Home
P E N E R B I T
Arsip
Sosok&Koleksi
Percakapan
Sketsa
Cerita Sampul
U L A S A N
Surat
Sudut Lipatan
EDISI LAIN
 

 

Edisi 28 Mei 2006

Cerita Sampul


Apabila Sejarah Menemukan Wajah

Semangat Eropa tersimpan dalam peti berharga bernama novel
(Milan Kundera)

Karena sejarah sering terasa palsu, Sir WalterScott menulis Waverley.Inilah novel sejarah pertamayang terbit pada1810. Sir Walter mengambil sepenuhnyakarakter Alasdair RanaldsonMacDonell (1771-1828), seorang prajurit yanghampir tak tercatat dalam sejarahpanjang klan Skotlandia, sebagaisalah satu tokoh bernamaFergus Mac-Ivor. Sejak itu orangmenulis tokoh-tokoh yang nyata,tempat yang benar-benarada, ke dalam novel. Victor Hugo,Alexander Dumas, CharlesDickens adalah para penulis utamaEropa yang merekonstruksirealitas ke dalam fiksi.

Tapi novel sejarah hingga kinibelum dirumuskan ke dalam satudefinisi yang tunggal. KomunitasNovel Sejarah di AmerikaSerikat pun tak memberikan batasantertentu terhadap genresetelah perdebatan yang sengitdan seru antara para ahli sastradan sejarah di sana. Bukan sajamencuat ketegangan sejauh manafiksi merasuk ke dalam faktadan sebaliknya, tapi juga perdebatanseberapa jauh sebuah peristiwanyata memperoleh aluryang imajinatif.

Sarah Johnson, dosen dan aktivisKomunitas itu, menyodorkanpercikan pemikiran yang menarik.Ia mengatakan, dengan kalimatlain, apa yang sudah dirumuskanoleh Kundera yang dikutipdi awal tulisan ini. Setiapnovel, kata Sarah, adalah rekamansejarah. Sebuah novel yangditulis pada 1920 ketika dibacasekarang adalah novel sejarahkarena ia menyimpan danmenggambarkan sebuah latarpada 80 tahun silam. Dengan begitu,bukankah setiap novel adalahnovel sejarah?

Tapi pada akhirnya novel sejarahadalah sebuah novel yangmenghindarkan diri dari pengertiankonvensional Josip Novakovichsebagai “cerita fiksi yang sepenuhnyadusta”. Pada novel sejarah,tokoh, alur, bahkan ideidedi dalamnya bisa dilacak walaupuntidak sepenuhnya benar.Jika risalah hadir untuk diketahui,sebuah novel datang pertamakali untuk dipahami. Demikianlah,sebuah pengertian yangdirumuskan Milan Kundera bahwanovel tidak semata-matamenggambarkan realitas tapimenginvestigasi jiwa, sebagaiupaya manusia menangkap gemasuara tawa Tuhan.

Karena itu batasan yang dipakaiuntuk menyebut novel sejarahadalah novel yang sepenuhnyamerekonstruksi masa lalu. Genresemacam ini sedang digandrungidi hampir seluruh dunia. Para penuliskian aktif mengumpulkandata untuk dirangkai menjadi cerita.Para sutradara, kemudian, ramai-ramai memindahkan novelmenjadi naskah skenario. Bukanoleh sebab itu semata jika RuangBaca mengangkat tema ini, karenadalam tonggak sastra Indonesiakita juga punya PramoedyaAnanta Toer. Anggaplah ini edisiyang sekalian mengenang ketekunannyamenulis sejarah dalambentuk novel, seorang yang tergila-gila kepada data, seorang yangpiawai memasukkan fiksi ke dalamfakta.

Antara Walter Scott di awalabad 19 dan Pramoedya di penghujungabad 20, agaknya adayang sepenuhnya sama. Prammengail semangat menulisnyadari satu pesan Gorki bahwa“rakyat harus tahu sejarah”.Oleh Jean-Paul Sartre, rumusanitu semakin tegas dan jelas dalamapa yang disebutnya sebagailittérature engagée, sastra yangbertanggung jawab, sastra yangmengaitkan diri dengan perubahansosial-politik. “Seseoranghanya dapat dikatakan ada jikadia memiliki kesadaran untukterlibat dalam masalah masyarakatnya,”tulis Sartre dalam se-buah esainya yang terkenal, What isliterature?.

Pramoedya pun menemukan bentuksemangat itu melalui novel, denganfilsafat realisme-sosialis. Prammenyajikan sejarah alternatif Nusantarayang, menurutnya, sudah salahkaprah. Ia melacak hingga ke dokumen-dokumen tertua. Sejarah dalamnovel-novel Pram kemudian menemukanbentuk, alur, warna, konflikyang nyata, linier, tertib. Pendeknyafakta menemukan rupa, sejarah punyabaunya sendiri. Ia juga terbukapada interpretasi. Stephan Crane merasatak leluasa ketika akan menulisrisalah perang sipil di Amerika Serikat(1861-865). Jadilah ia menulisnovel The Red Badge of Courage.

Tetralogi Bumi Manusia, dan novelnovellainnya yang ditulis di PulauBuru, merupakan karya gemilangPram yang bisa dilacak tokoh dan latarnya.Data sejarah, karena itu, bukansekadar angka mati. Pram memasukkantokoh yang sarat konflikpsikologi ke dalamnya. Ia menginvestigasijiwa manusia hingga tindakan-tindakannya terasa wajar danlogis dengan sebisa mungkin setiakepada data. Fakta sejarah, dalamnovel-novel semacam ini, bertukartangkap dengan tafsir.

Menurut A. Teeuw dalam dua jilidpertama Bumi Manusia, Pram sangatkekurangan data tentang sosok TirtoAdhisoerjo sebagai prototipe Minke.Data-data seputar Tirto baru lengkapketika cerita beranjak ke Betawi padadua jilid terakhir. Karena itu BumiManusia dan Anak Semua Bangsa sangathidup dari segi kejiwaan maupundalam peristiwa. Imajinasi Pramberperan sangat dominan. Berita soalTirto dan sepak terjangnya sebagaiwartawan-cum-aktivis memang terasalengkap seperti tersiar dalam SangPemula setelah ia hijrah ke Betawiuntuk meneruskan sekolah dokter diSTOVIA.

Ada banyak nama penulis lainnyayang bisa disebut dalam genre novelsejarah. Dari ragam jenisnya, parapenulis “kanon” itu telah memilihcara ungkap ide dan tujuan yang terkandungdalam novel-novelnya. Adayang sebisa mungkin setia pada fakta,ada yang mencantelkannya sebagailatar, atau menyajikannya sebagaisebuah konsep.

YB Mangunwijaya mengajak kitabertamasya ke alam Maluku di abad16 melalui novel Ikan-ikan Hiu, Ido,Homa. Sejarah dicitrakan sedemikianrupa dalam Burung-burung Manyaratau trilogi Roro Mendut.

Upaya merekonstruksi sejarahjuga dilakukan Remy Silado, diantaranya, lewat Ca-bau-kan denganmengambil latar budayakreol di Betawi pada sekitar tahun1940. Pada Ahmad Tohariyang terkenal karena trilogiRonggeng Dukuh Paruk sejarah disana berupa lanskap pada suatumasa ketika Jawa rusuh olehpembantaian manusia pasca GerakanSatu Oktober 1965. ArswendoAtmowiloto menyelamlebih jauh ke zaman emas KerajaanSingasari lewat Senopati Pamungkasyang terbit pertama kalitahun 1980 di majalah HAI.

Penulis mutakhir agaknya jugakembali melirik sumber sejarahsebagai bahan novel novel. LangitKresna Hariadi menulis kisahheroik Gajah Mada sebagai“perdana menteri” Majapahityang terkenal dalam dua jilid tebal.Di seberangnya, HermawanAksan menulis kisah tragis DyahPitaloka yang mati dalam PerangBubat sewaktu akan dipinangHayam Wuruk. Jika Kresna merekonstruksiGajah Mada sebagaiprotagonis, Aksan sebaliknya. Sayangnya,Kresna tak menyinggungsoal Bubat. Jilid terakhirGajah Mada berhenti sebelumHayam Wuruk naik tahta. Padahal,ini menarik, rekonstruksi sejarahyang ditulis dengan sudutpandang berhadap-hadapan.

Emil Aulia menulis sejarah gelapkuli ordonansi di SumateraTimur (1889) melalui Berjuta-jutadari Deli : Satoe Hikajat Koeli Contractyang terbit tahun ini denganberdasarkan brosur 70 halamanyang ditulis seorang inlanderJohannes van den Brand.Ia telah memberi suara kepadapara kuli kontrak yang mendapatsiksa dan nista dari penjajahBelanda ketika itu.

Sejarah sebagai konsep muncul dalam cerita-cerita Umar Kayam,terutama Para Priyayi. Dalam novelini, baik latar maupun tokoh dan peristiwanya sepenuhnyafiktif.

Tapi alurnya bisa saja terjadi karena secara historiografi sejarah priyayi memang muncul seperti dalam novel ini. Adayang menyebut novel Kayam inisebagai roman antropologis yangsama baiknya dengan sebuah risalahpenelitian.

Di manakah sejarah dalam novelseperti ini?Hari-hari ini informasi yangdatang ke kepala kita riuh olehkemunculan film Da Vinci Code.Dalam novelnya, Dan Brownmemang mendedahkan segeromboldata sejarah tentang Yesusdan hubungannya denganMaria Magdalena. Tapi sejarah disana hanya berupa data mati.Cerita Brown sesungguhnya adalahaksi duet ahli simbol RobertLangdon-Sophie Neveu. Kita bisamemisahkan antara fiksi dan“fakta” yang diambil Brown. Datasejarah di sana hanya sebatasjadi bahan obrolan.

Tapi, inilah sisi jenius seorangBrown. Ia tak merekonstruksi sejarahYesus, karena telah tahu seberapabesar risikonya jika melakukanitu. Ini cara yang jitu untukmenyiasati kekurangan data sehinggafakta tak cukup mengganggupada jalinan cerita. Di Indonesia,jurus Brown ini ditiru oleh novelispendatang baru: ES Ito yangtelah menerbitkan Negara Kelima.

Para Priyayi, The Da Vinci Code,atau Negara Kelima, agaknya harusdisingkirkan dari kategori novelsejarah. Sebab sejarah, dalam noveljenis ini, bukan soal pokokyang mendapat rupa dalam cerita.

Dari semua sejarah novel-sejarahyang paling kompleks adalahnovel-novel yang ditulis oleh Umberto Eco atau Jorge Luis Borges.Batas antara fakta dan fiksidalam cerita-cerita yang ditulisdua orang ini begitu tipis. MembacaBorges kita harus siap dengandata di belakang cerita. Bagiorang yang tak siap, fiksi dalamcerita Borges bisa dianggapsebagai fakta dan sebaliknya.

Fiksi dan fakta mendekam sama kuatnya,bermain-main, berkelit kelin dan satu sama lain hingga susah diurai.Sementara Eco seperti menulisulang sejarah dan khasanah pemikirandunia. Eco mencomot tokoh-tokoh dan latar yang benarbenarada lengkap dengan hirukpikukarus pemikiran ilmuwantermasyhur. Kita disedot untukpercaya bahwa begitulah memangyang terjadi kepada si tokohsemasa hidupnya, meskipunitu sudah diramu dengan tafsirdan alur yang diinginkan Eco.The Name of The Rose adalah novelmultifaset yang menampungsemua jenis pengertian novel danrisalah di zaman modern. FoucaultPendulum lebih tepat disebutensiklopedia ilmu pengetahuandan sejarah dengan ragam energidan hasrat manusia di dalamnya.Ketegangan antara fakta danfiksi sudah lama menjadi bahanperdebatan antara para ilmuwandalam menelaah hasil sebuahpenelitian dan sastra. JosipNovakovich yang meneliti proseskreatif novel-novel kanonEropa dan Amerika menemukanbahwa pada dasarnya setiap ceritaditulis untuk menyajikanatau dimulai dengan sebuahfakta: masa kecil penulis, rentetanperistiwa yang unik danmengguncang, atau secuplikdialog yang aneh. Seberapa besarpunfiksi dalam novel, kataJosip, selalu saja ada secuil realitasdi dalamnya.Tetapi para ilmuwan sosial puntak bisa melepaskan diri sepenuhnyadari fiksi. Menurut IgnasKleden, kurang lebih, setiap disiplinilmu pada dasarnya dimulaioleh sekerumuk imajinasi.Galileo Galilei membuat teropongsebermula karena membayangkanada benda-benda lain,ada kehidupan lain, di kegelapansana. Dalam penelitian-penelitianpartisipatori, fiksi berperanpenting dalam mengikat faktafaktayang disajikan. Seberapabesarpun fakta dalam risalah penelitian,selalu saja ada sekelebatimajinasi yang menyertainya.Pada akhirnya seorang penulisprosa bukan seorang ilmuwan.Novel yang merekonstruksi sejarah,kata sejarawan Ongkhoham,adalah doping yang manjurmembantu para ahli sejarah menemukandetail dalam sekepingperistiwa di masa lalu.Tulisan ini akan kembali ditutupoleh kalimat Milan Kundera,novelis kelahiran Ceko yang eksilke Paris dan menulis sejumlahprosa yang jenius. Dalam bagianakhir wawancaranya dengan penulisPrancis, Christian Salmon,Kundera mengatakan, “Seorangnovelis bukanlah seorang ahli sejarah,juga bukan seorang nabi,dia adalah orang yang mengekplorasieksistensi.” 

BAGJA HIDAYAT