Home
Arsip
Cerita Sampul
Info
Kolom
Percakapan
Perpustakaan
Rehal
Sketsa
Sudut Lipatan
Surat
Tips
Ulasan
Wajah Penerbit
 

 

 
Edisi 18 Juni 2005

S U R A T D A R I V E L B A K

Science Fiction, Pengembaraan Imajinasi

Pembaca budiman,

Ketika imajinasi berhenti, matilah hidup seseorang. Imajinasi mendorong seseorang membuka jalan-jalan baru, ruang-ruang baru, kemungkinan-kemungkinan baru yang belum terpikirkan oleh orang lain. Imajinasi jadi bermakna lantaran membawa manusia ke pengembaraan yang tak terbayangkan, tanpa batas.

Paling tidak demikianlah yang berlaku bagi Albert Einstein tatkala ia akhirnya "menemukan" teori relativitas, yang tahun ini genap berusia seabad, atau Jules Verne ketika menulis kemungkinan manusia mengelilingi Bumi dalam 80 hari--yang terlalu lama bagi manusia zaman sekarang. Atau sewaktu Thomas Alva Edison, lewat sekian puluh kali eksperimen, menemukan lampu.

Edison kerap dikutip sebagai mengatakan, penemuannya itu berkat "10 persen imajinasi dan 90 persen keringat". Tetap saja, ia, seperti juga Einstein dan Verne, bermula dari imajinasi--yang bukan hanya membuka ruang baru, melainkan cakrawala amat luas yang, tentu saja, baru. Berbeda dengan Einstein dan Edison yang bergerak di dunia ilmiah, Verne bergerak di dunia fiksi--science fiction, orang kerap memendekkannya jadi sci-fi.

Betapa pun berbeda, dua dunia itu--sains yang sungguh-sungguh dan sains yang cuma fiksi--saling menyapa begitu intens. Perjalanan ke Bulan versi Verne sudah terbukti, kendati petualangan menembus Bumi-nya belum lagi. Begitu pula dengan kisah tentang mesin waktunya H.G. Wells. Tapi, imajinasi dalam science fiction tetap saja menggoda. Siapa sanggup menampik pesona Jurassic Park-nya Michael Crichton?

Pembaca, science fiction, inilah tema Ruang Baca edisi ke-16 kali ini. Genre ini sudah lama menjadi lahan garapan penulis luar seperti Isaac Asimov dengan trilogi Foundationnya yang mashur, Arthur C. Clark, William Gibson--nama yang mencuat lebih belakangan ketika era Internet jadi bagian hidup keseharian yang tak terelakkan.

Sayangnya, tak mudah menyebut nama penulis yang menekuni genre ini di negeri kita. Belakangan ini memang muncul beberapa buku fiksi berlabel science fiction, tapi dengan imajinasi yang terbatas. Ada semacam garis yang entah disadari atau tidak tertebar di sekeliling fiksi itu, menciptakan pagar yang tak ingin dilewati atau tak terlewati. Padahal, kekuatan imajinasi adalah fondasi pokok sci-fi; seperti kata Einstein, imajinasi lebih penting ketimbang pengetahuan.

Topik lainnya, pembaca? Silakan buka halaman-halaman berikut Ruang Baca ini.

Tim Kerja Ruang Baca