Home
Kolom
U L A S A N
Sketsa
P E N E R B I T
Percakapan
Sudut Lipatan
Rehal
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 30 Oktober 2005

Cerita Sampul


Jurus Para Pendekar Lokal

Nama Mintardja meroket di antara novelis silat lokal

Mahesa Jenar adalah salah satu nama paling sering disebut di Semarang. Konteksnya sederhana. Ini adalah julukan kesebelasan sepakbola kesayangan ibu kota Jawa Tengah itu, PSIS. “Penemu” nama Mahesa Jenar, jika mendapat royalti setiap kali nama ini disebut, mungkin sudah kaya raya. Tapi tidak.

Penemunya tidak mendapat royalti dan tidak menjadi kaya raya. Ia, Singgih Hadi Mintardja, sampai meninggal enam tahun silam dalam usia 66 tahun, tidak pernah terdengar meributkan soal royalti ini. Mungkin ia malah lebih berbangga. Tentu saja, karena Mahesa Jenar hanya nama karakter hero dalam cerita silat yang ia tulis: Nagasasra dan Sabukinten.

Penempelan nama Mahesa Jenar ke dalam kesebelasan PSIS menunjukkan seberapa terkenal cerita ini di daerah Jawa Tengah. Tidak hanya di Yogyakarta, tempat naskah ini pertamakali dimuat bersambung di harian Kedaulatan Rakyat. Popularitas Mahesa Jenar dan Nagasasra dan Sabukinten juga menunjukkan satu hal: novel dasar beladiri tak hanya monopoli cerita silat Cina.

Tapi buku silat lokal juga tumbuh di Indonesia, meski diakui tidak sesubur di Cina. Singgih Hadi Mintardja— dengan nama “beken” S.H. Mintardja—adalah satu dari sederet penulis buku silat lokal. Nama lain ada Widi Widayat memunculkan Cinta dan Tipu Muslihat dan diikuti Terbentur Nasib. Nama lain adalah Herman Pratikto yang menelurkan Bende Mataram dan Mencari Bende Mataram yang diterbitkan ulang Elex Media.

Malah, jika mau, Bastian Tito juga bisa dimasukkan di sini. Dialah penulis seri novel Wiro Sableng yang belakangan cukup sukses saat dijadikan novel seri. Arswendo Atmowiloto, penulis yang bisa mengarang cerita apa saja itu, juga membuat Senopati Pamungkas. Cerita silat ini awalnya dimuat bersambung di majalah remaja Hai.

Tidak hanya itu. Asmaraman S. Kho Ping Hoo, sudah terkenal sebagai penulis cerita silat Cina yang piawai, juga menulis sejumlah novel silat berlatar belakang Indonesia. Yang cukup terkenal adalah Badai Laut Selatan atau Perawan Lembah Wilis. Tapi dari berbagai ukuran, S.H. Mintardja adalah nama paling terkemuka.

Bukan hanya Mahesa Jenar menjadi julukan PSIS. Tapi produktivitasnya juga tidak diragukan. Selama sekitar tiga dekade ia menulis Api di Bukit Menoreh tanpa henti. Harian lokal Kedaulatan Rakyat langsung memuatnya. Jika S.H. Mintardja sakit, misalnya, koran ini akan memuat pengumuman penghentian lanjutan cerita.

Hebatnya, di saat dikejar tenggat Api di Bukit Menoreh sejak 1967 sampai menjelang meninggal, ia sempat menulis sejumlah judul lain yang juga cukup terkenal seperti Pelangi di Atas Singosari, Yang Terasing, sampai Matahari Esok Pagi. Kepopuleran karya S.H. Mintardja sangat terbantu dengan sandiwara tradisional kethoprak yang digemari warga Jawa Tengah, Yogyakarta, sampai Jawa Timur.

Mereka yang bukan tipe pembaca buku memahami cerita rekaan S.H. Mintardja dari kethoprak, baik yang pentas di alun-alun atau televisi lokal. Kethoprak ini tak hanya dipanggung- panggung, tapi juga lewat televisi. Nagasasra dan Sabukinten pernah menjadi seri kethoprak di televisi Yogyakarta meski tidak sampai tamat.

Tidak hanya itu, bagian awal Api di Bukit Menoreh pernah dijadikan film pada 1970-an. Selain produktivitas, kelebihan S.H. Mintardja adalah kedekatan emosional. Meski menulis dengan bahasa Indonesia, ia membaluri dengan nuansa Jawa. Ia menyebut waktu, misalnya, dengan istilah yang hampir dilupakan seperti sirep uwong atau sirep bocah.

Yang paling lokal baunyaadalah teknik beladiri. S.H. Mintardja tidak menyebut beladirinya sebagai pencak atau silat. Ia menyebut sebagai “olah kanuragan” atau “ilmu kanuragan”. Tenaga dalam ia juluki “tenaga cadangan”. Rentetan ilmu beladiri kuno ia sebutkan. Raden Sutawijaya, tokoh dalam Api di Bukit Menoreh misalnya, disebut memiliki ilmu kekebalan tubuh “Tameng Waja”.

Agung Sedayu memiliki ilmu semacam “Kakang Pembarep Adi Wuragil”, yang bisa membuat dirinya menjadi tiga sosok. Dalam Nagasasra dan Sabukinten, Lokal Sabukinten, Pasingsingan memiliki ajian “Gelap Ngampar”, tawa yang menjadi senjata. Joko Tingkir disebut memiliki jurus “Lembu Sekilan”, ilmu kebal jenis lainnya. S.H. Mintardja juga melengkapi adegan peperangan dengan deskripsi taktik pertempuran klasik militer Jawa.

Saat pasukan Pajang di bawah Untara bertemu kawanan pemberontak Tambak Wedi, misalnya, ia menggunakan taktik Cakra Wyuha. Pasukan mengepung musuh seperti cakra. Ini mengingatkan ketrampilan Chin Yung, dalam Sia Tiaw Enghiong (Memanah Burung Rajawali) yang bercerita tentang formasi ajaib Pat Kwa. Soal plot, S.H. Mintardja sangat longgar. Dalam Nagasasra dan Sabukinten misalnya.

Ia bercerita bagaimana dedikasi tentara Demak, bernama Mahesa Jenar, mencari dua keris yang dicuri dari istana Demak. Butuh cerita panjang di kawasan Mentaok sebelum akhirnya pembaca diajak ke tema awal: pencarian keris. Begitu pula dengan Api di Bukit Menoreh. Cerita dibuka dengan peperangan sisa pasukan Arya Penangsang yang mencoba bertahan di wilayah subur Sangkal Putung.

Butuh waktu panjang sebelum pembaca diajak pergi ke wilayah perbukitan Menoreh. Mintardja juga memiliki ketrampilan lain yang langka. Ia bisa membuat sejarah versi sendiri agar lebih manis. Pertempuran di Prambanan saat pemberontakan Raden Sutawijaya—pendiri dinasti Mataram Islam—terhadap kerajaan Pajang dalam Api di Bukit Menoreh menjadi lumer.

Pertempuran itu, di mata S.H. Mintardja, direkayasa Sutawijaya dan penguasa Pajang untuk membersihkan kelompok bawah tanah yang ingin membangkitkan kembali Majapahit. Saat Kedaulatan Rakyat sudah tidak bisa dipisahkan dengan karya S.H. Mintardja, koran lain di wilayah itu tidak mau kalah. Suara Merdeka melirik nama penulis lain.

Muncullah Widi Widayat dengan karya yang dimuat bersambung lalu dibukukan di CV Gema, penerbit yang biasa memunculkan karya Kho Ping Hoo.Widi Widayat memunculkan Cinta dan Tipu Muslihat, yang cukup enak dibaca, dan diikuti Terbentur Nasib. Cara bercerita Widi Widayat ini, entah mengapa, sangat mengingatkan pada gaya Kho Ping Hoo.

Seperti juga Kho Ping Hoo atau Arswendo, WidiWidayat lebih terampil menata plot yang lurus dibanding Mintardja yang berceritanya kadang ke sana ke mari. Tapi seperti Kho Ping Hoo, Widi memiliki kekurangan mencolok dibandingkan S.H. Mintardja: nuansa Jawa kurang kental. Ini yang agaknya membuat Mahesa Jenar menjadi begitu populer.

nurkhoiri