Home
Arsip
Cerita Sampul
Info
Kolom
Percakapan
Perpustakaan
Rehal
Sketsa
Sudut Lipatan
Surat
Tips
Ulasan
Wajah Penerbit
 

 

 
Edisi 18 Juni 2005

P E R C A K A P A N

Esti "Fairish" Kinasih

Sukses Setelah Mengetuk Pintu ke Pintu

Setiap dekade remaja Indonesia memiliki penulis novel dengan karya yang sangat laris. Eddy D. Iskandar dengan seri Gita Cinta dari SMA menjadi ikon akhir 1970-an. Satu dekade kemudian, Hilman Hariwijaya merajai dengan serial Lupus.

Sekarang, jaman teenlit, muncul nama Esti Kinasih dengan Fairish. Novelnya laku keras dan menonjol dibanding novel remaja. Sudah dicetak 60 ribu eksemplar dan sekarang sedang diproses cetak ulang ke-11. Sinetron berdasarkan karyanya mulai diputar bulan depan dengan publikasi besar-besaran sejak pemilihan pemain dijalankan.

Esti Kinasih tidak mengira novelnya laris dibaca remaja karena ia menjalani masa SMA pada akhir 1980-an, bukan remaja generasi abad ke-21.

Tentu ini bukan faktor keberuntungan semata. Esti bekerja keras. Ia sempat menjual Fairish dari pintu penerbit satu ke penerbit lainnya. Persis wiraniaga. Bertemu editor satu ke editor lain. Mendapat penolakan satu ke penolakan berikutnya.

Berikut penuturan kepada Nurkhoiri di sela-sela pertemuan Esti dengan editornya di kantor penerbit Gramedia. Dengan banyak ungkapan lu, gua, ia bercerita dengan riang.

Bagaimana dapat ide menulis Fairish?

Itu kan aku baru belajar bikin novel. Karena baru belajar, aku pakai kisah nyata. Jaman SMA kan kejadiannya banyak sekali. Anak SMA tahu kan?

Jadi aku ingat-ingat itu, kejadian yang bikin senang, yang mungkin berkesan, teman atau guru. Itu dikumpulin satu-satu, penggalan cerita itu disatukan. Tinggal bikin jalinan cerita atau benang merahnya lah.

Bagaimana memasuki dunia remaja sekarang?

Kan jaman SMA pada akhir 1980-an berbeda dengan sekarang. Dahulu belum ada HP dan sebagainya.

Sebenarnya sih, kalau dilihat dari bahasanya, sudah nggak terlalu remaja. Dari semua teenlite, punya gua paling nggak ngeremaja.

Dan ungkapan-ungkapan yang sekarang itu nggak saya pakai. Aku nggak kena. Seperti: "please, deh" atau "So what gitu lho".

Kalau ditanya kenapa bisa sukses, aku juga nggak ngerti. Karena dunia remaja sekarang kan dugem dengan mall. Di sini nggak ada setting begitu sama sekali. Di sini cuma ada rumah, sekolah, pasar seni. Rumah, sekolah, pasar seni.

Aku tuh ngeri sama anak sekarang. Coba deh, lu boleh terbuka sama semua yang dari luar. Tapi coba juga lu suka dengan apa yang kita punya.

Jadi tokohnya aku buat suka lukisan, suka ke pasar seni, suka lihat lukisan di trotoar. Salah satu tokohnya, yang cowok, suka fotografi.

Dan itu keadaannya SMA tempo dulu. Makanya aku juga heran.

Kalau nama Fairish itu dapatnya dari mana?

Aku lagi suka lagunya Go Go Dolls, Iris. Soundtrack film City of Angels. Terus aku nemu kata fairy, peri. Ya sudah aku gabung Iris dengan fairy. Jadilah nama itu.

Fairish bikinnya berapa lama?

Empat bulan. Empat bulan bikinnya. Enam bulan mengetiknya. Saya kan lama kalau bikin. Maklum kurang cerdas. (Ia tertawa).

Bawa ke Gramedia?

Itu dulu pertama kali diterbitkan di Jogja. Cuma dia nggak beres bayar royaltinya. Mereka nggak mau kasih tahu berapa angka persisnya yang terjual. Daripada ribut-ribut, saya minta copyrightnya. Mereka nggak mau bayar nggak apalah. Jadi ke sini (Gramedia) sudah dalam bentuk buku.

Terus sudah cetak ulang ke-10?

Sudah beredar sepuluh.

Itu dihitung Gramedia semua? Jogja nggak dihitung?

Jogja nggak dihitung. Cuma covernya beda. Editingnya beda.

Jogja itu selama ini menerbitkan buku-buku sastra. Saya novel populer pertama yang mereka terbitkan. Jadi itu tanpa diedit sama sekali karena mereka sama sekali nggak mengerti.

Begitu saya tawarin di sini, mereka ngeditnya lama. Proses editingnya lama.

Lama editingnya?

Lama. Karena ini kan novel pertama. Jadi belajar nulis. Menurut editor ini parah banget.

Kata editor, gayanya Hilman sekali. Karena saya suka Hilman, jadi gaya nulisnya Hilman banget.

Selain Hilman siapa lagi yang disuka?

Kalau yang jadul (istilah remaja untuk "jaman dulu") ya Marga T. Selain Marga T. saya kurang suka. Karena Marga T. itu ngablak banget. Kalau Mira W. kan halus. Kalau Marga T. kan, dia mau omong "monyet" ya dia omong "monyet".

Kalau yang penulis luar negeri yang disuka?

J.K. Rowling (penulis Harry Potter). Kalau saya waktu masih kecil sih, Lima Sekawan. Semua yang Enid Blyton saya suka. Sidney Sheldon nggak begitu.

Michael Crichton?

Crichton juga nggak begitu. Sandra Brown nggak. Nggak tahu ya, kalau penerbit itu menerbitkan novel sampai satu rak yang gede nggak suka.

Novel terakhir yang dibaca?

Da Vinci Code.

Saat ini ada pekerjaan lain?

Nggak ada.

Cuma menulis buku?

Karena setelah pindah kantor ke sana kemari--saya sampai empat tahun di bank--dan saya tidak menunjukkan kinerja memuaskan. Bank cuma satu, tapi saya pernah di kontraktor, pernah di semacam perusahaan game.

Kan setiap tahun ada penyesuaian gaji tuh di bank. Dari situ kan ditentukan kenaikan gaji. Kenaikan gaji gue yang paling keciiill. Ada yang sampai dapat 25 persen. Saya mentok paling 7,5 persen. Sudah maksimal tuh. Pernah lima persen.

Terus keluar tahun berapa itu?

1998. Kan likuidasi. Dan saya adalah karyawan yang menyambut dengan riang gembira.

Begini lho. Orang tua saya adalah orang Jawa. Begitu mendengar saya mau jadi seniman, mereka sudah panik duluan.

Alasan untuk tidak kerja kantoran itu yang saya butuhkan. Jadi waktu desas-desus mau dilikuidasi teman-teman ada yang sampai masuk rumah sakit. Ada yang istrinya lagi hamil. Ada yang bengang-bengong. Tapi saya... (Ia memperlihatkan wajah gembira).

Waktu dapat formula pesangon, berdasarkan lamanya kerja, beli ini, beli ini, beli ini. Setelah saya lihat-lihat, itu item-item kok semuanya yang menunjang menulis. Kayak komputer, (tas) carrier, sepatu kets, peralatan naik gunung, peralatan travelling.

Mulai menulis Fairish?

Jadi begini. Sebelum krismon, dua saja cerpen yang dimuat sudah bisa menjamin hidup. Waktu itu honor cerpen bisa sampai Rp 250 ribu. Ongkos bus itu masih Rp 450 perak (sekarang Rp 1.800).

Setelah krismon, saya dapat honor itu Rp 80 ribu. Kata mereka, persaingan ketat. Majalah harus dipercantik dengan halaman berwarna. Jadi ongkos produksinya mahal. Jadi karena persaingan ketat, yang dipotong itu honor penulis.

Itu untuk penulis masih mending. Ilustrator mereka sudah nggak pakai sama sekali. Tadinya pakai ilustrator. Sistemnya begini: Mau pakai ilustrator mana?

Jadi saya mikirnya, kalau mau jadi penulis, harus bikin novel. nggak ada jalan lain.

Terus mulai bikin Fairish?

Diterbitkan di Jogja pada 2002, berarti selesai 2001, karena hambatan penulis yang belum punya nama adalah mencari penerbit.

Dan ini saya jalan ke mana-mana. Ke Surabaya. Ke Semarang. Ke Solo. Saya nawarin door to door.

Berapa tahun keliling itu?

Ya lama, ya. Bulanan. Itu kan saya nggak pernah kasih begitu saja. Dulu waktu jadi cerpenis saya juga nggak mau kirim begitu saja.

Saya selalu datang ke editornya, cerita, "Pokoknya cerpen saya ini keren deh, belum pernah ada." Pokoknya ngobrol bla, bla, bla. Tujuannya ini, agar dibaca. Karena kalau ikut urutan, lama waktunya. Kalau kita bikin mereka bete atau bagaimana, mereka baca.

Pernah ada kejadian, saya cerita berpanjang-panjang, dia wajahnya begini (memperlihatkan adegan orang bertopang dagu karena bosan). Saya nggak peduli, selama belum diusir terang-terangan, masa bodo. Terus akhirnya, kita akrab sama redakturnya.

Termasuk yang di Jogja?

Iya. Dan itu dalam kondisi keuangan saya yang lagi awut-awutan. Jadi naskah itu dari rapi begini sampai acak-acakan. Di Jogja ini mereka mau nerima karena pendekatan ini.

Terus ke Gramedia? Gramedia ambil atau ditawari?

Saya menawarkan. Sebetulnya menawarkan naskah yang kedua, tapi ditolak. Ya, sudah yang ini saja. Naskah kedua bukan ditolak sebenarnya, tapi direvisi total. Karena direvisi saya tawarkan mau nggak yang ini?

Dengan perjanjian baru? Hak cipta dikembalikan?

Iya dikembalikan. Dulu biaya mengamuk di telepon kan interlokal. Itu sudah lebih besar dari royalti yang aku terima. Marah-marah ke mereka itu. "Berapa yang terjual?" Jawabnya itu mbulet nggak karuan.

Sekarang mereka masih diizinkan mencetak lagi nggak?

Nggak. Hanya menjual yang tersisa.

Kalau dari cerpen ke novel ke nggak sulit?

Yang jelas lebih enak novel. Kalau novel bisa cerita nggak karuan. Kalau cerpen, maksimal delapan--sekarang malah enam--halaman.

Fairish novel pertama. Sebelumnya?

Di Anita. Lebih sering di Anita. Tapi di Gadis iya. Di Kawanku. Tapi prioritas ke Anita. Karena hubungan dengan redakturnya baik.

Jaman SMA ya?

SMA. Tapi kan kalau SMA itu ramai-ramai sama teman-teman. Ganti-ganti. Kan teman-teman bilang, pakai nama gue, nama gue. Keroyokan. Kita kan suka nongkrong, lantas ada ide. Begini, begini. Tapi biasanya yang menulis yang cewek. Bahasa yang bagus-bagus kan cewek. Tapi mulai pakai nama sendiri setelah kuliah (di Universitas Pembangunan Nasional).

Ada proyek berikutnya?

Ada, sedang diedit.

Lanjutan Fairish?

Bukan. Baru.

Ada rencana buat sekuel Fairish?

Takut keluarnya nggaksebagus yang pertama. Memang banyak sekali permintaan. Dari stasiun televisi juga minta dibikinin sekuelnya. Tapi saya takut nggak sebagus yang pertama. Kalau nggak sebagus yang pertama, nanti nenggelemin yang pertama. Sayang.

Saya nggak suka nonton telenovela. Tapi ada satu yang saya suka. Betty--Betty siapa?--Betty LaFea. Endingnya sudah bagus. Sudah berhenti saja di situ. Eh, dibikin sekuelnya.

Begitu juga Meteor Garden. Yang pertama sudah bagus banget. Dibikin sekuelnya. Jelek. Justru menjatuhkan yang pertama.

Teenlit juga yang kedua?

Iya. Judulnya Cewek!!! pakai tanda seru tiga.

Menulis itu kan yang paling susah awal, ending, sama judul. Ini judulnya dapatnya unik. Waktu itu saya mengantar teman pulang ke Pandeglang naik kereta api dari stasiun Kebayoran Lama. Itu kan kumuh sekali. Kereta lama datangnya.

Terus, ngobrol sama tukang baju bekas. Namanya Tante Butet. Orangnya enak. Terus iseng kita cerita, "Kita punya cerita Tante, tapi nggak tahu judulnya." Dia bilang, "Kamu ceritakan sama aku apa ceritanya." Terus dia bilang, "Judulnya cewek saja itu cerita."

Terus aku pikir, iya juga. nggak nyangka kan di tempat seperti itu dapat usulan judul.

Bayar royalti dong?

Nggak pernah ke sana setelah itu.

Kalau sebagai penulis murni begini, bagaimana yang hasilnya? Bisa untuk hidup?

Bagaimana ya...

Kalau dari ajegtivitas (Ia tertawa menyebut kata ajeg atau tetap yang ditambahi imbuhan bahasa Inggris), di bank jenjang karir jelas. Terus tunjangan-tunjangan ada. Istilahnya, kerja nggak kerja, lu dapat gaji.

Ini, lu nggak kerja, nggak makan. nggak kreatif, lu ketinggalan. Cuma di sini kan persaingan murni.

Di bank, aku lihat, lu punya kemampuan saperti apa, tapi lu nggak punya channel di atas, ya sudah. Kalau nggak mentok, ya naiknya lambat.

Kan Fairish sedang dibikinin sinetron. Sudah lihat hasilnya?

Sudah sih?

Kecewa atau senang dengan hasilnya?

Aku nggak mengerti sih. Nggak mengerti sinematografi. Dan aku nggak mengerti kalau dari novel ke film ternyata susah sekali.

Karena aku lihat susah banget dan aku nyaksiin pontang-ponting sutradara, para pemain, dan kru-krunya, aku menghargai. Lepas dari aku suka atau tidak sama sinetronnya.

Pertama dengar mau disinetronkan, reaksinya bagaimana?

Aku bisa jebol Gramedia saja sudah seneng. Jadi ketika disenetronkan, ya seneng. Dan kemudian aku ditelepon sama PH, bikin naskah ini, bikin naskah itu.

Skenario nggak coba buat?

Lagi belajar.

Karena duitnya lebih banyak?

Bukan, tapi dulu aku ditawarin bikin skenarionya. Aku bilang, mau menunggu nggak. Mau nunggu aku belajar. Mereka bilang nggak sempat. Nungguin belajar kayaknya lama. Aku bilang, terserah cari siapa penulis skenarionya.

***