Home
Sudut Lipatan
Surat
Dari Katalog Lama
Pendapat
Sosok&Koleksi
U L A S A N
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 27 Juni 2007

U L A S A N


Menempuh Jalan Rekonsiliasi Bersama Korban

Judul Buku: Menyeberangi Sungai Air Mata: Kisah Tragis Tapol ’65 dan Upaya Rekonsiliasi
Penulis: Antonius Sumarwan
Penerbit: Kanisius Yogyakarta
Cetakan: I, 2007
Tebal: 408 halaman

Meskipun sekarang kita telah menjalani hidup di alaf baru, abad ke-21, rasa-rasanya kita semua masih belum mampu menundukkan ingatan tentang tragedi-tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di abad ke-20. Dua perang dunia yang menelan jutaan jiwa manusia terjadi di abad itu. Tanpa alasan yang pasti, kurang lebih enam juta warga Yahudi dibantai oleh rezim Hitler dengan bendera Nazi-nya. Dua juta lebih penduduk Soviet dipusarakan dengan paksa oleh Stalin. Seperlima penduduk Kamboja dibantai oleh Pol Pot, pemimpin yang psikopat itu.

Seakan melengkapi rentetan tragedi kemanusiaan dunia, sebuah rezim yang masih seumur jagung pun ikut-ikutan membantai kurang lebih satu juta orang yang dituduh sebagai simpatisan partai komunis di Indonesia tanpa proses pengadilan sama sekali. Tak ayal lagi, Indonesia masuk dalam daftar negara-negara penyumbang pembantaian manusia yang paling keji sepanjang abad ke-20.

Anehnya, lenyapnya jutaan nyawa pasca peristiwa September 1965 seakan-akan tak berjejak sama sekali dalam ingatan kolekif masyarakat Indonesia. Hilangnya jutaan nyawa itu dianggap sebanding dengan dosa-dosa yang telah dilakukan PKI dan ormas-ormas pendukungnya. Padahal, sebagian besar orang yang terbunuh itu adalah rakyat jelata yang tidak tahu menahu perihal kepentingan di balik peristiwa September 1965. Mereka diciduk secara paksa, lalu digiring beramai-ramai oleh tentara dan algojo-algojo sipil untuk dieksekusi di ladang-ladang pembantaian.

Suksesnya strategi pencitraan rezim Orde Baru yang menempatkan PKI sebagai musuh bersama membuat masyarakat Indonesia memaklumi hilangnya jiwa-jiwa itu. Melalui sebuah film fiktif yang diputar secara rutin setiap malam 29 September, memori kolektif masyarakat Indonesia digiring untuk selalu membenci dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan bangkitnya kembali PKI di Indonesia. Dalam film itu masyarakat disuguhi adegan-adegan mengerikan seputar penyiksaan yang dilakukan PKI terhadap para jendral AD yang berhasil diculik. Para aktivis Gerwani digambarkan sedang menari-nari cabul mengelilingi para jendral yang sedang disiksa. Sesekali mereka terlibat dalam prosesi penyiksaan itu--menyayat-nyayat wajah para jendral dengan silet-silet tajam.

Sampai menjelang runtuhnya pemerintahan Orde Baru, tak seorang pun yang tahu bahwa cerita yang digambarkan film tersebut hanyalah kebohongan belaka. Sebab, setiap upaya untuk mencari tahu tentang apa sebenarnya di balik peristiwa September 1965 selalu dihambat oleh pemerintah Orde Baru.

Setelah orde kekuasaan berganti, fakta-fakta pembantaian itu mulai terkuak satu persatu. Para korban yang selamat mulai berani bersaksi atas kebiadaban perlakuan pemerintah Orde Baru kepadanya. Juga telah terbit buku-buku yang berusaha mengurai benang kusut sejarah September 1965 dengan sikap lebih berimbang dan objektif. Salah satunya adalah buku ini.

Buku ini berusaha menarasikan kembali peristiwa penyiksaan yang sekian lama terpendam dengan berangkat dari sudut pandang korban. Kesaksian korban diberi porsi paling besar dalam buku ini. Kesaksian-kesaksian itu tidak diolah menjadi semacam laporan penelitian yang kering dan datar, karena si peneliti bukan sebagai naratornya. Dalam buku ini, korban diberi kesempatan untuk bersaksi dengan caranya sendiri, meskipun ketika dilihat secara sepintas seakan-akan bersifat mengeksploitasi pengalaman korban yang paling telanjang dan menyakitkan itu.

Dengarkan kesaksian berikut:

“….saya ditelanjangi dan saya disuruh naik ke atas meja. Saya berdiri telanjang dan mereka menyalakan korek api lalu membakar alat vital saya. Saya hanya bisa menjerit dan menangis. Kemudian mereka mengangkat meja itu dan menggulingkannya. Saya terbanting ke lantai. Mereka menarik badan saya, memepetkannya ke dinding, lalu saya dijepit dengan sebuah sepeda. Saya tidak bisa apa-apa selain menangis dan menangis….”

Kesaksian di atas disampaikan oleh Christina Sumarmiyati, sorang guru dari Yogyakarta yang tiba-tiba diciduk oleh aparat gara-gara namanya mirip dengan nama tokoh Gerwani di daerahnya. Yang dimaksud “mereka” oleh Christina adalah para tentara yang bertugas menyapu bersih PKI dan antek-anteknya. Apa yang dituturkan oleh Christina hanyalah satu dari sekian banyak kisah memilukan pasca peristiwa September 1965. Diperkosa, dipaksa melakukan adegan mesum sembari ditonton penjaga tahanan, disuruh makan nasi busuk, adalah kejadian-kejadian yang sering dialami para korban selama menjalani masa tahanan. Membaca kesaksian dalam buku ini, bukan hanya kita menjadi tahu kejadian-kejadian mencekam yang mereka alami, tapi juga memunculkan perasaan ngeri tak tertanggungkan--rasio manusia tak kuasa menilainya--betapa praktik penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan begitu ringan dilakukan.

Sekali lagi, memberikan ruang bagi penceritaan ulang pengalaman pahit tersebut secara apa adanya melalui sudut pandang korban mungkin dianggap kebiadaban. Namun, justru dengan cara memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi korban untuk bersaksi secara jujur, hal itu telah menjadi semacam katarsis bagi korban, karena pengalaman kelam masa lalunya terekspresikan dan masih ada orang yang bersedia bersimpati pada pengalaman itu.

Bukan tanpa maksud, penulis buku ini memilih cara bertutur melalui sudut pandang korban. Penulis mengajak kita mejadi saksi yang budiman--yang mampu bersimpati dan bertanggung jawab. Sebab, sudah sekian lama para korban menanggung penderitaan dan dilecehkan hak-haknya sebagai manusia. Perspektif yang digunakan penulis memang bukan cara yang lazim dan terksesan getir ketika disuarakan dalam kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini, yang begitu mudah mengabaikan pertimbangan moral. Sebagian pembaca mungkin akan menilai, bukankah dengan menggunakan pendekatan hukum, HAM, sejarah, atau politik, akan terkesan lebih realistis dalam mendudukkan persoalan ini?

Namun, pendekatan moral-teologis yang digunakan penulis dalam buku ini berbeda dengan pendekatan moral-teologis konvensional. Teologi yang digunakan untuk memahami pengalaman korban adalah teologi jenis baru, Teologi Rekonsiliasi. Teologi rekonsiliasi menaruh perhatian yang besar terhadap peristiwa-peristiwa keduniawian. Melalui permenungan teologis semacam ini, kita diajak untuk semakin menaruh perhatian terhadap problem-problem praksis kehidupan. Dalam konteks korban, rekonsiliasi berarti lahirnya harapan baru, menyembuhkan luka, dan juga memaafkan. Intinya, korban diajak untuk mentransendensikan takdirnya.

Dalam catatan pengantarnya untuk buku ini, St. Sunardi dengan penuh simpati menempatkan buku ini seperti organisme yang mampu bertutur dengan lembut, penuh refleksi dan simpati, meskipun informasi yang disajikannya juga membawa kepentingan ilmiah. Menurut Sunardi, buku ini menjadi menarik karena dua hal. Dari satu sisi, buku ini muncul dari permenungan teologi. Teologi telah menjadi jalan untuk memasuki wilayah yang luas. Teologi menjadi jalan untuk menjadi lebih sensitif. Teologi bisa berjalan dengan cara ini sejauh teologi berkaitan dengan tanggung jawab. Jika teologi berkaitan dengan Tuhan, Tuhan di sini dipahami sebagai titik temu antara realitas ketuhanan dan kemanusiaan. Bila buku ini lebih banyak berkisah daripada menstigmatisasi atau berargumentasi, harus dilihat sebagai cara untuk menentukan medan teologi di zaman sekarang. Medan ini penting untuk menciptakan horizon baru bagi orang-orang beriman pada zaman sekarang.

Dari sisi lain, buku ini telah memberikan tawaran pada ilmu-ilmu lain untuk bekerjasama. Buku ini menawarkan penulisan sejarah atau kisah tidak secara kering, melainkan dengan keterlibatan penuh. Setiap praktik keilmuan memang terkait dengan ideologi. Buku ini lebih radikal menunjukkan pada nilai, dan nilai yang diajukan adalah rekonsiliasi. Rekonsiliasi adalah nama lain dialektika. Jadi ada proses. Secara tidak langsung buku ini menunjukkan bahwa stereotipe yang kita punyai selama ini lahir dalam proses. Buku ini mengajak sebuah proses baru yang lazim disebut rekonsiliasi.

Kini, persoalan tanggung jawab bukan lagi persoalan mudah. Untuk bertanggung jawab orang mesti mendengarkan, untuk mendengarkan orang mesti tahu siapa yang didengarkan. Kelompok korban 1965 adalah salah satu kelompok yang paling pantas didengarkan kesaksiannya saat ini.

  • AFTHONUL AFIF, Penulis, sedang menulis buku tentang Psikologi Pengampunan.