Edisi
18 Juni 2005
S
U D U T L I P A T A N
Perihal ISBN
Ketika W.H. Smith,
penjual buku dan alat-alat tulis, menciptakan sistem penomoran buku, orang Inggris
itu barangkali tak menyangka bahwa temuannya akan dipakai di berbagai belahan dunia.
Sistem yang dinamai Standard Book Numbering (SBN) yang dibuat pada 1966 dibuat Smith
untuk memudahkannya dalam bekerja: menyusun buku di raknya dan menemukannya kembali.
Sistem penomoran Smith
lalu diadopsi sebagai standar internasional ISO 2108 kira-kira empat tahun setelah
diciptakan. Lantaran dipakai di seluruh dunia, namanya berubah menjadi International Standar
Book Number (ISBN). Sistem yang dikhususkan untuk buku ini mirip dengan International
Standard Serial Number (ISSN) yang dipakai untuk publikasi berkala seperti majalah.
Selanjutnya ISBN
menjadi nomor identitas judul buku yang diterbitkan oleh setiap penerbit. Dengan
adanya ISBN, arus distribusi buku menjadi lancar. Pemesanan buku dapat dilakukan
berdasarkan ISBN, dan kekeliruan dapat dihindari. Umpamanya, karena nama pengarang
sama atau judul buku hampir serupa.
Setiap edisi
(kecuali yang cetak ulang) dan setiap jenis buku memperoleh ISBN masing-masing.
Angkanya terdiri atas 10 digit dan meliputi empat bagian, yakni pengenal kelompok
(negara asal atau kode bahasa), pengenal penerbit, pengenal judul buku (item number),
dan pemeriksa (check digit). Masing-masing bagian bisa mempunyai jumlah digit yang
berbeda dan umumnya dipisahkan oleh tanda sambung (hyphen), walau tanda ini tidak
selalu dipakai.
Kolom negara yang
dipakai ialah 0 atau 1 untuk negara-negara berbahasa Inggris, 2 untuk negara-negara
berbahasa Prancis, 3 untuk negara-negara berbahasa Jerman, dst. Angka pengenal kelompok
ISBN untuk Indonesia adalah 979. Jadi, setiap judul buku yang mempunyai angka 979 berarti
diterbitkan di Indonesia. SBN yang awal, ciptaan Smith, tidak memasukkan kolom negara ini.
Check digit sebuah
ISBN dapat ditemukan dengan mula-mula mengalikan setiap digit dalam ISBN dengan lokasinya
di deretan angka tersebut--yang paling kiri dikalikan 1, digit berikutnya dikalikan 2,
dan seterusnya. Selanjutnya, jumlahkan hasil perkalian itu dan bagi dengan angka 11,
bilangan sisanya merupakan check digit. Bila sisa hasil pembagian ini 10, check digit-nya X.
Misal, untuk menemukan check digit ISBN yang sembilan digit pertamanya 0-306-40615 adalah:
1×0 + 2×3 + 3×0 + 4×6 + 5×4 + 6×0 + 7×6 + 8×1 + 9×5
= 0 + 6 + 0 + 24 + 20 + 0 + 42 + 8 + 45
= 145
= 13×11 + 2
Maka check digit-nya 2,
dan ISBN lengkapnya: ISBN 0-306-40615-2. Karena 11 merupakan angka primer, skema ini dapat
memastikan bahwa kesalahan pengisian pada suatu digit akan selalu dapat diketahui.
Mengingat kategori
tertentu yang belum tertampung sistem ISBN, International Organization for Standardization
(ISO) akan bermigrasi ke ISBN dengan 13 digit mulai 1 Januari 2007. Perpindahan ini
akan membawa sistem ISBN lebih dekat dengan sistem UPC barcode.
Informasi mengenai ISBN
dikumpulkan, diterbitkan, dan disebarluaskan oleh sebuah badan nasional, kalau di Indonesia
berlokasi di Jakarta. Sarananya: Bibliografi Nasional Indonesia (BNI), direktori, dan Majalah
Berita ISBN. Informasi ini juga disebarkan oleh badan internasional yang berada di Berlin, Jerman.
Di Indonesia badan ini mendelegasikan wewenangnya kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
sebagai Badan Nasional yang berhak memberikan ISBN kepada para penerbit yang memerlukannya.
ISBN lazimnya dicantumkan
di sampul belakang bawah, serta di balik halaman judul (verso). Jika bukunya tebal,
ISBN bisa pula dicantumkan di bagian punggung buku (spine).
|