan mesti lolos melalui prosedur demokratis berupa komunikasi bebas koersi. Dengan kata lain, filsafat mesti tunduk di bawah imperatif prosedural dari demokrasi.

Bentuk filsafat fragmentaris ketiga adalah dekonstruktivisme. Dekonstruksi menempatkan bahasa sebagai partisi yang membuat jarak antara dunia penghayatan dan deskripsi dunia. Bahasa bukan peranti guna mengambil jarak melainkan jarak itu sendiri. Mengapa demikian? Karena bahasa adalah penundaan makna. Satu kata tidak melekat pada satu makna selamanya, begitu pula sebaliknya. Makna senantiasa mengelak dari bekapan kata dan berubah dari waktu ke waktu.

Pencarian hakikat atau sebut saja logosentrisme adalah kegagalan yang dilestarikan demi delusi yang diidap filsafat. Filsafat dekonstruktivisme menunjukkan bahwa logosentrisme menyangkal kegagalan dengan meminggirkan makna-makna pengganggu. Nah, bagi dekonstruktivisme tugas filsafat adalah mengembalikan makna-makna pengganggu itu ke tengah pusaran diskursus.

Ini bisa dilihat secara konkret dalam bahasa hukum. Makna frase "perbuatan melawan hukum" tak pernah terumuskan secara hakiki dalam ruang waktu yang senantiasa bergerak. Makna "perbuatan melawan hukum" yang ada sekarang berlaku dalam ruang dan waktu riil.

Dalam ruang yang dilipat secara virtual, cyber crime membuat kita berpikir ulang tentang arti frase tersebut. Kejahatan di ruang maya memaksa kita mendefinisikan ulang kejahatan, subyek hukum, dan bahkan hukum itu sendiri.

Catatan fragmentaris

Buku Filsafat Fragmentaris karya Franky Budi Hardiman berhasil merumuskan ciri filsafat dari beberapa bentuk filsafat kontemporer. Itu adalah prestasi tersendiri di tengah buku-buku karya filsuf Indonesia yang semata memutar ulang fragmen-fragmen filsafat orang lain. Persoalannya, apakah Franky perlu dituntut untuk merumuskan bentuk filsafat fragmentarisnya sendiri? Saya kira tidak atau belum perlu. Pergulatan menuju ke sana membutuhkan jam terbang berfilsafat yang tidak sebentar.

Persoalan yang perlu ditanyakan: di manakah letak kedaulatan semantik itu? Apakah ia tergeletak di tangan filsuf atau di tangan semesta kemungkinan? Franky sepertinya masih menganggap bahwa kedaulatan semantik digenggam erat oleh para filsuf. Ini tak lain adalah ciri filsuf yang masih berpatokan pada filsafat subyek.

Filsuf adalah pencipta kosmos makna dari chaos semesta kemungkinan. Franky mengatakan, "Filsafat akan terus berupaya untuk mengatakan yang tidak terkatakan, memasukkan stabilitas baru ke dalam chaos. Dia adalah penyingkap dunia betapapun temporer dan fragmentarisnya penyingkapan itu." (halaman 19)

Mari menengok dunia keseharian. Bayangkan seorang yang sedang mengamplas meja. Ia terus mengamplas meja untuk mencapai kehalusan maksimal. Pada satu saat ia pun membayangkan, apakah ada batas terakhir kehalusan saat amplas pun takkan berguna lagi. Di situ pengalaman surut dan bentuk matematika pun mengemuka.

Sang pengamplas tak pernah bisa mengalami titik terakhir kehalusan dalam dilatasi waktu. Namun, ia bisa membayangkan bentuk geometri murninya. Bayangan tersebut tentu saja tidak datang dengan kesengajaan, sebab kesengajaan adalah bagian dari pengalaman sementara apa yang muncul berasal dari luar pengalaman itu sendiri. Bayangan tentang bentuk geometri itu menampar kesadaran secara tiba-tiba.

Bentuk geometri adalah satu closure yang muncul dari imajinasi nirpengalaman. Namun, bentuk geometri murni tidak diterakan secara sepihak pada chaos. Keseharian adalah chaos yang tak berhingga. Ketakberhinggaan itulah yang mendesak-desak untuk dimaknai. Makna mencuat tiba-tiba dari keseharian itu sendiri dan ditangkap oleh imajinasi.

Artinya, kedaulatan makna bersemayam pada kenyataan sehari-hari, bukan subyek pemakna. Segala deskripsi yang berasumsikan filsafat subyek adalah upaya perampokan kedaulatan tersebut. Kita bukanlah hakim semantik atas kenyataan. Derrida mengatakan, "Tak ada sesuatu di luar teks". Saya mengatakan, "Kenyataan adalah teks yang menggenggam kedaulatan semantiknya sendiri."

  • Amin Wazan, Presensi adalah pembaca buku filsafat