Home
Sudut Lipatan
Dari Katalog Lama
Surat
U L A S A N
Sketsa
Percakapan
Arsip
P E N E R B I T
Tokoh & Koleksinya
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 24 January 2006

Percakapan


JANGAN BERHENTI MELAWAN

Di sudut ruangan terdapat bufet yang di atasnya terpajang foto-foto cucu-cucu Joesoef dan foto pernikahannya pada 1956. Di sudut yang lain meja-meja kecil sebagai tempat aneka barang kerajinan.

Rumah itu berada tepat di dekat kantor pos, di depan sebuah bengkel knalpot. Dari luar nampak sederhana namun asri dengan taman yang terawat rapi. Pagarnya setinggi kurang lebih satu meter berwarna hijau, seragam dengan warna kotak pos dan sebuah drum terletak di antara rerumputan yang terawat.

Pagar depan rumahnya terbuka seolah-olah menyambut siapapun tamu yang datang. Jalan masuknya sebagian disemen dan sebagian lainnya ditutupi bata. Terasnya dikeramik berwarna merah bata dan dilengkapi kursi kayu panjang yang tampak sangat nyaman diduduki. Di kiri kanan kursi terdapat aneka tanaman yang tumbuh subur di dalam pot. Tidak kelihatan ada mobil di dalam garasi yang terletak di sebelah rumah utama. Garasi itu penuh barang-barang.

Begitu bel dibunyikan, seorang perempuan berambut pendek dengan logat Jawa yang kental datang menyambut untuk mempersilakan masuk. Ia pembantu tuan rumah. Ruang tamu diisi dengan seperangkat sofa berwarna oranye yang hampir usang dengan meja kayu berbentuk bulat dan bufet kayu berukuran besar. Bufet kayu diisi souvenir keramik berbentuk piring, guci-guci kecil, juga pahatan kayu berbentuk orang.

Di dinding terdapat lukisan Djokopekik berjudul Berburu Celeng dan lukisan bunga dengan warna-warna mencolok. Di sudut ruangan terdapat bufet yang di atasnya terpajang foto-foto cucu-cucu Joesoef dan foto pernikahannya pada 1956. Di sudut yang lain meja-meja kecil sebagai tempat aneka barang kerajinan.

Hanya perlu menunggu beberapa saat sebelum tuan rumah muncul. Seorang laki-laki berusia lanjut tapi masih tampak tegap. Dia mengenakan kemeja berlengan pendek bermotif kotak-kotak dan bercelana biru tua. Perut yang sedikit buncit menyembul dari balik kemejanya. Dia menyambut dengan ramah lantas menjabat tangan sambil memperkenalkan diri sebagai Joesoef Isak.

Dengan kesan pembawaan tenang, tidak ada yang menyangka bahwa dia telah mengalami konflik panjang. Barubaru ini Joesoef Isak menerima Wertheim Award dari Wertheim Foundation bersama Goenawan Mohamad pada 16 Desember 2005 di Belanda. Joesoef Isak dinilai telah berjuang untuk kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat selama bertahun-tahun. Joesoef Isak telah dengan gagah berani meneruskan penerbitannya di tengah berbagai ancaman, intimidasi, dan pelarangan secara terbuka.

Berikut petikan wawancara Nur Aini dari Ruang Baca Tempo dengan pria berkacamata tebal itu:

Apa makna penghargaan itu bagi Anda?

Sebenarnya saya tidak menganggap ini penghargaan pribadi. Award ini saya anggap penghargaan kepada semangat, suatu state of mind yang dihargai. Nilai award ini secara inheren mengandung pengakuan bahwa dalam sejarah republik kita ini, republik kita yang berusia 60 tahun, separuh dari usianya mengalami suatu cacat yang merendahkan martabat manusia. Ini penting, mengapa di dunia ini ada yang menamakan dirinya the free world, dunia bebas yang terutama diwakili oleh Amerika, yang justru mengakui periode yang saya anggap kotor, hitam, periode yang dipuji-puji oleh Amerika. Kita melihat contohnya manipulasi politik, karena Soeharto dengan orde barunya berhasil menggusur Soekarno dan PKI. Itu dianggap menguntungkan dunia, menguntungkan demokrasi. Award ini saya anggap koreksi terhadap pandangan yang rancu itu.

Award ini mengakui bahwa selama 30 tahun terjadi penghinaan terhadap martabat manusia atau terhadap kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan pers. Ini bukan buat saya pribadi, tapi buat yang sejalan sepikiran dengan saya. Bukan hanya orang-orang Hasta Mitra seperti Pramoedya, almarhum Hasjim Rahman, tapi termasuk toko buku-toko buku kecil, mahasiswa, pemuda yang berani ikut ambil risiko mengedarkan buku-buku yang dilarang itu.

Yang penting bukan Hasta Mitranya, tapi bahwa ada kekuatan, ada harapan, yang sebaiknya juga menjadi harapan semua orang, bahwa penegakan martabat manusia dalam membela demokrasi, membela hak asasi manusia, adalah pekerjaan seumur hidup, karena ketidakadilan akan selalu hadir.

Hadiahnya berupa apa?

Piagam dan uang euro sedikit. Saya kira tidak perlu disebut karena bukan di sana letak arti pentingnya. Saya pernah terima award yang hadiahnya kurang lebih sama, tapi Wertheim Award ini sangat saya hargai karena kebetulan saya kenal orangnya, Profesor Wertheim. Ia ahli hukum, tapi akhirnya lebih dikenal sebagai guru besar sosiologi. Dia bukan hanya kenal Indonesia, tapi cinta Indonesia. Saya menyebut Wertheim ini Multatuli abad ke-20. Kalau abad 19 kita kenal Douwes Dekker dengan nama samaran Multatuli yang membela rakyat kecil tanpa pamrih, luar biasa. Lewat tangannya dihasilkan banyak sarjana, banyak scholar, kaum intelektual yang sangat bermartabat, orang Indonesia maupun orang Belanda sendiri.

Secara pribadi dia berdiri di belakang saya pada saat saya mengedit karya Pramoedya Ananta Toer. Saya kenal dia secara pribadi, dan setiap saya ke Belanda saya jumpa dia. Luar biasa, umurnya jauh di atas saya, tapi dia perlakukan saya setara, walaupun dia seorang ilmuwan. Setelah dia meninggal, murid-muridnya berinisiatif mendirikan yayasan, Wertheim Foundation. Secara reguler, saya tidak tahu persis setiap berapa tahun, yayasan ini memberikan penghargaan kepada tokoh- tokoh Indonesia yang dianggap oleh Foundation ini memberikan jasa kepada perjuangan emansipasi bangsa.

Penerimanya belum banyak. Kalau tidak salah pertama Rendra, kedua Pramoedya, ketiga Wiji Thukul. Desember tahun lalu diberikan lagi kepada dua orang sekaligus, Goenawan Mohamad dan saya. Saya sangat gembira. Saya ikut bangga Goenawan terpilih. Kalau boleh saya komentari, saya sendiri melihat Goenawan ini seorang intelektual bangsa Indonesia yang masih bisa diharapkan sumbangan- sumbangan pemikirannya bagi masyarakat yang amburadul ini.

Amburadulnya yang seperti apa menurut Anda?

Saya ingin melihat ini dari segi intelektualitas, pemikiran, dunia alam pemikiran. Saya selalu berpendapat apa yang ditinggalkan Soeharto setelah 30 tahun adalah sesuatu yang sangat parah, terutama KKN, korupsi, budaya kekerasan di seluruh strata masyarakat kita, dan itu parah. Tapi lebih parah dari itu dan yang sulit diatasi adalah krisis intelektual. Dalam hal ini Goenawan Mohamad adalah seseorang yang bisa memberikan sumbangan bagaimana menata alam pikiran kita. Bagaimana kita bisa memberi sumbangan yang positif kalau kita bertolak dari pikiran yang rancu? Bagaimana kita bisa menjalankan kebijakan di bidang apa saja, politik, budaya, sosial, ekonomi, kalau titik tolak pemikiran kita rancu.

Anda perhatikan nggak, sudah menjadi budaya, menjadi kebiasaan, rekayasa dianggap sebagai kenyataan, sebagai realitas. Ini tema yang saya selalu coba diskusikan dengan anak-anak muda. Saya gunakan istilah reifikasi. Reifikasi ini adalah suatu proses yang berjalan, kotak-katik otak manusia, product of human mind yang berproses yang oleh masyarakat diterima sebagai kebenaran, diterima sebagai kenyataan. Seluruh masyarakat kita, termasuk intelektual kita, ikut kejangkitan. Ini tidak terpikirkan oleh anak-anak muda, kecuali orang-orang seperti Goenawan.

Soeharto pada 1 Oktober '65, pada hari- hari pertama, nggak lebih dari 4 hari pertama, tindakan yang pertama, statement yang pertama, mengatakan bahwa jenderal-jenderal itu dibunuh oleh Gerwani. Ini sepenuhnya rekayasa, ini sepenuhnya produk otak, bukan kenyataan sama sekali, bukan realitas. Anda bisa bayangkan seluruh masyarakat dan aparat kekuasaan yang tersedia, tv, surat kabar, semua alat penting mengumandangkan rekayasa ini. Dan seluruh kebijakan Orde Baru berdasarkan itu.

Contoh lagi, setiap lima tahun, dunia Barat dan kita sendiri ikut memuji-muji bagaimana kita menyelenggarakan demokrasi. Sebab tiap lima tahun diselenggarakan pemilihan umum. Tapi sebelum pemilu berlangsung, seluruh pers kita, tv, radio, seluruh pakar kita menganalisis bagaimana pentingnya kedudukan ABRI. Bahwa kita tidak bisa tanpa ABRI. Koordinasi ABRI itu jauh lebih baik daripada parpol-parpol. Anggotanya jauh lebih terdidik dari parpol-parpol. Ujung-ujungnya apa? Kita tidak bisa tanpa Soeharto. Jadi tiap lima tahun, ya ABRI yang berkuasa, ya Soeharto yang jadi presiden. Ini sepenuhnya rekayasa. Apa iya kita tidak bisa tanpa ABRI?

Yang paling indah sekali, Soeharto sendiri yang membantah nonsense ini. Ketika Soeharto lengser, tidak dia serahkan kepada jenderal, tidak kepada ABRI, tapi kepada Habibie. Saya tidak bilang Habibie itu baik, dan sebagainya, yang penting dia bukan jenderal, dia bukan ABRI. Tapi selama 30 tahun, tiap lima tahun, nyanyi kita sama, tidak bisa tanpa ABRI, tidak bisa tanpa Soeharto. Ini contoh-contoh bagaimana tadi Anda tanya amburadul itu apa.

Selain Wertheim award, penghargaan apa lagi yang pernah Anda dapat?

Saya tiga kali dapat penghargaan dalam satu setengah tahun (terakhir ini), pertama dari International Jeri Laber Award yang diberikan oleh asosiasi penerbit Amerika, April 2004. Sesudah itu, Maret 2005 dari Australian Pen Keneally (Sydney Pen). Saya lihat di sini, there is something wrong dengan masyarakat kita.

Selain menerima penghargaan, apa kegiatan lain ketika di Belanda?

Nggak ngapa-ngapain. Sebenarnya, ke Den Haag itu saja saya dilarang oleh dokter. Karena dua minggu sebelumnya saya baru operasi jantung. Tapi di lain pihak, jauh-jauh hari saya sudah bilang akan datang. Jadi terpaksa permintaan dokter saya langgar.

Kenapa penghargaannya diberikan di KBRI?

Nah, itu menarik. Saya sendiri cukup surprised, tapi ini memang suatu gejala yang menarik. Saya nggak tahu apa ini merupakan kebijakan orang-orang setempat, atau ini memang garis menteri luar negeri, saya nggak tahu. Bagi saya, ini suatu surprise dan saya anggap ini suatu kemajuan. Silakan Anda sendiri yang menafsirkan. Barangkali saya harus puji menteri luar negeri, karena di Stockholm keadaannya juga begitu, membuka pintu, dan di sana sudah tidak ada bebas G30S, yang ada satu masyarakat Indonesia di Stockholm. Di Paris juga begitu.

Apa makna Hasta Mitra bagi Anda?

Secara dialektis dapat diterangkan Hasta Mitra tidak akan dikenal orang dan tidak akan dapat penghargaan macam-macam kalau Soeharto dengan Orde Barunya tidak goblok. Apa perlunya melarang-larang itu. Saya anggap yang paling dirugikan itu bukan Hasta Mitra, yang paling dirugikan rakyat Indonesia. Jadi saya bilang, Hasta Mitra menjadi besar karena kegoblokan Orde Baru. Jadi sebenarnya Hasta Mitra ini dilahirkan oleh situasi. Kita bukan berdiri untuk menjadi pahlawan. Tidak punya pretensi macam-macam. Kita punya buku, ya seyogyanya boleh terbit seperti buku-buku yang lain kan?

Kalau dilihat latar belakangnya, pada saat mengelola Hasta Mitra bukannya tanpa rasa takut, saya terus-menerus dalam keadaan takut. Justru di situlah pelajaran yang kita dapat. Takut ini jangan sekali-kali kita kasih lihat, wajar kalau sekali-kali kita takut. Kita juga jangan pernah bosan, artinya di tengah jalan berhenti. Biarpun melawan nggak menang- menang, resepnya adalah jangan pernah berhenti. Yakin apa yang dilakukan benar, bahaya pasti akan selalu ada.

Apa konsep pertama ketika mendirikan Hasta Mitra?

Sebenarnya kita merespon situasi. Sampai hari ini saya sebenarnya masih tahanan di luar penjara. Sampai sekarang kita tidak memperoleh civil rights sama seperti Anda dan warga lainnya. Jadi pada saat terjadi restriksi-restriksi, nggak boleh ini, nggak boleh itu, peluang yang bisa kami tempuh adalah mendirikan penerbitan. Karena pertama, menyadari sepenuhnya situasi politik, kita ingin membuktikan bahwa dengan penerbitan ini kita bekerja legal. Kita menerbitkan buku legal. Apa yang ditulis bisa dibaca. Semuanya terbuka, bisa dikontrol, bisa diikuti, seluruh masyarakat bisa tahu.

Kedua, memberikan kesempatan kepada semua pihak, terutama tapol yang mempunyai kemampuan berkarya akan tetapi tidak mempunyai saluran untuk menjajakan hasil karyanya. Bukan karena mutunya, tapi karena statusnya. Tapi dengan modal nggak seberapa, begitu kita terbit dipukul, tiap terbit dipukul, akhirnya kita tidak bisa mengakumulasi modal. Perusahaan apa yang bisa berdiri seperti itu, penerbit mana yang bisa berdiri normal? Akibatnya, satu demi satu kita kurangi pegawai, dengan sendirinya modal yang ada tidak bisa kita jalankan. Modal yang ada dengan sendirinya disediakan untuk karya yang ada pada kita sendiri, yaitu karya Pram. Oleh sebab itu kita terkenal sebagai penerbit Pram. Sebenarnya awalnya it's not by design. Dan kita tahu buku-buku lain tidak selaku buku Pram. Setelah Soeharto jatuh, buku- buku yang dibredel kita terbitkan lagi dan ditulis sebagai edisi pembebasan.

Kenapa kemudian buku Pram diterbitkan oleh penerbit lain?

Kurang lebih tiga tahun yang lalu, buku- buku Pram diterbitkan oleh anaknya sendiri, oleh Lentera, bukan oleh penerbit macam-macam. Ini mungkin yang terbaik, karena anak Pram itu orang yang mengerti keuangan, mengerti bisnis. Hasta Mitra dengan karya-karya Pram sebenarnya adalah babak perlawanan terhadap Soeharto. Nah, babak ini sudah selesai. Jadi buku-buku Pram kini diterbitkan oleh anaknya. Kita masih terus, tapi dari dulu kita tersendat-sendat karena nggak punya modal. Nama besar tapi kena asma, sesak napas. Hasta Mitra ini saya pertahankan sebagai ikon perlawanan terhadap militerisme.

Jadi Hasta Mitra tidak terpengaruh dengan keadaan Pram sekarang?

Dari segi penerbitan, dari segi finansial, dari segi distribusi, itu sepenuhnya sudah di tangan Lentera. Saya pikir itu yang terbaik, karena saya tahu anak Pram itu mengerti masalah manajemen.

Waktu pertama mendirikan Hasta Mitra, pembagian tugasnya seperti apa?

Sederhana saja. Kita punya tugas utama menerbitkan karya-karya Pram, karena seperti kita tahu, karya-karya Pram di Pulau Buru itu karya-karya besar. Sedangkan Hasjim Rahman, di antara kita bertiga, dialah yang ngerti masalah keuangan. Pramoedya dan saya sengaja tidak mau ikut campur masalah keuangan. Mengelola modal, distribusi, jual buku, nagih buku, dan sebagainya itu pekerjaan Hasjim Rahman. Saya sendiri sebagai editor Hasta Mitra. Hasjim Rahman dan Pramoedya menyerahkan urusan politik kepada saya. Jadi segala sesuatu yang menyangkut urusan politik, menjadi tugas saya. Sedangkan Pram sendiri adalah sebagai penulis.

Bagaimana ketegangan ketika pertama menerbitkan Bumi Manusia?

Kita sengaja pilih terbit hari Jumat, dengan perhitungan Sabtu dan Minggu Kejaksaan Agung libur. Tapi rupanya bocor. Lalu saya ditelepon oleh Kejaksaan Agung. Mereka tanya, "Apa betul saudara menerbitkan buku?" Lalu saya jawab, "Betul." "Begini, saya minta buku itu jangan diterbitkan dulu sebelum ada ijin dari kami." Saya iyakan saja, tapi kita jalan terus. Begitu hari Selasa, saya ditelepon lagi, "Kok bukunya sudah terbit? Kan saya bilang tidak boleh terbit. Lalu saya bilang bagaimana saya dapat jaminan ini telepon dari Kejaksaan Agung. Selama belum ada perintah tertulis dari Kejaksaan Agung di tangan saya, saya akan jalan terus." Yang menarik, 6 bulan kemudian baru buku itu dibredel. Diumumkan Kejaksaan Agung lewat pers. Di situ kita bisa lihat, ada dilema dalam penguasa, dalam power of structure, antara dibredel atau tidak.

Apa alasan yang digunakan Kejaksaan Agung untuk membredel?

Gak usah pakai alasan (sambil tertawa). Alasannya itu semuanya sama. Alasannya begini, karena dianggap menyebar luaskan marxisme, komunisme...bla..bla.. Hasjim Rahman pernah diperiksa, saya pernah diperiksa. Saya pernah bertanya kepada interogator, "Bapak ini menuduh buku ini berisi marxisme, leninisme, karena Bapak menuduh, mestinya saya bertanya di halaman berapa, alinea berapa, bab berapa ada marxisme?" Dan jawabannya memang sangat original. Saya kira ini luar biasa jawabannya. "Saya tidak bisa membuktikan, akan tetapi saya bisa merasakan ada marxisme dan leninisme." Hebat nggak tuh, tuduhan dan hukum tidak bisa dibuktikan tapi bisa dirasakan. Kebodohan-kebohohan yang hari ini perlu dicatat adalah buku-buku Pram tidak pernah dicabut larangannya.

Kenapa demikian?

Oh..tanya sama mereka. Ini yang disebut inersia, hukum kelambanan, indolensi, sudah tidak dipikirkan lagi, padahal itu sesuatu yang prinsipil, sesuatu yang aib, cacat, kan harus dikoreksi. Barangkali alasannya, kalau ini dicabut, berarti marxisme diperbolehkan lagi. Kalau marxisme diperbolehkan, PKI diperbolehkan lagi, dan seterusnya. Barangkali mereka berpikir begitu. Kalaupun begitu, salahnya apa? What's wrong about that? Memang harus dibolehkan marxisme, PKI. Kenapa tidak? Kalau mereka bikin kesalahan, ya ada pengadilan, kan gitu.

Kenapa Anda tidak dibuang ke Pulau Buru bersama Pram?

Di dunia ini, Indonesia adalah negeri berkembang di dunia yang paling banyak punya tapol. Pemerintah sering umumkan antara 1,3- 1,7 juta. Penguasa tuh bingung, bagaimana menghadapi tapol begini banyak. Yang mana yang harus diadili, yang mana yang berbahaya. Timbullah ide hebat untuk membagi tapol itu ke dalam kategori. Kategori A, B, C, D, barangkali ada C1, C2. Golongan A dianggap berbahaya dan direncanakan dibawa ke pengadilan karena cukup bukti. Golongan B golongan berbahaya tapi tidak cukup bukti untuk diseret ke pengadilan. Nah golongan B dibuang ke Pulau Buru.

Saya tidak ke pulau Buru, karena masuk golongan A pada saat itu. Yang paling heran tentu saya sendiri, kenapa golongan A. Kalau golongan A berarti saya selevel sama Sudisman dan semua anggota CC dan Politbiro. Saya masuk golongan A justru hikmahnya tinggi, karena saya tidak dikirim ke pulau Buru, dan akhirnya situasi internasional meminta Soeharto untuk mengadakan penyelesaian tahanan politik. Berangsur-angsur mulai berlangsung pembebasan.

Apa imbasnya bagi keluarga Anda?

Itu menjadi cerita tersendiri. Seperti Pramoedya, yang sangat dia sesalkan dia tidak pernah berkesempatan mendidik anaknya. Itu kan masa-masa anak-anak di SD, SMP, SMA. Keluarga dengan sendirinya ikut menderita. Award ini juga saya anggap penghargaan terhadap keluarga.

Kenapa setelah menerbitkan Bumi Manusia masih menerbitkan lagi Anak Semua Bangsa?

Dari luar kelihatannya hebat, berani, padahal berani apa, saya takut, tapi takut ini jangan kasih lihat. yang penting kerja jalan terus.

Apa ini juga menjadi alasan menyelundupkan buku-buku Pram ke luar negeri?

Inisiatif kita sendiri untuk menerbitkan dalam bahasa Belanda. Itu sepenuhnya penilaian literer, yang kita tahu betul ada aspek komersil dengan harapan itu menjadi pemasukan bagi Pramoedya. Dan itu berhasil. Tapi akhirnya hanya Bumi Manusia yang kita inisiatif untuk terjemahkan sendiri. Kemudian penerbit-penerbit luar meminta izin untuk menerbitkan. Itu berlanjut dan akhirnya sudah menjadi hak Pramoedya untuk memilih penerbit mana yang dia izinkan. Mula-mula Belanda, Inggris, kemudian Spanyol, Italia, Vietnam, Jepang. Itu inisiatif masing- masing lewat literary agent yang bertindak atas nama Pram. Ada satu yang agak istimewa. Di Indonesia belum terbit, tapi di Belanda sudah duluan terbit. Itu buku Nyanyian Sunyi Seorang Bisu karena dianggap terlalu berbahaya kalau diterbitkan di sini. Buku itu baru diterbitkan di sini waktu Pramoedya berusia 70 tahun.

Kenapa memilih Pinguin Book untuk menerbitkannya?

Kalau Pinguin itu sejak awal, mulai Bumi Manusia. Mula-mula Pinguin Australia. Jadi, Pinguin Australia termasuk penerbit dunia yang berjasa menembus blokade itu. Bukunya dilarang di Indonesia, tapi Pinguin Australia menerbitkan empat-empatnya (tetralogi Buru). Belakangan, Pinguin Amerika mengambil oper.

Pembagian royaltinya bagaimana?

Untuk Pram, dengan sendirinya untuk Pram, tidak ada masalah. Langsung ke Pram.

Ketika pertama diterbitkan Pinguin Australia, apa itu atas inisiatif Anda?

Begini, mula-mula kita yang berinisiatif menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris, maksudnya Hasta Mitra yang menerbitkan dalam bahasa Inggris. Di tengah jalan ada cerita tersendiri, penerjemahnya diplomat kedutaan Australia (Max Lane). Ketahuan oleh duta besarnya. Lalu dia disuruh pulang ke Australia. Pada saat dia di Australia, dia berhubungan dengan Pinguin, terus Pinguin yang ambil oper. Untuk seterusnya, penerbit Pinguin.

Menurut Anda, apa karya Pram yang paling berhasil?

Saya nggak akan menilai mana yang paling wah. Karena secara umum karya Pram ini memang luar biasa, semua dan sebenarnya sepenuhnya membenarkan penilaian Pramoedya sendiri. Pram selalu bilang, "Semua karya-karya itu adalah anak ruhani saya. Karena itu, semua itu sama di mata saya. Nggak ada yang dimanjakan. Kemudian anak-anak ruhani ini menjalani nasibnya sendiri-sendiri. Ada yang nasibnya baik, ada yang nasibnya kurang baik. Itu sudah dilepas di masyarakat, sudah jadi milik masyarakat." Saya cenderung membenarkan kata-kata Pram. Tapi kalau Anda ingin jawaban yang konkrit, saya pikir yang mencuat tetralogi itu. Walaupun dari empat itu, Bumi Manusia yang di atas. Kalau saya mengikuti selera awam, ya tetralogi itu. Tapi kalau dilihat dari segi literer, Arus Balik dan Arok Dedes tidak berada di bawah tetralogi itu.

Bagaimana pendapat Anda tentang Pram?

Saya relatif baru kenal Pram. Artinya setelah sama-sama bebas. Saya tahu Pram, tapi saya tidak kenal. Saya kenal Pram setelah sama-sama mendirikan Hasta Mitra. Saya mengagumi dia sebagai pemikir, bukan politikus, tapi tajam naluri politiknya. Naluri politik yang tajam ini tecermin dalam karyakaryanya. Yang saya tangkap dari Pram adalah ia budayawan kreatif yang dalam hakikat dan dasarnya memihak kepada orang yang tertindas.

Apa keberhasilan terbesar yang pernah Anda peroleh?

(terdiam beberapa saat sambil berpikir keras) Belum ada. Mungkin saya bisa mengatakan berhasil kalau keadilan dan kesejahteraan sudah merata. Selain itu belum ada.

Apa kegagalan terbesar dalam hidup Anda?

Banyak. Itu cerita bersambung yang tidak saya ukur. Saya tidak menempatkan ini dalam konteks pribadi. Saya menempatkan diri saya sebagai bagian dari masyarakat. Itu juga menjadi bahan renungan yang menjadi agenda sehari-hari sewaktu dalam tahanan. Di dunia ini barangkali cuma kita, tahanan, yang tidak tahu kapan akan bebas. Itu menyebabkan kita punya banyak waktu untuk merenung. Apa saja yang sudah kita lakukan, kesalahan apa yang sudah kita lakukan, apa yang akan kita lakukan setelah bebas. Dengan cara saya, saya akan bekerja untuk demokrasi, bekerja untuk menegakkan demokrasi.

Penghargaan itu juga cerminan masa lalu yang penuh kegagalan dan masa depan yang berusaha saya tempuh. Itu refleksi perjalanan politik saya. Saya tahu diri, saya sudah 77 tahun. Sekarang giliran kamu. Secara khusus saya mendambakan generasi muda yang terbebas dari kerancuan berpikir. Dan saya gembira gejala ini ada. Sebagai konsekuensi saya bekerja untuk demokrasi, saya juga tidak akan menyensor rekan saya sendiri sesama wartawan. Terserah kamu mau menulis apa tentang wawancara ini.

YOS



BIODATA

Joesoef Isak

Alamat:

  • Jl. Duren Tiga No. 36, Kecamatan Mampang

Agama:

  • Islam

Nama Istri:

  • Budi Asni

Nama Anak:

  1. Verdi
  2. Lutfi
  3. Des Antara

Pendidikan:

  • Drop out Fakultas Hukum UI di tahun ke-2

Riwayat Kerja:

  1. Berita Indonesia, penerjemah dan dokumentasi
  2. Merdeka, Pemimpin Redaksi

Organisasi:

  1. Sekjen PWI Jakarta (1963)
  2. Sekjen PWAA (1963)
  3. Wakil Presiden IOJ (1962-1966)