Diskusi Sastra Indonesia dan Sastra Dunia Tempat :Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta Waktu :05 Mei 2006 ,15.00 WIB
Banyak yang mempertanyakan mengapa sastra Indonesia belum juga memasuki blantika sastra dunia. Tak ada Hadiah Nobel yang pernah diganjarkan untuk karya sastra sastrawan Indonesia hingga hari ini. Bahkan karya sastra Indonesia pun konon tak bisa banyak bicara di lingkup masyarakat senegeri. Karya sastra Indonesia masih terasing di wilayah kulturnya sendiri. Karya sastra Indonesia dibicarakan masih sebatas dalam komunitas sastra(wan) Indonesia saja dan tak dikenal oleh masyarakat Indonesia.
Benarkah karya sastra Indonesia memang tak memiliki standar sebagai karya sastra dunia, mengapa?
Di tengah perkembangan teknologi komunikasi seperti saat ini, kecakapan berbahasa asing, dan terjemahan karya sastra dunia ke bahasa kita yang kian menjamur, akses terhadap informasi karya sastra dunia dan informasi global lainnya bukanlah urusan yang mustahil. Bahan dan medium untuk bergaul dengan karya sastra dunia dan informasi global yang tersedia itu semestinya bisa menjadi sumber ilham atau pembanding untuk para sastrawan kita untuk menciptakan karya sastra yang lebih berkelas di tingkatan atau level sastra dunia.
Sebagai upaya menemukan "jawaban" atau pemikiran lain dari masalah itu, maka kami mengadakan diskusi.
Pembicara:
- Harry Aveling (Peneliti sastra Indonesia dari Australia)
- Nirwan Ahmad Arsuka (Redaktur Tamu Bentara Kompas)
Moderator:
Wicaksono Adi (Penulis dan Redaktur majalah film F)
Diskusi ini kerja sama Bale Sastra Kecapi, Harian Kompas, dan Bentara Budaya Jakarta.
Jakarta, Maret 2006
Koordinator,
Binhad Nurrohmat
|