Home
Surat
Sudut Lipatan
Pendapat
U L A S A N
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 30 Mei 2007

Cerita Sampul


Mencecap Oase Timur Tengah

Novel-novel dari Timur Tengah mulai banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sayang, pemilihannya masih lemah dan kuno.

Angin padang pasir tampaknya sedang berhembus ke sini. Novel dan karya fiksi para sastrawan Timur Tengah mampir sudah. Sejumlah pengarang yang sebelumnya tak dikenal di sini, kini buku mereka dapat dengan mudah kita jumpai di rak-rak toko buku.

Kini, bagi pembaca Indonesia, sastra Timur Tengah bukan cuma tentang gang-gang Kairo yang sempitnya Naguib Mahfouz, perempuan yang marah seperti Nawal el-Saadawi dan Fatimah Mernissi, puisi melankolinya Gibran Khalil Gibran, atau kontroversialnya Taha Husein. Belakangan, pembaca Indonesia juga disambangi novel-novel cinta Ihsan Abdel Qudous, atau novel Islami dari Naguib Kaelany.

Tidak hanya dari dunia Arab, belahan lain Timur Tengah seperti Turki dan Iran juga ikut meramaikan rak berisi novel terjemahan. Bahkan kalau kita mau memperluas istilah Timur Tengah hingga ke negeri-negeri Islam di Asia Selatan seperti Pakistan dan Afganistan, kita akan mendapati novel-novel menarik dari Tariq Ali dan Khaled Hosseini.

Karya sastra Timur Tengah, terutama yang berbahasa Arab, memang selama ini belum tergarap serius di Indonesia. Padahal, menurut Prayudi, chief editor Zahra Publishing House yang banyak menerjemahkan novel-novel Timur Tengah, banyak sekali bahan-bahan yang mereka anggap bagus untuk diterbitkan. Sebagian besar berasal dari Mesir, Iran, Libanon dan sejumlah wilayah berbahasa Arab dan Parsi lainnya.

"Yang paling gampang dari Mesir," kata Yudi. Itu karena banyak mahasiswa kita yang bersekolah di sana, yang menjadi penyambung perkembangan dunia perbukuan Mesir. Menjadikan mahasiswa Indonesia sebagai "spionase" sastra Arab memang langkah mudah untuk mengeksplorasi karya sastra yang belum populer di dunia perbukuan internasional, atau yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Kalaupun ada hambatan, datangnya dari agen Mesir sering tidak profesional dalam menangani kontrak hak cipta. Ketidakprofesionalan mereka seringkali ditunjukkan dengan berubahnya nilai kontrak yang telah disepakati. "Padahal, biaya yang kita keluarkan sama mahalnya dengan harga yang kita bayar untuk novel barat," katanya.

Namun mengandalkan mahasiswa yang belajar di sana juga memiliki kelemahan. Pilihan tema dan penulis yang merka pilih kerap kurang beragam karena hanya mengandalkan selera dan pengetahuan para mahasiswa yang lamban mengikuti perkembangan sastra mutakhir.

Akses yang sangat terbatas terhadap novel-novel Timur Tengah juga diakui Ahmad Taufiq dari Penerbit Serambi. Menurutnya, kebanyakan novel Timur Tengah diperoleh dari agen luar negara Timur TEngah, seperti dari Eropa yang biasanya memiliki agen yang lebih banyak dan mudah diakses.

Selain itu, akan lebih mudah pula jika penulisnya tinggal di luar negara asalnya. Ia mencontohkan Tariq Ali, penulis novel tetralogi semi sejarah Kitab Salahudin. "Jika Tariq Ali mukim di Pakistan, prosesnya pasti akan lebih sulit." Nasib Tariq sama dengan Amin Maalouf yang novelnya dikenal di sini setelah mampir dulu ke bahasa Inggris.

Sulitnya akses itu membuat sastrawan yang bukunya banyak beredar di Indonesia adalah nama-nama yang berjaya di masa silam. Lihat saja misalnya Ihsan Abdel Quddous yang seangkatan dengan Naguib Mahfouz. Karya Abdel Quddous lumayan banyak yang sudah diterjemahkan. "Lima enam novel itu lumayan spektakuler untuk ukuran novel Arab," kata Yudi.

Tapi itu bukan berarti laku. Novelnya yang sarat nuansa sastra dan masih bertema klasik memang susah meraup perhatian. "Sudah tidak selaras lagi dengan perkembangan zaman dan derasnya arus ide fiksi baru," kata Yudi.

Kabar tidak menggembirakan ini juga terjadi pada novel-novel Timur Tengah lainnya. Menurut Prayudi, novel-novel itu tidak cukup menyita perhatian para pembaca Indonesia. "Capek mencetak dan menerbitkannya saja," kata Yudi. "Kami sampai memutuskan berhenti menerbitkan novel dari jenis ini."

Yudi memperkirakan tema yang sudah lumrah ditemui dalam masyarakat Indonesia, yang membuat karya-karya Timur Tengah ini sepi pembaca. "Kisahnya paling-paling seputar cinta terlarang, penderitaan perempuan, tema politik di dunia Islam, dan kemanusiaan," katanya. Lumrah saja jika peredaran novel ini berhenti pada cetakan pertama.

Nasib yang lumayan baik diraih The Kite Runner karya Khaled Hosseini, yang diterbitkan Qanita, dari kelompok Mizan. Novel Afganistan ini sudah terdongkrak popularitasnya saat menjadi perbincangan kritikus barat. Padahal, temanya juga tidak jauh berbeda dengan novel lain dari wilayah konflik.

Sebenarnya, tema yang sedikit berbeda bisa didapat dari Iran. "Temanya lebih beragam dan acap kali unik," kata Yudi. Dibandingkan rekan-rekannya dari negara-negara Timur Tengah, penulis Iran memang jauh lebih "nekat" dalam menulis. Mereka berani memilih tema yang dianggap rawan bagi lingkungan berbudaya Islam. "Saya pernah membaca bahan novel Iran yang menuturkan gugatan terhadap Tuhan tentang proses penciptaan manusia," kata Yudi. "Bikin merinding sebagian besar orang Islam, deh." Meski mengaku tertarik, mereka tidak mungkin menerbitkannya. "Kami tidak mau menuai masalah," katanya diiringi tawa.

Selain itu, mereka juga menerbitkan novel Sadeq Hedayat, penulis Iran yang liberal untuk ukuran jamannya. Lebih dikenal sebagai penulis cerita pendek, Hedayat menelurkan novel yang tidak umum untuk masyarakat Iran saat ia berkarya (antara tahun 1930-an hingga awal 1950-an). Novelnya The Blind Owl, misalnya sangat berbau Eropa karena mengisahkan konflik psikologis Iran modern.

Ada pula novel Mohsen Makhmalbaf, yang di sini lebih dikenal sebagai sutradara hebat. Novelnya The Crystal Garden sarat konflik psikologis perempuan Iran, yang terkungkung budaya dan larangan-larangan. Entah kenapa pula, novel yang diedarkan Zahra pada 2006 ini juga tidak menggembirakan nasibnya. Rupanya nama besar Makhmalbaf tidak menjamin novelnya ikut terdongkrak sekayaknya film-film besutannya.

Cara lain yang dipakai untuk memikat adalah dengan memakai judul bahasa Inggris, seakan-akan itu adalah judul aslinya. Hal ini dapat dimaklumi jika mereka menerjemahkannya dari edisi terjemahan bahasa Inggrisnya, tapi ternyata banyak novel berjudul Inggris itu yang diterjemahkan langsung dari bahasa Arab. Misalnya novel Al-Launul Aakhar (Terkutuk yang Lain) milik Quddous yang edisi Indonesinya diberi judul An Evening in Cairo, atau Wa Nasiitu Anni Imra'ah (Dan Aku Lupa Jika Aku Perempuan) dari pengarang yang sama yang menjadi The Frozen Lily (ada versi terjemahan lain yang mempertahankan terjemahan judul aslinya). Cara ini tampaknya juga tidak jitu.

Sebenarnya, di luar para penulis yang belakangan karyanya marak diterjemahkan di Indonesia, banyak penulis baru di dunia Arab yang baik cara penulisan mau pun pemilihan temanya amat menarik dan beragam. Ini terutama yang berasal dari Libanon. Berbeda dengan novel-novel Mesir (Mahfouz, Quddous, Hussein, dan Saadawi) yang sarat pesan sosial, penulis Libanon lebih berkosentrasi pada bentukan dan gaya baru. Temanya bisa macam-macam.

Suad's Cabaret, novel pertama Mohammed Suwaid, misalnya. Novel terbitan Dar al-Adab, Beirut, 2005, ini bercerita tentang Su'ad Husni, superstar asal Mesir yang membunuh dirinya sendiri di London pada Juni 2001 dengan alasan yang tidak jelas. Meski bercerita tentang tokoh nyata, tapi Suwaid tidak sedang menulis biografi. Ia memakai sudut pandang orang ketiga dan menceritakannya dengan jenaka sekaligus getir. Ia menggabungkan air mata dan tawa, keindahan Beirut dan kehancurannya. Ia seperti menulis cerita detektif tentang kematian seorang selebritas dengan penuh kejutan dan misteri.

An Iraqi in Paris oleh penulis Irak Samuel Shimon juga cukup menarik. An Iraqi in Paris bukan sekadar novel otobiografi, tapi adalah sebuah buku cerita. Gayanya memang seperti novel Arab tradisional: tak ada plot utama, tidak ada konflik psikoanalistis, atau pendekatan tertentu pada sejumlah karakter.

Shamuel tak pernah berhenti beralih dari satu kisah ke kisah lainnya. Terus berganti seperti Shahrazad yang bercerita kepada Raja Shahriar di kisah 1001 malam. Kita tidak akan menemui sang pahlawan dalam novel ini duduk di sudut kafe dan merenung. Dia selalu tergesa-gesa, seperti ditunggu orang sedunia, bergerak dari kafe ke bar dan dari bar ke kafe, berharap menemukan teman yang mentraktirnya minum atau menginap di rumahnya. Dia tinggal selama sepuluh tahun di Paris tanpa tempat berteduh yang pasti.

Atau kalau mau yang kontroversial kita dapat membaca novel Najem Wali yang terbit September lalu bersamaan dengan Frankfurt Book Fair berjudul The Journey to Tell al-Lahm. Buku ini memancing perdebatan sengit, tidak hanya di dunia Arab, di mana lima negaranya melarang buku ini, tapi juga di Eropa. Novel tentang Irak di masa Saddam Hussein ini benar-benar berbeda dari karya sastra Arab lainnya, meski ia juga memakai gaya Shahrazad.

Dan jangan lupa, mereka juga punya Zayni Barakat, salah satu novel kontemporer Mesir paling sukses. Novel karangan Gamal el-Ghitani ini awalnya adalah cerita bersambung di majalah Rose el-Youssef pada 1970-an. Novel tentang Mesir di abad ke-16 ini bahkan edisi Inggrisnya pernah diterbitkan oleh Viking dan Penguin. Edward Said juga memberi pengantar untuk novel ini.

Hal yang sama sebenarnya terjadi pada puisi. Di luar Gibran yang kumpulan puisinya dalam bahasa Indonesia laris manis, sebenarnya banyak penyair modern Arab yang tak kalah romantis dibanding Gibran. Taruhlah misalnya Nizar Qabbani yang meninggal pada 1998. Di dunia Arab, puisinya bahkan lebih populer dari Gibran karena dipakai untuk lirik lagu sejumlah penyanyi seperti Kazem Saher dari Irak, Magda er-Roumy dari Libanon, dan Abdul Halim Hafiz.

Yang lebih muda ada Maram al-Massri yang menerbitkan kumpulan puisi dalam dua bahasa Inggris dan Arab: A Red Cherry on a White-tiled Floor: Selected Poems "She asked him/for a dream/and he offered her a reality./Since then/she found herself/a bereaved mother."

Dengan segala keragaman itu, sebenarnya keluhan Yudi dan para penerbit lainnya tidak perlu ada.

  • qaris tajudin | angela