Home
Arsip
Cerita Sampul
Info
Kolom
Percakapan
Perpustakaan
Rehal
Sketsa
Sudut Lipatan
Surat
Tips
Ulasan
Penerbit
 

 

 
Edisi 24 Juli 2005

C E R I T A S A M P U L

Laporan dari Dunia Gaib

Abdullah Harahap meramu novel ghotik dengan bumbu asmara. Bastian Tito meramunya dengan cerita silat.

Perubahan sosok Erwin dari manusia menjadi manusia harimau selalu menjadi bagian paling dramatis dan memilukan dalam novel serial manusia harimau karangan S.B. Chandra ini.

Kisah di atas yang dinukil dari novel Manusia Harimau Jatuh Cinta menunjukkan momen-momen yang menggiriskan bagi seorang Erwin, tokoh utama serial yang terbit sekitar tahun 1980-an ini.

Perubahan itu tak dikehendaki Erwin. Ia hanya mewarisi sifat dan ilmu manusia harimau dari ayahnya, Dja Lubuk, yang juga mewarisi dari ayahnya, Raja Tigor. Warisan itu tak bisa dicabut dan membuntuti ke mana pun Erwin pergi.

Kisah Erwin adalah tangis panjang pewaris terakhir ilmu manusia harimau dari tanah Mandailing, Tapanuli Selatan. Keharimauannya membuat Erwin mampu mengobati berbagai penyakit dan melawan berbagai jin dan setan.

Tapi, keharimauan itu pula yang membuat dia tak jenak hidup layaknya manusia. Dia tak berani jatuh cinta, meski ada puluhan perempuan cantik yang jatuh hati dan memujanya. Dia takut bila tiba-tiba perubahan dirinya menjadi harimau terjadi di tengah pasar dan membuat orang panik dan beramai- ramai membunuhnya, sebagaimana telah menjadi nasib sejumlah manusia harimau sebelum dia.

Tak ada kemegahan diri menjadi manusia harimau. Hanya penderitaan batin berkepanjangan. Chandra, pengarang kelahiran Mandailing dari keluarga perantau dan petualang, mengelola kisah Erwin dalam serial sepanjang tujuh judul, dari Manusia Harimau, Manusia Harimau Merantau Lagi, hingga Akhirnya Manusia Harimau Jatuh Cinta.

Dalam sampul belakang bukunya ada sepotong riwayat Chandra. Dia mengklaim pernah bertualang ke Malaysia, Aceh, hingga Jambi dan mengikuti ilmu mistik para guru seperti Inyiek Angku dan Baginda Samadun.

Chandra menghidupkan kembali legenda manusia harimau yang selama ini dipercaya sebagian masyarakat Sumatera.

Manusia harimau, sebagaimana juga jin dan mahluk gaib lainnya, digambarkan hidup membaur dengan manusia.

Tema manusia harimau sebelumnya juga diangkat Motinggo Busye dalam serial Tujuh Manusia Harimau yang terbit pada 1980-an dan pernah diangkat ke layar lebar dengan bintang El Manik pada 1987 dan kemudian jadi serial sinetron.

Berlatar sebuah kampung fiktif bernama Desa Kumayan Jati di pedalaman Sumatera Selatan, kisah ini menceritakan sepak terjang sejumlah keturunan manusia harimau yang berkumpul di desa itu dengan segala intrik, pertarungan, dan bumbu percintaan.

Lepas dari apakah soal manusia harimau atau gendruwo atau jin iprit, kisah- kisah para mahluk gaib dalam novel- novel Indonesia biasanya berpegang pada semacam prinsip bahwa para mahluk itu tak akan mengganggu atau mencampuri urusan manusia bila tak diundang atau diganggu oleh manusia sendiri. Yang biasanya "mengganggu" atau mengundang mereka diperankan seorang dukun atau ahli silat yang berkemampuan berhubungan dengan dunia gaib.

Praktek dukun dan guru silat semacam ini agak mirip dengan peran penyihir dalam cerita-cerita Eropa, yang dalam bentuk mutakhirnya dihidupkan kembali oleh JK Rowling dalam serial Harry Potter atau fantasi dengan latar masa lebih tua oleh JRR Tolkien dalam Lord of The Rings.

Namun, tentu saja antara penyihir di Eropa dan dukun di Indonesia tidaklah sama. Ini sedikit banyak mempengaruhi peran yang dimainkannya dalam karya sastra yang muncul kemudian.

Indonesia memang punya beberapa kisah penyihir, misalkan Calon Arang di Bali, namun dongeng-dongeng yang hidup di banyak daerah tampaknya tak memunculkan sosok penyihir atau dukun sebagai sosok dominan. Kisah-kisah ajaib dan gaib didominasi tokoh-tokoh yang bukan penyihir tapi memiliki kemampuan ajaib. Misalkan kisah manusia harimau di atas atau orang-orang berkemampuan khusus tapi tak pernah disebut penyihir, seperti Ki Ageng Sela yang bisa menangkap petir atau Si Pahit Lidah yang bisa mengubah apapun menjadi batu.

Kisah manusia harimau dan tema lain yang berkaitan dengan dunia gaib adalah bentuk kisah fantasi dewasa yang hidup dan berkembang di Indonesia.

Mereka meneruskan bentuk-bentuk prosa lama berupa legenda dan bentuk sastra lisan lainnya dan sastra tulis kuno seperti kakawin.

Dalam sejumlah legenda di berbagai daerah bisa dengan mudah kita menemukan kisah-kisah dari dunia gaib. Legenda Jawa Barat Lutung Kasarung, misalkan, menunjukkan transformasi manusia menjadi lutung (kera) atau legenda Lorojonggrang dan Bandung Bondowoso yang menghadirkan pasukan jin yang membangun seribu candi dalam semalam.

Dalam bentuk tertulis kuno, kisah-kisah itu masih terpantul. Misalkan dalam kakawin Ramayana. Di sana diceritakan bagaimana para dewa masih mencampuri urusan manusia, bahkan hadir di tengah-tengah manusia. Dunia gaib dan dunia aktual berbaur dengan hadirnya para raksasa anak buah Rahwana dan kerajaan kera pimpinan Sugriwa.

Dari peradaban Eropa kuno hal serupa juga dapat kita jumpai. Dalam epik Yunani kuno Odyssey karya Homer, misalkan, mengisahkan Raja Odysseus bertualang dengan bimbingan Dewi Athena dan menghadapi banyak keajaiban, dari nanyian Siren yang melenakan hingga mahluk bermata satu Cyclop.

Bagi masyarakat tradisional di Nusantara, kisah-kisah gaib ini terpelihara dengan menyatunya mereka dengan adat istiadat dan kepercayaan setempat. Kisah- kisah tentang begu ganjang, gendruwo, jin, dan mahluk-mahluk lain hidup dan setengah dipercaya sebagian masyarakat.

Mungkin inilah yang menyebabkan mengapa novel-novel dan majalah bertema semacam ini populer dan tergolong laris. Dalam bentuk mutakhirnya, ia muncul dalam sinetron atau reality show yang merekam perburuan hantu dan semacamnya.

Kepercayaan masyarakat, terutama Jawa, terhadap dunia gaib cukup banyak direkam oleh sejumlah antropolog dan pengarang lain. Salah satu buku tua yang membahas alam gaib orang Jawa, seperti dilaporkan Tempo (16 Maret 1985) adalah karya H.A. van Hien, De Javaansche Geesten Wereld en de Betrekking die tuschen de Geesten en de Zinnelijk Wereld bestaat verduidelijk door Petangan's of telling en bij de Javanen in Gebruik (Alam Roh Orang Jawa dan Hubungan yang Ada di antara Dunia Roh dan Dunia Fisik, Dijelaskan Melalui Petangan atau Ramalan).

Buku terbitan tahun 1896 sebanyak tiga jilid ini membahas berbagai macam roh dan hantu, ramalan, pertanda, fetishisme, dan semacamnya. Buku lain yang juga tak boleh dilupakan adalah karya Clifford Geertz, The Religion of Java. Geertz membagi makhluk gaib Jawa Tengah menjadi empat golongan besar: memedi (makhluk yang menakutkan), lelembut (yang dapat memasuki tubuh manusia), tuyul, dhemit (makhluk gaib setempat), dan dhanyang (penjaga keselamatan seseorang).

Kepercayaan mitis masyarakat Nusantara, seperti juga di berbagai belahan dunia lainnya, mendekatkan atau malah menyatukan manusia dengan dunia gaib.

Namun, di dunia modern, antara yang gaib dan riil makin meregang. Ada sebuah jurang imajiner yang sangat lebar yang sengaja dibangun untuk memisahkan keduanya.

Di Indonesia novel-novel yang mengangkat tema dunia gaib ini lazim disebut novel misteri. Bahkan ketika novel-novel karya Abdullah diangkat ke layar televisi TPI pada 2001, nama acaranya pun Teve Misteri.

Penyebutan ini menyimpang dari definisi umum yang dipahami dalam dunia teori sastra (Barat). Dalam teori sastra novel misteri umumnya dikaitkan atau jadi bagian dari novel detektif, seperti kisahkisah yang diterbitkan dalam Alfred Hitchcock's Mystery Magazine dan, tentu saja, sepak terjang detektif Sherlock Holmes rekaan Sir Arthur Conan Doyle.

Sedangkan novel-novel bertema dunia gaib biasanya dimasukkan ke keranjang novel ghotik yang— umumnya disepakati—diperkenalkan oleh pengarang Inggris Horace Walpole lewat novel Castle of Otranto (1765) dengan sederet penerus masa kininya seperti Stephen King dan Anne Rice.

Untuk Indonesia, Abdullah Harahap bisa dikatakan sebagai pionir novel ghotik modern. Jacob Sumarjo dalam Novel Populer Indonesia (1985) menyinggung nama Abdullah ini sebagai pengekor Motinggo Busye dalam mempopulerkan novel bertema percintaan dengan pelukisan seksualitas yang lebih terbuka dengan menyisipkan tema ghotik.

Sayangnya, Jacob tak membahas lebih lanjut aspek ghotik dalam novel-novel Abdullah. Novel-novel ghotik Indonesia umumnya dipukul rata sebagai novel populer atau novel picisan oleh sebagian pembahas sastra. Dan, terkait sastra tinggi-sastra rendah, novel- novel semacam karya Abdullah bisa dibilang diabaikan, dihapus eksistensinya dalam sejarah sastra Indonesia.

Sejauh ini, sepanjang saya ketahui, tak ada pembahasan yang cukup mendalam tentang novelnovel ini.

Novel-novel Abdullah, seperti Panggilan Neraka, Menebus Dosa Turunan dan Penyesalan Seumur Hidup umumnya dicetak dalam format buku saku murahan. Tebalnya sekitar 100-200 halaman. Tahun terbitnya tak disebut, tanpa nomor ISBN, dan nama penerbit dan alamatnya tak begitu jelas.

Kertas yang dipakai jenis kertas koran daur ulang. Jenis hurufnya Times New Roman berukuran cukup besar. Cetakannya jauh dari layak. Tinta cetak kadangkala meluber ke mana-mana dan beberapa halaman sering kabur cetakannya.

Gambar sampulnya umumnya memikat. Seringkali memunculkan gambar perempuan cantik dengan dandanan seksi, muka lelaki yang seperti menjerit kesakitan, nodanoda darah, dan kadang disertai pelukisan fisik hantu seperti kera menakutkan atau monster yang tak jelas jenisnya.

Harga novel ini memang murah, itu sebabnya disebut picisan. Di lapak- lapak majalah dan koran di stasiun dan terminal di Jakarta novel ini bisa didapat dengan harga sekitar Rp 2.000-3.000.

Misalkan novel Menebus Dosa Turunan. Di dalamnya tercetak nama penerbit TB Ronny Saputra Agency, Jakarta. Tak ada alamat penerbit, tahun terbit dan ISBN. Harganya Rp 2.000. Tebalnya 128 halaman.

Dua pertiga novel ini berisi perjuangan seorang polisi dan seorang wartawan kriminal (yang juga suami Miranda, tokoh utama cerita ini) memecahkan misteri pembunuhan sadis yang menimpa sejumlah orang di Jakarta. Belakangan diungkapkan lebih jelas—karena sebenarnya dari awal cerita sudah jelas— siapa pelaku pembunuhan berantai itu, yakni Miranda.

Miranda disebut-sebut mewarisi "kutukan" nenek moyangnya sehingga dia menjadi manusia kera yang haus darah dalam siklus delapan tahunan. Konon ratusan tahun lalu, ketika Bandung masih terbenam air dan kawah Tangkubanperahu masih ditumbuhi pepohonan rimbun, nenek moyang Miranda suami-istri bertapa di sana untuk mengharapkan berkah umur panjang dan ilmu kebal.

Suatu malam, sang istri didatangi sesosok mahluk mirip suaminya. Dikira suaminya, ia pun bersebadan dengan mahluk yang ternyata mahluk gaib berupa kera besar. Entah bagaimana logikanya, pokoknya gara- gara ini mahluk itu mengutuk turunan mereka berubah menjadi kera besar setiap satu windu dan harus menghirup darah manusia yang sejenis dengannya.

Bila Abdullah meramu novel ghotik dengan bumbu asmara, maka Bastian Tito meramunya dengan cerita silat. Bastian terkenal lewat serial novel silat Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 yang telah diangkat ke layar kaca.

Sama dengan buku Abdullah, buku Bastian berbentuk saku berharga murah, namun dengan mutu cetakan yang lebih baik, meski tak jelas juga nama penerbitnya. Di bukunya hanya dicantumkan klaim yang berbunyi "Wiro Sableng terdaftar pada Departemen Kehakiman RI Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek di bawah nomor 004245".

Serial Wiro banyak dan tak mudah melacak urutannya, kecuali Anda penggemarnya dan mengikuti setiap buku yang baru terbit. Karena, serial ini tak disertai penomoran edisi yang membantu pembaca menelurusinya secara kronologis.

Sejauh yang saya ketahui, buku pertama serial Wiro berjudul Empat Brewok dari Goa Sangreng yang memuat penjelasan gurunya, Eyang Sinto Gendeng, tentang arti 212 yang melekat pada dirinya.

Jilid-jilid awal kisah Wiro berisi lazimnya cerita silat ala Kho Ping Ho atau berlatar tanah Jawa seperti Senopati Pamungkas Arswendo Atmowiloto, Bende Mataram Herman Pratikto, dan Nagasastra dan Sabuk Inten SH Mintardja.

Isinya berupa pertarungan dengan jago-jago dari dunia persilatan, belajar jurus-jurus baru, dan seterusnya. Untuk tema ini serial Wiro yang dapat disebut, di antaranya, seperti Mayat Kiriman Rumah Gadang, Jaka Pesolek Penangkap Petir, Banjir Darah di Bukit Tambun Tulang dan Durjana Pemetik Bunga.

Namun, belakangan kisah Wiro lebih dekat ke dunia gaib, tepatnya sejak kisah Wiro terlempar ke Negeri Latanahsilam, beratus-ratus tahun sebelum zaman Wiro hidup. Latar masa Wiro hidup agak kabur, kemungkinan dia hidup di sekitar masa Mataram kuno mengingat dalam beberapa episode, misalnya dalam Dewi Kaki Tunggal, dia turut berjuang menyelamatkan Raja Mataram Dyah Lokapala atau Rakai Kayuwangi (tahun 856-886).

Di Negeri Latanahsilam, seperti dilukiskan dalam Hantu Jatilandak dan Peri Angsa Putih, tubuh Wiro digambarkan hanya sebesar jempol dan bertemu dengan banyak peri, dewi, dan jin. Meski demikian, jelas bahwa Negeri Latanahsilam bukanlah suatu dunia nyata, ini dunia lain yang gaib.

Bila selama ini dunia novel ghotik populer Indonesia melulu dikuasai nama Abdullah Harahap dan— dalam skala kecil—Motinggo Busye, maka tahun-tahun belakangan ini muncul nama Tara Zagita. Tidak jelas benar siapa sebenarnya jati diri pengarang ini. Yang jelas, di sejumlah lapak koran saat ini dengan mudah, bahkan lebih mudah, kita menemukan novel-novel karya Tara, seperti Kereta Hantu dan Misteri Roh Jalangkung.

Bentuk fisik buku Tara seperti buku- buku Abdullah. Harga, gambar sampul, dan kualitas cetaknya pun sama. Novel Misteri Roh Jalangkung, misalnya, bergambar sampul seorang perempuan rada seksi dengan latar depan gambar ular menjulurkan lidahnya, tumpukan tengkorak, dan semacam kera berteriak dengan tatapan mengerikan dan seolah- olah sedang menggenggam kepala seorang lelaki yang sedang menderita dan menggapaikan tangannya.

Buku ini diterbitkan oleh Sinar Matahari, Jakarta, tanpa alamat penerbit dan nomor ISBN. Beberapa buku Tara kadang disebut tahun terbitnya, tapi untuk buku ini tak disebut.

Tapi, berbeda dari novel Abdullah, buku Tara menyebut nama pembuat gambar sampulnya. Untuk buku ini namanya Fan Sardy.

Buku ini mengisahkan ulah sejumlah pemuda dan pemudi yang memanggil arwah lewat permainan jalangkung untuk melacak sebuah mobil BMW yang hilang. Ternyata yang datang adalah roh Legion yang ternyata menolak ketika diminta pulang ke alam gaib, tapi malah menebar teror.

Sosok Legion ini tampaknya diadopsi pengarang dari kisah Alkitab (Lukas 8:30) yang mengisahkan Yesus mengusir roh jahat bernama Legion dari tubuh seseorang yang kesurupan. Demikianlah sekelumit laporan dari dunia gaib.

kurniawan