Dunia Baru dalam Klub Baca
Suara tawa membahana di ruang tamu pendeta di First Church, Cambridge, Massachussets. Di ruang bercat oranye muda itu berkumpul puluhan perempuan dari berbagai ras dan agama, Yahudi, kristiani, dan muslim. Mereka tengah tenggelam dalam pembahasan novel Gilead. Novel itu berkisah tentang perjuangan seorang pendeta kristiani di Iowa.
Latar belakang yang berbeda tidak menyulitkan para perempuan itu mendiskusikan hal yang selama ini dianggap sensitif oleh mayoritas orang. Persahabatan yang dalam telah menyatukan para perempuan Massachussets itu.
Anak cucu Ibrahim, begitulah anggota klub baca itu menamai diri mereka. Sejak tiga tahun belakangan, mereka berkumpul sebulan sekali di ruang pendeta itu. Banyak yang mereka bahas, tapi sebagian besar berkisar tentang dialog agama dan keseharian mereka.
Menurut Pendeta Anne Minton, tuan rumah yang sibuk di malam itu, pertemuan tersebut bertujuan untuk meningkatkan rasa saling menghargai di antara para pemeluk agama. "Menakjubkan. Hubungan dan dialog yang kami jalin kian lama kian mendalam," katanya.
Klub baca ini awalnya terbentuk secara kebetulan saja, persis setelah serangan 11 September 2001. Di malam tragedi itu, sejumlah warga lintas agama berkumpul di First Church untuk melakukan perkabungan.
"Peristiwa malam itu sangat menakjubkan dan kami larut dalam tangisan," kata pendiri klub baca, Edie Howe. Menurut Howe, banyak warga muslim Massachussets yang datang dalam acara perkabungan malam itu. "Saya tidak mungkin lupa. Seorang perempuan berkerudung menangis terisak-isak di samping saya," kata Howe.
Setelah malam perkabungan itu, Howe mulai berpikir keras apa yang bisa ia lakukan selanjutnya. Ide membentuk klub baca itu muncul karena ia menganggap lewat buku komunikasi dapat terjalin.
Howe menghubungi sejumlah perempuan Yahudi dan muslim untuk berkumpul dan berdialog. Tidak kurang dari 18 warga Massachussets dari berbagai ras dan agama berkumpul pada malam 18 September 2002 untuk pertama kalinya.
Rona Fischman, perempuan Yahudi dan aktivis sinagoge lokal, mengatakan ia menaruh banyak harapan pada komunitas buku itu. "Saya ingin meraih banyak manfaat dari klub baca ini," kata agen real estate ini.
Menurut dia, perkembangan dunia setelah serangan terorisme membuatnya tidak dapat mengabaikan Islam. "Saya merasa tidaklah adil jika Yahudi dan kristiani hanya memiliki sedikit sekali pemahaman tentang Islam. Begitu juga sebaliknya," kata Fischman.
Karena merupakan klub baca, masing-masing anggota berembuk untuk menentukan daftar bacaan yang mendukung dialog mereka. Prioritas bacaan ditentukan berdasarkan kesepakatan. Sebuah buku sebulan dan berasal dari salah satu di antara ketiga agama itu.
Bacaan mereka merentang dari novel, puisi, sejarah, filsafat agama, hingga memoar. Puisi-puisi masa kejayaan Parsi, misteri permandian dalam tradisi Yahudi, serta eksplorasi kejahatan dan kebaikan dalam The Screwtape Letters karya C.S. Lewis juga mereka bahas.
Di musim panas tahun silam, kelompok ini bahkan berkonsentrasi membaca dan membahas sejumlah karya tentang Timur Tengah. Perang Salib di Mata Arab adalah buku yang direkomendasikan kelompok ini. "Bagus karena orang-orang Barat seperti saya tidak punya pemahaman tentang itu," kata Fischman.
Sementara itu, Pendeta Minton mengaku amat terkesan pada The Rock, sebuah novel sejarah karya penulis Irak, Kanan Makiya. Novel itu berkisah tentang pembangunan Kubah Al-Sakhrah di Yerusalem.
Novel itu menyajikan informasi tambahan yang diambil dari sudut pandang Yahudi, kristiani, dan Islam. "Menakjubkan karena Anda menemukan keterangan yang sama dari sudut pandang ketiga agama itu tentang kota suci Yerusalem," kata Minton.
Sepi Gilani, seorang dokter muslim dan ibu seorang anak, mengaku ia terkesan pada novel Lying Awake. Novel ini berkisah tentang seorang biarawati yang mengabdikan hidupnya untuk agama setelah kehilangan orang yang ia cintai.
"Buku itu mengingatkan saya pada nenek saya di Iran, yang menghabiskan waktunya untuk berdoa, bersembahyang, dan membaca Quran setelah kematian kakek," kata Gilani.
Buku itu juga mengingatkannya pada kehidupan pribadinya, di negara yang jauh dari akar budayanya. "Saya hidup di sebuah tempat yang seluruh denyut jantung kita diatur oleh hal-hal yang serba sekuear," katanya. "Tuhan menjadi urutan yang kesekian dalam hidup."
Persahabatan buku ini tidak berhenti sampai di situ saja. Beberapa bulan silam, sejumlah anggota klub melancong ke Spanyol dan menziarahi tempat-tempat bersejarah dalam peradaban muslim, kristiani, dan Yahudi. "Tahun depan kami mungkin akan berkunjung ke Yerusalem," kata Pendeta Minton.
Para anggota klub juga saling menjaga pertemanan di luar aktivitas membaca. "Kami kerap mengadakan acara makan siang bersama dan membantu anggota yang sedang kesulitan atau sakit," kata Gilani. Sebuah dunia yang lebih luas merentang di dalam sebuah klub baca. ANGELA DEWI | THECHRISTIANSCIENCEMONITOR
Membaca, Menulis, Lalu Menerbitkan
Ekspresi mungkin bisa jadi contoh betapa digdayanya sebuah kelompok baca. Bermula dari lembaga pers mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, sejak dua tahun belakangan kelompok ini memiliki divisi komunitas cinta baca.
Sebagai lembaga pers, selain menerbitkan majalah dan buletin, Ekspresi mengembangkan budaya intelektual. "Membaca dan mendikusikan buku adalah salah satunya," kata Sismono La Ode, pemimpin umum Ekspresi.
Tradisi yang dikembangkan Ekspresi ini sudah membuahkan hasil. Dari sekadar diskusi buku, kelompok ini berhasil menelurkan beberapa penulis. Sebut saja Muhidin M. Dahlan yang melejit dengan novelnya Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur, atau Herlinatiens dengan novelnya Garis Tepi Seorang Lesbian.
Alumni Ekspresi juga banyak yang terlibat di berbagai penerbitan buku, terutama di Yogyakarta. Boleh dibilang, Ekspresilah penguasa penerbitan di Kota Pelajar itu. Jendela, Melibas, Pinus, dan beberapa penerbit lainnya diawaki oleh anggota Eskpresi.
Saat ini, setidaknya sekali dalam dua pekan para anggota berkumpul. Pesertanya antara 10-15 orang. Tema yang dibahas pun beragam. Tidak hanya sebatas buku, tapi bisa juga bahasan utama sebuah majalah.
Kiprah yang lebih luas juga tampak pada Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI). Kelompok yang dimotori dan didirikan oleh Pandu Ganesa ini menghimpun para pencinta karya Karl May.
Awalnya hanya berdiskusi di dunia maya, kelompok ini sekarang berhasil menerbitkan ulang karya May dalam bahasa Indonesia. Tidak lagi bergantung pada penerbit buku. Terjemahan dan kualitas bukunya tentu saja lebih baik dari versi terjemahan awalnya.
PKMI bahkan sudah berani menggelar pameran di berbagai tempat. Dalam sebuah pameran buku di gedung Depdiknas, Jakarta, baru-baru ini, mereka berhasil menjaring para peminat buku. Dagangan mereka pun laris manis.
Menurut Pandu, dalam 9 hari pameran, buku trilogi Winnetou (Winnetou I, II, III) terjual 637 eksemplar, Kara Ben Nemsi I dan III (Menjelajah Gurun dan Petualangan di Kurdistan) laku 164 eksemplar, Kumpulan cerpen (Gurun & Prairie I) terjual 65 eksemplar, dan buku pengantar (Menjelajah Negeri Karl May) laku 63 eksemplar. ANGELA
|