Home
Surat
Sudut Lipatan
Pendapat
U L A S A N
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 30 Mei 2007

U L A S A N


Napak Tilas Dunia Intelijen Indonesia

Judul : INTEL: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia
Penulis : Ken Conboy
Penerjemah : Danny Raharto
Cetakan : I, Februari 2007
Tebal : xi+279 hlm.
Penerbit : Pustaka Primatama, Jakarta

Pada awalnya adalah kegelisahan seorang perwira tentara lulusan PETA yang khawatir kemerdekaan bangsa Indonesia yang baru seumur jagung bakal dirampas kembali oleh penjajah. Juga karena bentuk-bentuk perlawanan mengusir penjajah dari bumi Indonesia yang cenderung tak mengenal koordinasi satu sama lain akibat kendala geografis. Dua hal itulah yang kemudian meneguhkan hati Zulkifli Lubis, nama perwira tentara itu, untuk membentuk sebuah badan intelijen pada 7 Mei 1946 yang diberi nama BRANI (Badan Rahasia Negara Indonesia). Dengan dibantu beberapa bekas perwira Jepang yang enggan kembali ke negaranya karena kalah perang, Zulkifli Lubis mendidik para pemuda Indonesia yang memiliki naluri pengintaian tajam untuk dijadikan prajurit bayangan yang bertempur dalam "perang adu pintar".

Salah satu tugas penting BRANI waktu itu adalah melakukan kegiatan kontra intelijen, yaitu menekan semaksimal mungkin jumlah simpatisan Belanda dan menggalang dukungan bagi Republik. Karena keterbatasan dana, kegiatan kontra intelijen pada awalnya hanya dilakukan di wilayah Jawa. Berkat kecerdikan dan keuletannya, Lubis berhasil mengirim anak buahnya untuk menyisir wilayah-wilayah yang rentan terhadap pengaruh pihak Belanda, seperti Bali, Sumatra, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Perang strategi yang dilakukan Lubis menuai hasil. Dukungan terhadap kedaulatan Republik semakin besar di wilayah-wilayah itu--terlihat dari antusiasme yang menggebu untuk bergabung dalam sebuah wadah yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semula BRANI memiliki kedudukan istimewa lantaran bertanggung jawab langsung kepada presiden Soekarno. Keintiman hubungan antara Lubis dan Soekarno ternyata membuat orang-orang di sekitar Soekarno cemburu dan merasa terancam. Tokoh yang pertama kali menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Lubis adalah Amir Sjarifuddin, menteri pertahanan waktu itu. Sjarifuddin ternyata lebih lihai mengambil hati Soekarno. Akhirnya, pada 30 April 1947 di Yogyakarta, Soekarno menyetujui penggabungan semua unit intelijen di bawah kendali kementerian Sjarifuddin. BRANI dibubarkan dan diganti dengan unit baru yang bernama Bagian V di bawah menteri pertahanan.

Fakta lain yang membuat posisi Lubis semakin terpinggirkan adalah rivalitasnya dengan para petinggi Angkatan Darat, terutama dengan A.H. Nasution. Merasa muak dengan pertarungan politik yang kotor, pada 1956 Lubis berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah dengan kekerasan bersenjata tapi berhasil digagalkan. Ia lalu memilih meninggalkan Jakarta dan bergabung dengan pasukan pemberontak di Sumatra dan Sulawesi.

Secara umum, di bawah kepemimpinan Soekarno, kondisi rakyat Indonesia jauh dari yang dinamakan sejahtera. Inilah yang kemudian memicu PKI untuk mengambil alih kekuasaan selain rivalitasnya dengan Angkatan Darat. Masih menjadi pertanyaan sampai sekarang, mengapa kudeta PKI pada 1965 itu begitu mudah dipatahkan oleh Soeharto? Padahal hampir seluruh petinggi AD berhasil dibunuh dan kredibilitas politik Soekarno waktu itu semakin lemah. Soeharto begitu mudah menghimpun kekuatan AD dan dalam hitungan sekejap berhasil menumpas PKI. Kemudian Soekarno dipaksa menandatangani surat perintah yang memberi wewenang kepada Soeharto guna mengambil langkah strategis untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.

Untuk memperlancar kegiatan penertiban, Soeharto membentuk unit intelijen yang disebut Komando Intelijen Negara atau KIN. Semua posisi utama dalam KIN diisi oleh perwira-perwira asal Jawa Tengah, seperti Brigjen Yoga Sugomo dan Letkol Ali Moertopo. Hal ini sekedar untuk melindungi diri, mengingat karir Soeharto yang melesat di tengah-tengah kekacauan yang melanda, juga karena keturunan Jawanya, sehingga Soeharto yang penuh curiga merasa perlu meminta bantuan para tentara bawahan yang berasal dari daerah yang sama. KIN inilah yang kemudian menjadi penopang bagi mulusnya usaha Soeharto mengambil alih kekuasaan.

Pada Maret 1967 parlemen secara resmi mengukuhkan Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Soeharto secara simbolis lalu mengundurkan diri dari jabatan kepala KIN. Melalui Keputusan Presiden pada 22 Mei tahun yang sama Badan Koordinasi Intelijen Negara atau BAKIN dibentuk untuk menggantikan KIN dengan Mayjen Soedirgo sebagai kepalanya.

Di bawah kepemimpinan Soeharto, Indonesia mengalami perubahan politik-ekonomi yang mendasar lantaran kiblat politik Soeharto yang cenderung ke arah negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Kedekatan dengan AS secara signifikan juga berdampak pada kemajuan BAKIN. Agen-agen CIA secara rutin memberikan dukungan dalam bentuk bantuan alat-alat pengintaian dan pelatihan intelijen. Keterlibatan aktif CIA dalam membantu BAKIN bukan tanpa maksud mengingat kegiatan CIA di Indonesia pada prinsipnya merupakan perluasan dari kebijakan luar negeri Amerika yang berusaha membendung pengaruh komunisme di negara-negara Asia.

Sudah bisa ditebak, BAKIN kemudian menjadi dinas intelijen resmi yang begitu agresif terhadap para diplomat negara-negara komunis. Dua kegiatan operasi intelijen yang terkenal di masa-masa awal BAKIN adalah operasi intelijen dengan sandi Friendly 1 dan Friendly 2 dengan sasaran kantor kedutaan negara-negara komunis dan lembaga penerangan Front Pembebasan Nasional atas Vietnam Selatan (NLF) di Indonesia. Lambat laun, berkat kedekatannya dengan CIA dan Mossad, BAKIN menjelma menjadi badan intelijen yang licin dan profesional.

Namun, di kalangan petinggi militer terdapat pihak yang sepertinya tidak menghendaki BAKIN tumbuh menjadi badan intelijen sipil yang kuat. Gelagat itu kian menguat ketika L.B. Moerdani (seorang jendral TNI yang karirnya meroket sejak keberhasilannya menggagalkan pembajakan pesawat di Bangkok pada 1981) diangkat menjadi Panglima TNI. Setelah melepaskan posisi wakil kepala BAKIN, L.B. Moerdani menggunakan kesempatan ini untuk memberi perhatian lebih kepada intelijen militer. Pusat Intelijen Strategis yang ada waktu itu diperluas menjadi Badan Intelijen Strategis (BAIS). BAIS memiliki wewenang birokrasi yang kuat dan strategis serta mengemban kekuasaan hukum yang dulu dijalankan oleh Komkamtib.

Dihadapkan pada pamor BAIS yang kian mencorong, BAKIN mencoba mempertahankan kedudukannya dengan memperkuat pos-posnya yang ada di luar negeri. Perhatian khusus diberikan pada Timur Tengah, di mana BAKIN terus memperkuat tiga buah pos yang telah didirikan satu dasa warsa sebelumnya. Pada awal 1983 seorang penasihat Israel tiba di Jakarta untuk mengajarkan teknik intelijen kepada lima pejabat junior terpilih guna penugasan di luar negeri.

Seiring dengan kondisi politik internasional yang menunjukkan tanda-tanda kekalahan kubu komunis Soviet dari demokrasi liberal Amerika, BAKIN boleh dikatakan mengalami masa rehat. Kondisi politik dalam negeri yang kian stabil juga membuat BAKIN tidak lagi memiliki tugas ekstra. Di samping itu, dalam kegiatan intelijen dalam negeri sepertinya dinas intelijen militer (BAIS) lebih mendominasi, lebih memiliki fungsi-fungsi strategis untuk melakukan penertiban, yang ujung-ujungnya ditujukan untuk menarik perhatian sang Presiden. Dampak dari semua itu, BAKIN menjadi dinas intelijen yang serba tanggung. BAKIN tidak diikutkan dalam operasi di daerah-daerah yang paling bergejolak seperti Aceh, Timor Timur, dan Irian Jaya. Bahkan dalam medan pertempuran politik yang kritis di Jakarta, BAKIN tidak diperhitungkan.

Sejak awal 1990-an hubungan BAKIN dengan para kolega internasionalnya (CIA, Mossad, M16) juga menunjukkan kerenggangan. Ini semata-mata disebabkan pertimbangan pragmatis. Amerika dan sekutu-sekutunya tidak lagi memiliki musuh bersama sebagai target operasi setelah runtuhnya Uni Soviet sehingga membiayai kegiatan intelijen di Indonesia tidak lagi mendatangkan manfaat yang signifikan. Butuh waktu sekitar satu dekade untuk mengembalikan hubungan yang pernah terjalin harmonis itu hingga agenda perang menumpas terorisme internasional oleh Amerika Serikat dikumandangkan setelah peristiwa 11 September 2001. Pada masa-masa itu telah terjadi bongkar pasang kepala BAKIN akibat seringnya pergantian kekuasaan semenjak runtuhnya rezim Orde Baru. Salah satu peristiwa penting yang perlu diingat adalah penggantian nama BAKIN menjadi BIN (Badan Intelijen Negara) pada 2001 semasa pemerintahan Gus Dur.

Momentum perang melawan terorisme dengan cepat dimanfaatkan oleh BIN untuk kembali menjalain hubungan dengan kolega-kolega internasionalnya, terutama CIA. Pada 19 September 2001, di hadapan CIA Hendro Priyono, kepala BIN waktu itu, mempresentasikan data orang-orang yang dianggap potensial melakukan kegiatan teror di Indonesia. Orang-orang yang masuk dalam daftar itu adalah para alumni pejuang yang membantu membebaskan Afghanistan dari cengkeraman Soviet. Perang melawan terorisme mengingatkan BIN pada masa-masa keemasannya sewaktu berhasil mematahkan setiap upaya penyusupan agen-agen komunis di Indonesia pada dekade-dekade sebelumnya.

Sepertinya, agenda menumpas terorisme di Indonesia oleh BIN tidak sia-sia. Sebagian besar tokoh kunci di balik aksi-aksi teror di Indonesia berhasil ditangkap. Sekedar contoh, Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas, pelaku peledakan bom Bali 1 berhasil ditangkap, diadili, dan diganjar hukuman mati. Umar al-Faruq dan beberapa rekan Timur Tengahnya juga berhasil diringkus, untuk kemudian diserahkan pada pihak Amerika. Prestasi gemilang itu cukup dijadikan pertimbangan oleh CIA untuk meminang kembali BIN sebagai mitra kerjanya.

Di balik upayanya memaparkan riwayat badan intelijen Indonesia serapi mungkin, buku ini juga menyuguhkan sisi-sisi manusiawi para agen intelijen lawan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap konyol, namun ini justru membuat peristiwa sejarah yang hendak disampaikan buku ini lebih realistis dan hidup. Agen intelijen juga manusia biasa. Contohnya, ada seorang agen Soviet yang membelot gara-gara menanggung setumpuk hutang akibat kalah judi. Juga kemunafikan diplomat Iran yang setiap akhir pekan diam-diam mendatangi pusat-pusat hiburan meskipun saban harinya menunjukkan perilaku beragama yang sangat konservatif. Buku ini juga menuturkan sifat dasar Umar al-Faruq yang mudah jatuh cinta kepada wanita-wanita Indonesia meski hampir semua lamarannya ditampik.

Buku yang ditulis Conboy ini adalah buku pertama edisi bahasa Indonesia yang memaparkan secara menyeluruh sejarah intelijen Indonesia berikut kegiatannya sejak awal kemerdekaan hingga kini. Penulis mengatakan, riwayat BIN begitu penting untuk disajikan, setidaknya berdasarkan beberapa alasan. Pertama, ini menjadikan sejarah kontemporer Indonesia lebih jamak nuansa. Rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto telah bersusah payah mencitrakan dirinya secara diplomatik sebagai negara netral dalam Perang Dingin. Tapi nyatanya, dinas intelijen Indonesia luar biasa agresif dalam menangani diplomat komunis di bumi Indonesia. Dengan memahami hal ini, peran Indonesia di paro abad ke-20 ini bisa ditempatkan dalam perspektif yang lebih tepat.

Kedua, walaupun ada lusinan buku tentang CIA dan KGB diterbitkan tiap tahun, jarang ada dinas intelijen negara berkembang yang dikomentasikan berikut detail operasinya yang berwarna-warni. Demikianlah, untuk pertama kalinya ada sebuah buku tentang organisasi intelijen Asia Tenggara yang tersebar di pasaran. Detail-detail operasinya akan memungkinkan para sejarawan memahami lebih baik operasi intelijen pasca Perang Dunia II.

Dan alasan terakhir, BIN telah berada di garis depan dalam perang melawan terorisme di Indonesia, bahkan sebelum peristiwa 11 September 2001. Walaupun beberapa hal kegiatan penyusupan itu telah bocor ke media massa, tapi buku ini mengungkap detailnya dengan lebih mendalam.

Melalui buku ini, kita diajak memahami jerih payah agen-agen intelijen Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan negara ini. Seperti yang dikatakan Zulkifli Lubis, bapak intelijen Indonesia, mereka adalah: “prajurit bayangan yang bertempur dalam perang adu pintar”.

  • WIWIK SUDIATI, Pustakawan, Pengelola Rumah Baca Teladan Yogyakarta