Home
Sudut Lipatan
U L A S A N
Kolom
P E N E R B I T
Arsip
Surat
Rehal
Percakapan
Cerita Sampul
EDISI LAIN
 

 

Edisi 14 Maret 2005

Cerita Sampul


Ketika Guru Merazia Komik

SAYA CUCU SEORANG DALANG, TAPI TAHU CERITA WAYANG BUKAN DARI KAKEK ATAU PAMAN, TAPI JUSTRU DARI KARYA-KARYA R.A. KOSASIH.

Suatu
ketika, di akhir 1993, sastrawan Sapardi Djoko Damono menyampaikan
gagasan berani: komik diajarkan di sekolah. Alasan guru besar Fakultas
Sastra Universitas Indonesia itu bahwa komik kerap mengungkapkan
mentalitas masyarakat. Maka, usulan Sapardi yang diungkapkan di
Munas III dan Pertemuan Ilmiah Nasional IV Himpunan Sarjana Kesusastraan
Indonesia di Yogyakarta, itu sempat menjadi kontroversi. Maklum
saja komik masih dianggap sebagai bacaan sekelas dengan bacaan porno.
Karenanya, guru-guru sering merazia apabila siswa membawa komik
ke sekolah.


Beberapa
pendidik beralasan bahwa cerita komik cenderung membahayakan, menjurus
ke humor-humor porno dan sadisme. Anwar Thoir, Kepala Sekolah SD
Negeri Kebon Melati 01 Tanah Abang, kala itu, kepada Kompas menuturkan
bahwa cerita dalam komik cenderung mengeksploitasi khayalan. ”Bahasa
komik tidak sesuai dengan jalur pendidikan karena lebih mengungkapkan
ekspresi perasaan seperti kata-kata ”woouw”, ”aduh”,
”aah”, dan sejenisnya.”


Teriakan
protes para pendidik itu sudah muncul sejak 1954. Bahkan mereka
sampai berkesimpulan: komik harus musnah selamanya dari Indonesia.
Sebagian kalangan menganggap bahwa komik merupakan produk budaya
kelas rendahan yang tak punya nilai untuk penelitian. Di Indonesia
komik dianggap sampah khayalan yang menguras waktu anakanak; menjadikan
mereka malas.


Walau
begitu, ada pula seorang pendidik yang mengakui bahwa tidak semua
komik jelek, ada komik yang baik. Pun sebagian kalangan menganggap
komik Indonesia sebagai karya seni yang sejajar dengan cabang seni
lainnya. Bahkan kalangan ini menempatkan komik pada tempat yang
layak. Sastrawan Seno Gumira Ajidarma, misalnya, pernah menulis
beberapa cerpen yang diangkat serial Panji Tengkorak, serial komik
karya Hans Jaladara.


Saya
termasuk pembaca komik di kala masih duduk di bangku sekolah menengah,
di tahun 1980-an. Pihak sekolah kerap merazia tas murid. Kalau kedapatan
komik atau bukubuku yang tak berkaitan dengan pelajaran, akan disita.
Namun salah seorang guru, Mahfud, kebetulan guru Pendidikan Moral
Pancasila, di SMP, pernah bercerita bahwa dia pun penggemar komik.
Kegemaran membaca buku, menurut pengalamannya, berawal dari membaca
komik. Minat baca diawali dari membaca komik. Kelak di kemudian
hari, saya tahu bahwa Anton Kurnia, penggemar komik Indonesia, yang
tinggal di Bandung, juga punya pengalaman serupa dengan guru saya.
Dalam sebuah tulisannya, Kurnia mengatakan: ”Melalui komik,
minat baca saya terpupuk sejak kecil dan bagi saya itu adalah sebuah
investasi budaya yang tak ternilai harganya.”


Saya
pun mengikuti jejak Pak Guru Mahfud: menggemari komik. Beruntunglah
waktu itu dunia perkomikan masih menikmati masa kejayaan-- paling
tidak sisa-sisa kejayaan sebelum akhirnya berada di ambang senjakala
pada 1990-an. Kios penyewaan komik, cerita silat, dan novel di kota
saya, Batu, Jawa Timur, masih menyediakan komikkomik terbitan tahun
1960-an dan 1970-an serta yang diterbitkan kemudian. Komik karya
Teguh Santosa, Jan Mintaraga, Ganes TH, Djair, R.A. Kosasih, Hasmi,
dan Wid NS, Hans Jaladara, dan lain-lain terpajang di taman bacaan
yang sempit dan pengap itu. Komik-komik itu bersandingan dengan
cerita silat karya Asmaraman Sukowati Kho Ping Ho, SH Mintarja,
juga cersil terjemahan karya Cin Yung, dan lain-lain. Bersandingan
dengan novelnovel populer macam Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah
Taman Hati.


Melalui
komik, saya jadi banyak tahu cerita-cerita dalam komik. Saya cucu
seorang dalang, tapi tahu cerita wayang bukan dari kakek (almarhum)
atau paman, tapi justru dari komik. Saya kenal wayang dari karya-karya
R.A. Kosasih. Komikus satu ini memang banyak membuat komik wayang.
Pria kelahiran Bogor, 4 April 1918, ini sudah menggeluti komik sejak
1952. Saya tak sempat membaca komik pertamanya, Sri Asih (1953),
terbitan Melodie Bandung. Menurut Andy Wijaya di situs www.komikindonesia.
com, Sri Asih sebagai komik superhero pertama di Indonesia. Saya
suka membaca komik Kosasih serial Ramayana dan Mahabharata terbitan
Maranatha Bandung.


Salah
satu jasa Kosasih--menurut pengamat komik Hikmat Darmawan dalam
sebuah tulisannya-- adalah gambaran visual Gatot Kaca yang begitu
populer itu. Si superhero wayang yang berkumis baplang dan berkostum
dengan lambang bintang adalah jasa R.A. Kosasih. Ini hasil utak-atik
artistik Kosasih atas mitologi Mahabharata yang ia adaptasi langsung
dari India pada 1950-an.


Selain
Kosasih, ada Ardisoma yang tampaknya mengikuti jejak Kosasih dalam
mencipta komik wayang. ”Karyanya seperti epik Wayang Purwa
dan Nilamsari menunjukkan keterampilan teknik gambar yang tinggi
dan bahkan puitis. Adegan laga duel, maupun perang kolosal, juga
adeganadegan terbang dan tempur di udara, plus berbagai jenis makhluk
berwajah monster, dari Ardisoma bisa jadi bahan pelajaran bagi komikus
masa Indonesia masa kini jika ingin membuat cerita fantasi atau
superhero,” tulis Hikmat Darmawan dalam tulisannya berjudul
”Dari Gatot Kaca jadi Antasena”.


Dari
komik pula, saya lebih mengenal cerita-cerita rakyat. Malin Kundang,
Sangkuriang, Jaka Tarub, Ciung Wanara, Haryo Penangsang, Jaka Tingkir,
dan beberapa cerita rakyat lainnya, saya dapatkan dari komik. Beberapa
komik karya Teguh Santosa, R.A. Kosasih, Jan Mintaraga yang berisi
cerita rakyat sempat saya baca. Jan Mintaraga pernah membuat beberapa
komik cerita rakyat yang dimuat di majalah Hai di akhir 1970-an,
di antaranya Jaka Tarub dan Nyai Loro Kidul. R.A. Kosasih selain
dikenal sebagai spesialisasi pembuat komik wayang, juga kerap membuat
komik cerita rakyat, misalnya Sasakala Tangkuban Perahu (Yayasan
Karya Bhakti Bandung, 1978).


Para
komikus itu menggali kekayaan khazanah budaya bangsa sebagai ”bahan
baku” dan inspirasi karya-karyanya. Seperti halnya sumber aslinya,
komik cerita rakyat dan cerita wayang, bagaimanapun, mengandung
nilai-nilai moral, baik secara eksplisit maupun implisit. Paling
tidak ada nilai 'si superhero melawan segala bentuk kejahatan dan
kebatilan'; 'kejahatan pasti kalah oleh kebaikan'.


Superhero,
ya, superhero.... Saya mengenal sejumlah nama dan sepak terjang
superhero dalam melawan kejahatan. Sri Asih dan Siti Gahara--keduanya
karya R.A. Kosasih--disebut-sebut sebagai superhero yang pertama
dalam komik Indonesia. Lalu ada Gundala Putra Petir karya Hasmi.
Dengan kemampuan supernya, ia bisa berlari secepat kilat dan dari
telapak tangannya memancarkan petir: membasmi musuh. Wid NS dengan
serial Godam. Ada pula Laba-Laba Merah ciptaan Kus Br.


Lalu...
ciaaatt! Ciaaat! Bukk! Bukk! Cress! Komik silat! Jenis ini yang
paling banyak saya baca. Jan Mintaraga dan Teguh Santosa favorit
saya dari aspek gambar. Djair dan Ganes TH idola saya dari segi
cerita. Saya baca Jaka Sembung karya Djair dan saya sempatkan menonton
filmnya yang dibintangi oleh Berry Prima. Masih lekat dalam ingatan
Si Buta dari Goa Hantu karya agung Ganes TH dari 1967 sampai 1989,
sebanyak 19 seri.


Tokoh
rekaan bernama Badra Mandrawata--yang kemudian terkenal dengan julukan
Si Buta dari Goa Hantu--membutakan kedua matanya demi menguasai
rahasia ilmu. Ia mengalahkan Mata Malaikat. Ia mengembara ke mana-mana
ke berbagai daerah di Nusantara: Banten, Jawa Tengah, Bali, Sumbawa,
Toraja, Sulawesi, Kalimantan. Ganes seakan tahu persis lokasi yang
menjadi seting cerita seri Si Buta. Dan, pembaca pun bisa turut
menjelajah mengenali daerah demi daerah yang dijadikan seting cerita.
Pun barangkali yang lebih penting lagi: mengenali sisi- sisi kemanusiaan
bahkan yang paling gelap sekalipun. Di situ pun ada nilai-nilai
serta mentalitas masyarakat.


Membaca
komik, saya sadari, turut mengasah pisau bercerita. Dari komik,
lalu cerita silat, novel pop, novel serius, buku sejarah.... Tapi
saya tidak pandai menggambar, maka di kemudian hari saya menulis
cerpen, lalu belakangan menerbitkan tiga judul novel sastra. Bagaimanapun
saya patut berterima kasih kepada komik.



ngarto februana, novelis, tinggal di Jakarta