Home
Arsip
Cerita Sampul
Info
Kolom
Percakapan
Perpustakaan
Rehal
Sketsa
Sudut Lipatan
Surat
Tips
Ulasan
Wajah Penerbit
 

 

 
Edisi 18 Juni 2005

K O L O M

Kurniawan

Lorong-lorong Imajinasi


Sejak pertama membaca naskah novel ini, pada Agustus 2003, di tengah kesibukan kerja dan tetek bengek lain, saya menangkap bahwa Lorong ke Pusar Rumah Arie MP Tamba ini tak bisa diabaikan begitu saja. Tapi, kalau boleh jujur, kesan pertama membaca novel ini: membosankan. Tentu saja, novel ini bukan fiksi yang menyajikan begitu saja sepotong pisang goreng hangat di tengah hujan menggigilkan, tetapi perlu pemeriksaan tersendiri yang mengijinkan orang memasuki imajinasi yang dibangunnya.

Secara ringkas novel ini saya gambarkan demikian: tak ada nama tokoh, dialog yang seupil, repetisi di sana sini.

Plotnya sangat "klasik"2. Di sebuah kota tinggallah dua keluarga besar dan kaya raya yang saling bermusuhan. Permusuhan ini sudah berawal sejak lama, turun-temurun, hingga ke turunan terkini yang semakin melebarkan kekayaan masing-masing keluarga. Pada turunan yang kesekian, permusuhan itu pecah dalam persaingan bisnis. Tapi, permusuhan yang mendarah daging itu juga harus menghadapi kenyataan lain: setangkai bunga cinta bersemi di antara dua orang dari kedua keluarga yang bermusuhan itu. Cinta itu menggelegak, tak tertahankan, dan mengerdilkan segala alasan mengapa leluhur mereka berseteru. Sepasang kekasih itu memberontak keluar dari garis leluhur mereka, bersembunyi di sebuah rumah di ujung sebuah lorong, hingga melahirkan seorang bayi gagu. Si gagu tumbuh, lalu lari dari lorong itu, dan menjadi asuhan keluarga muda kaya.

Apa yang diharapkan pembaca dengan materi novel semacam itu? Arie dalam sepucuk emailnya kepada saya menyebut novel ini sebagai sebuah "eksperimen". Eksperimen macam apa yang ditawarkannya?

***

Salah satu hal yang menarik dari Lorong adalah bagian-bagiannya yang seakan dapat dilepas begitu saja dan dibaca secara mandiri. Saya kira ini terkait dengan kemampuan Arie Tamba sebagai seorang cerpenis, orang yang terbiasa membingkai sebuah cerita dalam ruang yang terbatas.

Kemandirian bagian-bagiannya ini dapat dibandingkan dengan dua novel lain yang punya ciri serupa, Cala Ibi-nya Nukila Amal dan Medan Perang-nya AS Laksana. Potongan-potongan Cala Ibi dan Medan Perang dapat dibaca terpisah, bahkan pernah dimuat sebagai cerpen mandiri di jurnal Kalam dan harian Koran Tempo.

Namun, secara keseluruhan, Lorong mengingatkan saya pada pendapat José Ortega y Gasset. Intelektual humanis Spanyol itu menilai bahwa rincian setiap novel tak lain dari gambar air (watermark) rahasia Don Quijote Miguel de Cervantes, sebagaimana setiap puisi epik mendekati Iliad Homer3.

Dalam Meditaciones del "Quijote"4, Ortega menggambarkan bagaimana situasi kita, pembaca, pada saat menamatkan sebuah novel sampai pada keganjilan bahwa kita tiba-tiba dicerabut dari sebuah dunia, dunia novel itu. "Tampak bagi kita bahwa kita tiba-tiba mucul dari eksistensi yang lain, bahwa kita keluar dari sebuah dunia di luar komunikasi dengan dunia otentik kita."

Kita berenang di lautan tak terbatas dari dunia yang dibangun sebuah novel, asyik sendiri menikmati setiap pemandangan, bisikan, dan keajaiban yang disajikannya. Lalu, ketika kita menyembulkan kepala keluar dari lautan itu, kita temukan diri kita tengah duduk di sebuah ruang tunggu stasiun kereta api atau sebuah halte bus yang bising. Bagi Ortega, novel adalah sastra yang menghasilkan efek demikian, suatu efek dari "kekuatan akbar, unik, mulia, dan magis dari kekuasaan bentuk sastra modern."

Saya kira Lorong menghampiri bentuk semacam itu dengan caranya sendiri. Pengecualian terakhir ini berkaitan dengan titik tumpunya yang berbeda dengan Quijote yang jadi acuan Ortega. Ortega sangat menghargai pengalaman (kehidupan) individual sebagai realitas fundamental. Hal ini sinambung dengan hablurnya realitas dan ilusi dalam Quijote yang bergantung pada persepsi Don Quijote.

Lorong tidak menekankan hal demikian. Sebaliknya, dia mempersepsikan dunia dari banyak sudut, menghadirkannya satu per satu dalam berbagai kesempatan atau pada kesempatan yang sama, bahkan kadang persepsi pengarang hadir di sana sebagai komentator.

Keragaman persepsi yang bersifat fenomenologis ini muncul dalam Lorong, misalkan, dalam percakan para penghuni lorong itu mengenai rumah di ujung lorong. Saya coba kutipkan beberapa poin dari perdebatan "di warung kopi" itu.

Persepsi 1 (halaman 101):
"Di sekeliling rumah bertingkat itu terdapat pagar tinggi yang terbuat dari besi perak yang bercahaya sepanjang musim. Dari kejauhan, rumah itu seperti istana mungil yang dihuni oleh para dewa bersayap mungil. Jauh namun sangat dekat di dalam kesadaran, terpencil namun berada di dalam keramaian pikiran yang paling miskin khayalan sekalipun. Di bawah langit siang, rumah itu ibarat matahari lain di tengah alam semesta yang dapat menerangi sekitar dari kegelapan jenis apa pun. Dan di pagi hari kalian akan terpukau, karena ternyata di dunia ini ada rumah seperti itu... Tentu saja, penghuninya adalah dewa perempuan dan dewa lelaki bersayap mungil dan lucu itu. Lalu, seorang anak dewa yang sayap mungilnya sedang tumbuh dari hari ke hari, juga terlihat kadang-kadang mengitari halaman rumah...."

Persepsi 2 (halaman 102):
"Di sana tak ada pagar. Cuma ada semak-semak rimbun tak terurus yang hampir mati oleh polusi pabrik di dekat situ. Tak ada pagar besi dari perak. Tak ada keheningan. Di sana segalanya berisik oleh deru mesin pabrik yang sampai ke tempat itu, dan aku belum pernah melihat suami-istri serta anaknya berjalan-jalan mengitari rumah mereka. Mereka bertiga hidup dalam pikiran dan kesendiriannya masing-masing. ...Kalau aku tak salah duga, mereka, ya, suami-istri itu, pastilah dua orang buronan polisi yang sedang bersembunyi dengan harta rampokan mereka...."

Persepsi 3 (halaman 102):
"Di ujung lorong hanya ada sebuah rumah kosong yang tak pernah dihuni lagi oleh siapa pun. Ya, dulu kabarnya rumah itu pernah dihuni oleh sepasang suami-istri dan seorang anak mereka. Sepasang suami-istri itu adalah pelarian dari dua keluarga hartawan yang saling bermusuhan. Dua keluarga yang akhirnya tak bisa menghindari kenyataan, bahwa masing-masing anak sulung mereka saling mencintai dan memilih kawin lari. Dan dalam pelarian itu, si anak pun dilahirkan...."

Bila kita anggap persepsi para tetangga itu sebagai fakta, maka fakta itu sangatlah membingungkan. Tentang asal usul suami-istri di lorong itu mungkin tak ada tetangganya yang mengetahui persis, sehingga imajinasi masing-masing sah-sah saja bekerja semena-mena.

Tapi, bagaimana dengan bentuk fisik rumah itu? Saya kira di sinilah Arie bermain-main dengan persepsi fenomenologisnya. Perdebatan soal rumah itu menjadi humornya, namun patut diduga ini bersumber dari pencerapan subyektif dari setiap tokoh yang berpendapat itu yang memuat harapan mereka masing-masing.

Tapi, perdebatan soal rumah itu dapat pula menjadi sebuah ilusi waktu. Kita tak tahu persis-dan Arie juga tak pernah eksplisit menyebutnya-kapan perdebatan itu terjadi. Persepsi 3 yang mengklaim bahwa "Di ujung lorong hanya ada sebuah rumah kosong yang tak pernah dihuni lagi oleh siapa pun..." dapat mengacu bahwa pendapat itu muncul setelah segalanya berakhir.

Boleh jadi, hal-hal semacam inilah yang dimaksud Arie sebagai eksperimen. Arie merayakan imajinasinya dengan bentuk-bentuk humoris semacam ini. Dan, dengan kekuasaannya sebagai author, dia tak merasa perlu menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi.

Permainan imajinasi itu hadir baik dalam berbagai bentuk. Dapat dalam percakapan seperti di atas. Atau, dalam kesaksian seorang tokoh (pengalaman seorang pengumpul barang alumunium bekas yang bertemu banyak si gagu). Atau, dalam mimpi (kisah seorang penghuni lorong yang bertemu si gagu memegang sebuah bejana emas di tepi danau yang sarat ikan).

Tapi, kesewenangan imajinasi ini tetap dipertahankannya dalam sebuah koridor: plot, yang sesungguhnya relatif ketat. Bahkan, apa yang terjadi nanti sudah diantisipasi dan disampaikan sejak awal-sesuatu yang mengingatkan saya pada teknik bercerita Gabriel García Márquez, terutama dalam 100 Years of Solitude.

Dengan humor dan ironi di dalamnya, plot "klasik" Arie ini menjadi satir bagi dua dunia yang berseberangan: si kaya dan si miskin. Ada ironi dalam setiap khayalan penghuni lorong itu tentang keluarga di ujung lorong. Adalah menggelikan, bagaimana si gagu yang tak pernah mengecap bangku sekolahan itu bisa jadi "konsultan" perusahaan, bahkan lebih baik dari pemiliknya. Ada humor menyakitkan kala sepasang pengantin kaya merayakan bulan madunya di sebuah hotel besar dengan mematikan lampunya sepanjang malam hanya untuk mempermalukan keluarga musuhnya yang hendak merayakan ulang tahun cucu pertama mereka.

Dengan Lorong ini setidaknya suatu bentuk novel satir kembali muncul.

[*]
  1. Wartawan Koran Tempo dan Pemimpin Redaksi Cybersastra.net.
  2. Saya kira polot Lorong, terutama bagian awal, mirip Romeo and Juliet (1597)-nya William Shakespeare, yang bersumber dari puisi penyair Inggris, Arthur Brooke, The Tragicall Historye of Romeus and Juliet (1562).
  3. José Ortega y Gasset, Obras completas (1950-1961), dalam Stephen Gilman, The Novel According to Cervantes (1989).
  4. Ibid.