Registrasi
 
Tentang kami
 
Hubungi kami
 
advance search
 
 
 
 
 
 
  Home
  Berita buku
  Forum diskusi
  Profil pengarang
  Kelas baca
  Agenda
  Ruang Baca
  Edisi November 2009
 




 
  Selasa | 07 | 07 | 2015 | 05:06
Resensi Anda Topik bulan ini | Buku bulan ini | Kantong ide | Resensi anda

Geni Jora

Penulis Abidah El Khalieqy
Penerbit MAHATARI
Tahun 2004, cetakan I
Tebal 222 hal.

Rating *****

Nama tokoh utama cerita ini adalah Kejora, Dewi Venus, bintang pagi yang tampak paling benderang di antara berjuta bintang di langit. Matanya belok, seperti boneka cantik dari negeri Antah (Heran, kenapa ya tokoh wanita dalam novel dan film selalu saja dikatakan cantik. Kapan ya yang tidak cantik mendapat peran utama? Paling-paling perannya sebagai antagonis : nenek sihir culas, ibu tiri jahat atau pembantu rumah tangga bagian bodor-bodoran. Kata temanku, kalau tidak cantik nanti ceritanya jadi tidak menarik, akibatnya buku atau film itu jadi tidak laku) Kejora juga cerdas, selalu ranking satu di kelas. Ia pun gadis mandiri dengan cita-cita tinggi : mendobrak dominasi laki-laki.

Untuk seorang anak dari seorang ayah yang tunduk patuh pada ajaran-ajaran Islam, agak aneh juga ia dinamai Kejora. Kakak perempuannya (yang juga jelita) bernama Bianglala. Kedua saudara lelaki mereka bahkan bernama Samudra dan Prahara. Biasanya, ayah (dalam budaya kita, ayahlah yang lebih berhak memberi nama anaknya, meskipun ibu yang setengah mati mengandung dan melahirkannya) yang islami akan memberi nama anak-anaknya, jika perempuan, memakai "Siti" dan jika lelaki, akan memakai "Muhammad" Tapi sudahlah, tidak terlalu penting bukan soal nama-nama itu. What's in a name, kata Shakespeare lebih seabad yang lalu.

Terlahir dari seorang ibu berstatus istri kedua, Kejora bersaudara tumbuh di dalam rumah besar dengan tiga dinding tinggi tebal mengurung mereka seperti sebuah harem, hanya bagian pintu pagar saja yang agak terbuka memperlihatkan dunia luar. Ibu tirinya, istri pertama ayahnya, tinggal di dalam harem itu juga. Rumahnya dengan rumah mereka beradu punggung, hanya dipisahkan oleh sebuah halaman seluas lapangan bulutangkis. Kejora kecil hanya dibolehkan ke luar halaman untuk sekolah dan les bahasa Arab. Sementara, adik lelakinya, Prahara, boleh bermain sepuasnya di luar rumah dari pagi hingga petang.

Ketika ia dan Lola (nama panggilan Bianglala) menginjak remaja, mereka mulai naksir pemuda sebelah rumah. Setiap pagi, kedua gadis cilik itu memanjat pohon yang banyak tumbuh di halaman rumah mereka, demi mengintip pemuda tetangga keturunan Arab bernama Ali Baidawi alias Alec Baldwin, jogging. Memanjat pohon dan mengintip Alec Baldwin adalah bentuk perlawanan terhadap perlakuan diskriminasi orang tua (ayah, ibu, paman dan nenek) mereka.

Lihatlah, Nek! Kau telah gagal membentengi diriku. Tamengmu tameng semu. Terbukti cakrawalaku lebih menghampar dari halaman rumahmu. Langitku lebih lebar dari atap rumahmu. Pemandanganku lebih luas dari kisi-kisi jendela karatmu. Dari atas pendakianku, terlihat semua yang kau tutupi dan terbuka semua yang kau sembunyikan. Milikku adalah semesta penglihatanku dan milikmu, Nek, sebatas tempurung buntu. Kaulah "katak dalam tempurung" sang waktu. (hal. 77)

Rumah tangga orang tuanya benar-benar sebuah lembaga patriarkhi yang memberi tempat utama bagi lelaki. Sementara perempuan seperti dirinya, ibunya, ibu tirinya, dan Lola, hanya berada di urutan kedua. Selalu ke dua, meski ia jauh lebih cerdas dari adik lelakinya itu. Neneknya, oleh sebab lama berada di bawah dominasi para lelaki, akhirnya justru menjadi salah satu agen patriarkhi di rumah tersebut. Kesemua ini membuat Kejora tumbuh dengan sebuah "dendam" di hati. Dendam kepada penguasaan para lelaki.

Selanjutnya, Kejora, oleh ayahnya, disekolahkan ke pesantren paling top di kotanya. Dari sinilah saya jadi tahu seluk-beluk kehidupan para santri, khususnya santri putri, yang tentu saja berbeda dengan sekolah-sekolah umum. Di pesantren ini, para santrinya dididik dengan aturan dan disiplin keras berdasarkan syariat Islam. Tentu diajarkan pula ilmu pengetahuan umum lainnya, tidak semata-mata pelajaran agama saja. Dari sini, kelak diharapkan akan lahir perempuan-perempuan muslim cerdas dengan pengetahuan dan ilmu yang tak kalah hebat dibanding mereka yang jebolan sekolah umum. Kejora mewakili gambaran seorang santri ideal tersebut. Ia yang berpikiran moderat kerap kali mendebat para ustadznya terutama untuk hal-hal yang dirasa mengganggu logikanya.
"Sebutkan hal-hal yang membatalkan salat"
"Hanya ada satu hal, Ustadz"
"iya. Sebutkan"
Aku mendehem dan memandang ragu ke arah Ustadz Mu'ammal yang tak acuh dengan soalnya. Pedulikah ia dengan jawabnya?
"Tidak memiliki imajinasi" (hal.33)

Mungkin sudah menjadi watak remaja di seluruh bumi : memberontak. Tak terkecuali di pesantren "galak" ini, ada saja santri-santri badung yang senangnya melanggar peraturan dan disiplin pesantren. Ada persaingan akademis yang berbuah kecemburuan, ada geng-gengan yang saling bermusuhan, sampai dengan skandal asmara sejenis alias lesbianisme. Tak terhindarkan memang, mengingat sehari-hari yang mereka temui dan gauli adalah kaum sejenis. Sudah tentu, lesbianisme merupakan barang haram di pesantren tersebut dan pelakunya pasti diganjar hukuman rotan.

Penulisnya, Abidah El Khalieqy, mengisahkan isi perut pesantren dengan fasihnya. Tak heran, sebab ia adalah jebolan Pesantren Putri Modern PERSIS di Bangil, Pasuruan. Bisa jadi sebagian kisah Kejora ini merupakan petikan pengalamannya semasa menjadi santri. Pun, saat cerita sampai pada Kejora yang melanjutkan kuliahnya di Maroko, tentu sedikit banyak diambil dari pengalamannya mengikuti berbagai konferensi perempuan Islam di manca negara.

Novel Geni Jora ini sarat dengan gugatan seorang perempuan muslim terhadap persoalan gender : pendidikan yang amat diskriminatif bagi perempuan, poligami, lesbianisme, dominasi laki-laki, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta seksualitas perempuan. Bentuk perlawanan itu tampil dalam sosok seorang feminis muslim, Kejora yang, sayangnya, terlalu sempurna.

Dalam penyampaiannya, Abidah tampak amat lepas dengan kalimat-kalimatnya. Ia bisa dengan ringan membahas semua hal di atas dengan bahasa yang lugas tanpa kehilangan keindahannya. Saya bahkan banyak mendapati rangkaian kalimat puitis berima, seperti : Aku bangkit berdiri. Menjarak dari sajadah bumi dan berjalan menuju diri. Dalam sunyi 00.00. Dini hari. (hal.128)
Ia juga dengan cukup berani menampilkan percintaan Kejora dan Zakky penuh gelora dan keterusterangan : bahwa perempuanpun berhak atas kebahagiaannya serta boleh berinisiatif dalam, ataupun menolak, segala hal, termasuk urusan cinta dan seks.

Budaya Arab yang identik dengan Islam (Abidah banyak mengutip ayat-ayat Al Qur'an dan menyelipkan istilah-istilah bahasa Arab) melatarbelakangi kehidupan para tokohnya : Ibu tiri Kejora, Fatmah, adalah wanita Arab. Pemilik pesantren juga orang Arab. Demikian halnya dengan Zakky, kekasih Kejora, dan Elya, karibnya serta Si Pemuda Tetangga, Alec Baldwin. Abidah memberikan kritiknya terhadap mereka yang mengaku Islam namun sikap dan perbuatannya amat jauh dari nilai-nilai Islami. Ajaran-ajaran Islam sering disalahgunakan justru sebagai tameng dan pembenaran bagi tingkah laku menyimpang yang seringkali berakibat ketidakadilan bagi perempuan (misalnya : poligami). Abidah merindukan dunia yang mengakui kesejajaran hakiki antara pria dan wanita, ( Ah...sobat, apakah itu bukan sekedar utopia mengingat dunia ini sangat penuh lelaki yang tak ingin "hak-haknya" dikurangi, sebab itu, buat mereka, sama artinya dengan berkurangnya kenikmatan hidup)

Sebelum Geni Jora yang ke luar sebagai pemenang ke dua Sayembara Novel 2003 versi DKJ, Abidah telah banyak menulis novel lain, di antaranya : Ibuku Laut Berkobar (1997), Perempuan Berkalung Sorban (2000), Menari di Atas Gunting (2001), dan Atas Singgasana (2002).

--Endah Sulwesi


Komentar | Kirim Komentar


Kirim resensi | Baca resensi | Arsip
 
  Copyright Tempo 2005 busana muslim