Home
Kolom
U L A S A N
Sketsa
P E N E R B I T
Percakapan
Sudut Lipatan
Rehal
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 30 Oktober 2005

Cerita Sampul


Cerita Silat Menggeliat

Dulu standar besaran buku cerita silat berukuran oktavo dan diterbitkan per jilid. Kini buku-buku cerita silat baru menggunakan format buku, hanya tiga jilid tebal dan tamat. “Ini adalah harga mati yang harus dibayar untuk menyesuaikan zaman,” kata Gan KH.

T eng Ting-hou melesat miring seperti burung walet menerobos hutan. Ginkangnya memang tidak rendah. Namun bayangan orang yang diburunya tidak kelihatan. Tinju Teng Ting-hou mengepal. Ia menghela napas gegetun, sembari bergumam, “Siapakah dia? Siapa punya kemampuan sebesar ini?”

Teng Ting-hou dalam cerita silat Pukulan Si Kuda Binal itu adalah salah seorang tokoh dari perusahaan jasa pengawalan terbesar yang memiliki ilmu silat tertinggi di Sungai Telaga. Ia dan anak buahnya, juga empat kelompok lain, dipercaya mengawal kereta yang membawa barang berharga.

Namun Ting Si, anak muda bergajul, berpakaian lusuh, tongpes, dan doyan minum arak itu tak mudah tertipu. Ia bersama sahabatnya, Siau Ma yang mendapat julukan “Si Kuda Binal”, mengetahui bahwa 72 berlian yang akan mereka curi itu tak berada di dalam kereta.

Berlian itu dimasukkan ke dalam ruas tiang bendera yang dibawa anak buah Teng. Ting Si dan Siau Ma pun menyiapkan pembegalan. Aksi mereka berhasil. Teng dan pasukannya terkelabui. Pertanyaannya siapa yang membocorkan rahasia bahwa berlian itu ada di tiang bendera?

Kelompok jasa pengawalan mana yang berkhianat? Mengapa pula terjadi pembunuhan berantai setelah itu? Anggota milis Masyarakat Tjerita Silat Indonesia memperbincangkan kisah menarik cerita silat terbaru terbitan Pantja Satya Semarang itu. Si Kuda Binal yang baru diluncurkan di Cijantung Mall akhir bulan lalu tersebut adalah karya Khu Lung (Gu Long) yang diterjemahkan oleh Gan KH.

Mereka memperbincangkan berbagai hal, mulai dari plot, klimaks cerita, gaya bercerita Khu Lung, pembunuh yang baru diketahui pada akhir cerita, hingga judul yang dinilai tak pas. “Tokoh utama cerita ini adalah Ting dan Teng, sedangkan Kuda Binal hanyalah peran pembantu. Seperti cerita tentang petualangan Batman, tapi kok dikasih judul ‘Petualangan Robin’?” seorang anggota milis menulis kritik.

Anggota yang lain memuji gaya bercerita Khu Lung yang piawai menyuguhkan cerita silat bak cerita detektif ala Agatha Christie. Khu Lung dinilai tak terjebak pada pertarungan adu kesaktian yang tak perlu, tapi lebih banyak menyuguhkan percakapan yang menggiring rasa penasaran pembacanya hingga akhir cerita.

Diskusi di komunitas elektronik ini pun mengalir pada karya-karya Khu Lung yang lain: pada periode kejayaan pengarang yang dijuluki sebagai “Empu Novel Kungfu Terbaik” pada 1960-an, tentang serial Pendekar Empat Alis dan Pendekar Harum yang paling dia banggakan, hingga tentang buku-buku Khu Lung yang kini diterbitkan ulang.

Pada saat yang lain diskusi bergeser membahas Chin Yung, pengarang cerita silat Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali yang pernah diangkat menjadi serial populer televisi di Indosiar beberapa tahun lalu. Jurus-jurus maut seperti “jurus kodok” dan “jurus delapan belas telapak naga” rekaan Chin Yung menyeruak di arena pembicaraan.

Jurusjurus itu dinilai memang adadalam ilmu kungfu. Dan Chin Yung memperlakukan ilmu kungfu sebagai ilmu yang memadukan kekuatan dan kelemahan, rembulan dan matahari, gelap dan terang. Menyimak percakapan yang hidup di milis tersebut, juga majalah Rimba Hijau yang diedarkan kepada anggota Masyarakat Tjersil, seperti menyaksikan sebuah kegairahan membaca dan mengapresiasi cerita-cerita silat yang pernah jaya pada 1950-an hingga pertengahan 1970-an.

Saat itu penikmat cerita-cerita silat dari daratan Cina dimanja karya-karya terjemahan. Koran-koran memuat cerita silat bersambung. Kios-kios persewaan buku penuh dengan antrean pembaca yang penasaran dengan kelanjutan sebuah cerita. Penerjemah-penerjemah pun bermunculan. Nama-nama seperti OKT (Oey Kim Tiang), Gan KL (Gan Kok Liang), Gan KH (Gan Kok Hwie), Tjan ID (Tjan Ing Djioe) dan S.D. Liong (Sie Djiak Liong) kebanjiran order terjemahan.

Tak jarang pembaca salah mengira mereka sebagai pengarang cerita-cerita silat itu lantaran sang pengarang asli tak dicantumkan dalam buku-buku saduran mereka. Binarto Gani, anak sulung Gan KL dan keponakan Gan KH, menggambarkan bagaimana larisnya buku-buku terjemahan sang ayah waktu itu. “Setiap sudut rumah penuh buku.

Setiap jilid bisa laku lebih dari 10 ribu eksemplar,” ungkap Binarto. “Dari pekerjaan menerjemahkan itu ayah saya bisa membeli rumah dan kendaraan baru.” Gan KL telah menerjemahkan lebih dari 50 judul cerita silat. Beberapa yang akan terus dikenang adalah Tiga Dara Pendekar (Jianghu Sannuxia) karya Liang Yushen, Rahasia Putri Harum (Suqian wenshou lu) dan Hina Kelana (Xiao’ao Jianghu) karya Jin Yong, dan Pendekar Binal (Juedai shuangjiao) (1980) karya Gu Long.

Para penerjemah itu pun tak jarang saling berkompetisi. Mereka berburu mendapatkan buku-buku asli dari penerbit atau meminta dikirimkan oleh kerabat mereka dalam bentuk potongan-potongan koran, langsung dari Hong Kong atau Taiwan.

Satu-satunya “kode etik” yang mengatur “kerakusan” para penerjemah adalah “perjanjian” antarsesama penerjemah untuk tak menyentuh karya pengarang tertentu. Tjan ID misalnya tak akan menyentuh karya-karya Liang Ie Shen. Sementara jika Gan KL mendapatkan buku Gu Long, maka buku itu akan diberikan kepada Tjan untuk diterjemahkan.

Kendati sudah punya rambu-rambu, dalam prakteknya mereka terkadang melanggarnya. Gan KL, misalnya, juga tergiur menerjemahkan buku- buku Gu Long. Akhirnya “perjanjian” itu berubah: disepakati penerjemah yang telah menerbitkan tiga jilid untuk satu judul dianggap sebagai pemegang “hak terjemahan” buku itu. Tak ada aturan soal royalti saat itu.

Ramainya novel cerita silat terjemahan itu tak pelak membangkitkan gagasan untuk mencipta cerita-cerita silat Indonesia. Muncul cerita-cerita silat karya Widi Widayat, Herman Pratikto, Joko Lelono, hingga Asmaraman Kho Ping Hoo dan SH Mintardja. Sebagian besar pengarang dalam negeri itu, kata Sutrisno Murtiyoso, Wakil Ketua Masyarakat Tjersil Indonesia, “mendapat pengaruh dari cerita silat Cina klasik.

”Pengaruh cerita silat Cina klasik itudapat terlihat dari nilai-nilai yang terkandung dalam cerita silat Indonesia. Misalnya soal balas dendam. Menurut Sutrisno, ajaran balas dendam yang kerap mengisi lembaran cerita silat Indonesia mengadopsi Cina. Alasannya, balas dendam di Indonesia bukanlah sebuah kewajiban yang mendarah daging. “Di Cina balas dendam bagian dari bakti seseorang kepada yang ia hormati,” ungkapnya.

Maka tak heran, ketika membuka cerita silat klasik asal Cina, kerap dijumpai pertarungan yang lahir dari balas dendam. Jika seorang pendekar yang orangtua atau gurunya tewas akibat perbuatan jahat, maka musuhnya wajib melaksanakan kewajiban ini. Jika ia tidak memenuhinya, praktis namanya akan tercemar di Jianghao atau rimba persilatan.

Bedanya, pengarang cerita silat lokal, seperti SH Mintardja, memperkaya dengan nuansa Jawa yang sangat kental. Dalam soal teknik beladiri, misalnya, SH Mintardja tidak menyebut beladirinya sebagai silat. Ia menyebut sebagai “olah kanuragan” atau “ilmu kanuragan”. Tenaga dalam ia juluki “tenaga cadangan”.

Cerita-cerita silat lokal ini pun meledak. Yang paling terkenal tentu saja Kho Ping Hoo, pengarang yang sama sekali tak bisa berbahasa dan membaca tulisan Cina. Pembaca menyukai karena ia lihai memadukan tragedi dengan akhir cerita bahagia. Maraknya karya cerita-cerita silat terjemahan dan lokal tersebut tak urung menumbuhkan komunitas penggemar. Kolektor-kolektor bermunculan.

Saat pamor cerita silat meredup sejak akhir 1980-an, buku-buku silat kian langka. Koleksi buku-buku cerita silat menjadi barang yang mewah. Adhi Hidayat adalah salah seorang pemburu buku cerita silat yang terbilang paling gila. Koleksi cerita silat di rumahnya di Bandung menggunung: lebih dari 180 ribu jilid. Mulai dari cerita silat terjemahan, cerita silat khusus berlatar Tiongkok, maupun lokal karangan SH Mintardja atau Bastian Tito.

Adhi berkisah mulai mengoleksi cerita silat sejak ia jatuh hati pada bukubuku Kho Ping Hoo pada usia 12 tahun. Dahaga akan kisah petualangan pendekar silat itu terus mengejarnya. Ujungnya, pada medio 2002, dengan seluruh kemampuannya, Adhi berkelana. Ia terbang dari satu daerah ke daerah lain di Indonesia untuk menelusuri dan mengumpulkan cerita silat.

Tak hanya mengoleksi, Adhi juga turut menerjemahkan sejumlah cerita silat langka. Ia juga khusus membayar penerjemah untuk menyadur buku-buku silat klasik yang diincarnya. Uniknya, hasil terjemahan itu dicetak terbatas khusus buat dirinya dan sejumlah penggila novel cerita silat. Masyarakat Tjersil yang terbentuk pada pertengahan 2004 itu mencoba mendata orang-orang semacam Adhi tersebut. Selain mendata kolektor, komunitas ini juga mulai mencetak ulang cerita silat yang pernah diterbitkan dulu dan menggalakkan penerjemahan cerita baru.

Kini setidaknya telah terbit 10 buku cerita silat anyar. “Saya tergerak menerbitkan kembali karya-karya Gan KL dan buku-buku baru karena mendapat dukungan yang luar biasa dari komunitas ini,” kata Binarto, pemilik penerbit Pantja Satya Semarang, yang tengah menyiapkan menerbitkan 23 judul baru. Penggemar cerita silat dari Surabaya, Bing Cahyono, 36 tahun, juga turut terjun dalam penerbitan. Ia melobi pemilik penerbit Wastu Lanas Grafika Surabaya yang selama ini mencetak buku-buku arsitektur untuk mau menerbitkan novel silat.

Hasilnya, mereka telah mencetak ulang lima judul cerita silat yang pernah diterjemahkan OKT. “Kesulitan utama yang dihadapi sekarang ini adalah sulitnya mencari penerjemah muda yang mau menerjemahkan cerita silat. Kita krisis penerjemah,” kata Bing. Buku-buku silat terbitan baru ini berbeda ukuran dengan cerita silat lama yang berukuran 13x18 sentimeter atau kerap disebut oktavo.

Dulu standar besaran buku cerita silat yang muncul di Indonesia pasca Perang Dunia I, dan sebelum 1965 berukuran oktavo dan diterbitkan per jilid. Kini buku-buku cerita silat baru menggunakan format buku, hanya tiga jilid tebal dan tamat. “Ini adalah harga mati yang harus dibayar untuk menyesuaikan zaman,” kata Gan KH.

Dulu, kata Gan KH, proses penerbitan buku cerita silat dilakukan dengan cara diecer. Satu minggu terbit satu jilid buku tipis (biasanya 50-60 lembar halaman). Penerbitan buku cerita silat versi lama ini memang membutuhkan kerja keras super ekstra. Terutama saat masuk dalam proses penerbitan. “Karena menggunakan plat cetak lama, maka banyak huruf yang kabur atau cetakan miring,” ujarnya. Kesabaran makin diuji, lantaran kesalahan dalam penulisan akan mengakibatkan pekerjaan berlipat.

Pasalnya tidak ada cara untuk menghapus kecuali mengganti dengan baru. Format klasik-kecil, kata Gan KH, juga berkenaan dengan masalah harga. Meski tak ada harga baku yang pas untuk satu jilid buku cerita silat, tapi masyarakat saat itu hanya mampu membeli buku yang harganya di bawah 1 kilogram beras. “Itulah kenapa dibuat tipis-tipis,” ia menjelaskan. Kini buku cerita silat terbitan anyar ijual dengan format box-set.

Selain itu digarap dalam dua edisi, hard coveratau paperback. Menurut Bing, langkah ini diambil lantaran banyak pembaca cerita silat yang gemar mengoleksi. “Dalam format eksklusif seperti ini banyak pembeli yang tertarik,” ucap Bing. Dari isi, gaya bahasa yang dipergunakan jelas berubah. Dulu ejaan lama, kini menggunakan bahasa Indonesia yang disempurnakan.

Tapi memang untuk nama yang terlibat tetap menggunakan gaya bahasa lama. Penggunaan bahasa Hokkian tetap menjadi pilihan dari pada harus diubah ke dalam bahasa Cina, Mandarin. “Ini hanya untuk alasan historis saja,” kata Gan KH. Apalagi, katanya, banyak warga Cina keturunan di Indonesia akrab dengan bahasa Hokkian ketimbang Cina, Mandarin. Dengan mulai digalakkannya penerbitan ulang dan hidupnya milismilis komunitas cerita silat, Sutrisno berharap cerita silat akan mencuri perhatian anak muda.

Inilah generasi baru pembaca yang diharapkan tumbuh. Tanpa mereka, cerita silat hanya akan menjadi nostalgia belaka.

Setiap aksi harus direncanakan secara cermat. Jika tidak yakin berhasil, buat apa turun tangan. Di saat otaknya mulai menerawang itulah, mendadak Ting Si beraksi dengan kecepatan kilat. Lalu bagaimana akhir kisah Siau Ma? Kuda Binal menjadi lebih binal dengan sepasang tinjunya. Lawan pasti penyok hidungnya karena luka jotos. Tinju adalah gaman Siau Ma. Biar tubuh terbacok enam kali, musuh tetap dihajar hingga ringsek mukanya. Silakan ikuti lanjutan kisahnya...

cahyo junaedy/yos rizal