Home
Kolom
U L A S A N
Sketsa
P E N E R B I T
Percakapan
Sudut Lipatan
Rehal
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 30 Oktober 2005

Cerita Sampul


Mencandu Kho Ping Hoo

Pembelaan Kho Ping Hoo terhadap orang-orang miskin disampaikan secara eksplisit.

Saya mengenal cerita silat Asmaraman S. Kho Ping Hoo pertama kali waktu kelas satu sekolah menengah pertama. Seorang kakak meminjam dari kios penyewaan buku. Saya ingat betul judulnya Jodoh Si Mata Keranjang. Tokoh utamanya, Tang Hay alias Hay Hay atau Si Pendekar Mata Keranjang. Alkisah, Tang Hay adalah anak haram, buah dari perkosaan yang dilakukan jai hwa cat alias penjahat pemetik bunga, Si Kumbang Merah.

Jatuh bangun Tang Hay mencari identitas ayahnya mewarnai tiga seri Pendekar Mata Keranjang, yaitu Pendekar Mata Keranjang, Si Kumbang Merah Penghisap Kembang dan Jodoh Si Mata Keranjang. Awalnya sulit juga membaca cerita sepanjang itu. Bayangkan, Jodoh Si Mata Keranjang saja misalnya terdiri atas sekitar 30 jilid buku ukuran stensil. Belum lagi nama-nama tokohnya, nama Cina, masih asing di telinga.

Tapi itu cuma soal waktu sebelum benar-benar kecanduan. Setelah fase adaptasi terlewati, satu judul dapat selesai dibaca satu hari-satu malam. Lalu, apa sebenarnya kekuatan cerita silat Kho Ping Hoo sehingga membuat pembacanya kecanduan? Sulit juga menjelaskannya dengan ilmiah dan runtut. Sebelum mulai membaca Kho Ping Hoo, saya sudah membaca serial Wiro Sableng karya Bastian Tito. Tapi membaca serial Kho Ping Hoo kemudian terasa lebih asyik, meskipun Wiro Sableng tetap dibaca hingga awal kuliah.

Seperti halnya rata-rata cerita silat, Kho Ping Hoo juga berpegang teguh pada pakem. Cerita silatnya merupakan kisah heroisme, perjuangan kebaikan melawan kejahatan. Terang melawan gelap. Hampir semua tokoh utamanya digambarkan berparas rupawan, cantik atau tampan. Berilmu silat tinggi, bahkan nomor satu.

Kalau laki-laki, pasti digilai banyak perempuan. Sosok dalam dunia Kho Ping Hoo mewakili mimpi semua orang. Tokoh-tokoh besar di dunia Kho Ping Hoo mewakili kriteria itu semua. Cia Keng Hong, Pedang Kayu Harum dan pendiri Cin Ling Pai, Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, Pendekar Super Sakti Suma Han, Kam Bu Song Si Suling Emas, Kao Kok Cu Si Naga Sakti Gurun Pasir, dan bahkan, Pendekar Buta Kwa Sin Liong.

Entah demi alasan heroisme itu atau bukan, “pembelaan” Kho Ping Hoo terhadap orang-orang miskin disampaikannya juga secara eksplisit. Dia seakan-akan mau menyampaikan suatu pesan moral. Misalnya dalam cerita Bayangan Bidadari yang pertama kali terbit pada 1963. Dalam Bayangan Bidadari, dia masuk ke cerita dengan latar belakang kemiskinan yang terjadi di Cina saat dikuasai pasukan Mongol.

Orang-orang yang kelaparan, di bawah pimpinan seorang pendekar lulusan kuil Siauwlimpai, menyerang para tuan tanah dan menjarah hartanya. Mereka beranggapan para tuan tanah telah menikmati kekayaan dari hasil keringat para buruhnya yang tetap miskin. Apakah lantas Kho Ping Hoo berhaluan kiri? Kita tidak tahu. Yang jelas pengarang kelahiran 1926 ini tidak pernah tercatat sebagai anggota Lekra yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Satu lagi, Kho Ping Hoo juga sangat lihai memadukan tragedi dengan akhir cerita bahagia. Hampir semua ceritanya berakhir bahagia. Meskipun sepanjang cerita, tokoh utamanya harus berulang kali jatuh bangun, kalah dan terhina. Toh pada akhirnya, si jahat tewas, dan sang tokoh utama yang tampan dan perkasa mendapatkan jodoh yang cantik dan berbudi. Meskipun tidak bisa berbahasa dan membaca tulisan Cina, dalam setiap karyanya, Kho Ping Hoo selalu menyelipkan latar sejarah cerita, kendati tidak selalu akurat.

Dan kadang-kadang, Kho Ping Hoo juga agak kelewat nekat “membajak” tokoh nyata ke dalam ceritanya. Itu terjadi dalam cerita Pedang Asmara. Tanpa ragu-ragu, Kho Ping Hoo menggunakan karakter Temucin, atau kemudian dikenal sebagai Jengis Khan, kaisar agung bangsa Mongol. Di cerita itu, Temucin menjadi salah satu tokoh utama. Kecuali keberadaan Temucin, semua kejadian dalam Pedang Asmara tentu hanya rekaan Kho Ping Hoo.

Tapi mungkin inilah kelebihan Sang Maestro. Hal yang sama kembali dia lakukan dalam serial Pedang Kayu Harum. Kho Ping Hoo “meminjam” karakter Panglima Cheng Ho atau The Hoo untuk menghidupkan ceritanya. Lengkap dengan karakter pembantu kepercayaan The Hoo, Ma Huan, yang beragama Islam. Sebenarnya, kalau mau mendapatkan gambaran bagaimana cerita Kho Ping Hoo, minimal harus membaca dua atau tiga serial utamanya.

Antara lain serial Pendekar Super Sakti dan Suling Emas. Dua cerita ini saling berhubungan. Berawal dari Bu Kek Siansu, “manusia setengah dewa” dan berakhir dalam cerita Pusaka Pulau Es. Semuanya 16 judul. Atau bisa juga serial Pedang Kayu Harum. Mulai dari Pedang Kayu Harum, Pendekar Lembah Naga, Pendekar Sadis, Pendekar Mata Keranjang dan terakhir Pendekar Kelana. Total ada 12 judul.

Serial Pendekar Super Sakti dan Pedang Kayu Harum adalah karya terpanjang Kho Ping Hoo. Kalau disusun vertikal, buku kedua serial ini tingginya pasti lewat dari satu meter. Bagaimana karya Kho Ping Hoo dibandingkan penulis cerita silat lain seperti Gan Kok Liang? Dibandingkan dengan Kho Ping Hoo, gaya pencerita silat Gan Kok Liang, biasa disingkat Gan K.L, agak lain. Cerita Gan K.L lebih rumit.

Alur ceritanya kadang juga tidak linear, tapi berputar. Pada beberapa cerita, unsur misterinya bahkan jauh lebih kental dibandingkan cerita silatnya. Misalnya pada serial “detektif” Pendekar Empat Alis dan Amanat Marga. Bak Agatha Christie, Gan K.L. sangat disiplin menjaga rahasia cerita sampai menjelang akhir. Cerita seperti ini jelas tidak ada pada karya Kho Ping Hoo. Dan berbeda dengan Kho Ping Hoo, Gan K.L. uga jarang sekali memberikan latar belakang sejarah pada cerita silatnya.

Dalam gaya penceritaan, Kho Ping Hoo mungkin lebih mirip dengan penulis Cina, Chin Yung. Di Indonesia, Chin Yung dikenal melalui serial kungfu Legend of Condor Heroes, Heaven Sword and Dragon Sabre dan film Flying Fox pada era 1980-an. Penggemar film silat tentu masih ingat pada sosok Kwee Ceng, Oey Yong, Yo Ko, Thio Sam Hong dan Thio Boe Kie. Gaya Kho Ping Hoo juga sulit dibandingkan dengan gaya Eiji Yoshikawa dalam Musashi.

Meski Miyamoto Musashi adalah seorang samurai yang menggantungkan nyawanya dari kecepatan sabetan katana, Musashi sulit digolongkan sebagai cerita silat. Meski Musashi juga melewati sejumlah pertarungan berdarah, cerita ini lebih pas disebut sebagai gambaran “jalan samurai”. Pada akhirnya, Musashi bukan sekadar heroisme. Dia adalah penaklukan diri. Tentu belum lekang dari ingatan, dalam pertarungan terakhirnya, Musashi malah menanggalkan pedang Jepangnya.

Dia mengalahkan musuhnya dengan pedang kayu yang dibuat dari dayung perahunya. Membicarakan Kho Ping Hoo memang tidak ada habisnya. Dia layak menyandang gelar maestro cerita silat. Bayangkan, hingga akhir hayatnya, Kho Ping Hoo yang lahir di Sragen, Jawa Tengah, telah melahirkan lebih dari 200 judul cerita silat. Dan saya mencandu karya-karyanya.

sapto pradityo